Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 158


__ADS_3

Di rumah besar Aditama, Putri nampak tiduran di kamar yang biasa ia tempati ketika Putri datang ke rumah besar keluarga Aditama.


Di ruang tengah, sedang ada tamu? yakni orang tua kak Anggia, yang datang untuk membahas pernikahan anak anak nya. Mereka semua terdengar tertawa di ruang tamu, sedangkan di dalam kamar Putri sedang sakit perut, karena sudah tidak kuat menahan sakit akhirnya Putri menelfon Erlan suaminya, namun sampai panggilan ke 3 tak kunjung juga di angkat oleh orang yang punya HP.


''Mas Erlan kemana sich? kok nggak di angkat githu Putri nelfon,'' Gumamnya pelan.


Tiba-tiba ada sesuatu yang mengalir di bawah sana, yang membuat Putri merasa takut, Putri takut terjadi sesuatu pada kedua bayinya. Putri keluar dari kamar nya menuju ruang tengah di mana di sana sedang mengobrol serius dengan calon besannya.


''Bu?'' panggil Putri dengan lirih, karena merasakan perut nya yang sudah begitu sakit, Putri berjalan dengan tertatih Ratih dengan berpegangan pada tembok dinding rumah Aditama.


Merasa adanyang memanggil, Bu Widya menoleh ke arah kamar Putri dan di sana Putri sudah berdiri di samping pintu kamar nya, wajah pucat nya membuat Bu Widya terperanjat kaget dan dengan segera Bu Widya menghampiri Putri yang sedang memegang perut besar nya.


Sedangkan di bawah lantai sudah basah karena cairan tersebut terus keluar dari kewanita'an nya.


''Sayang kamu nggak apa apa kan? ya Tuhan!'' pekik Bu Widya yang membuat semua orang terperanjat kaget.


''Bryan, Bryan!!'' teriak Bu Widya panik karena Putri akan segera melahirkan.


''Ada apa sich Ma? teriak teriak githu,'' jawab Bryan dengan santai nya.


''Cepat bawa Putri ke rumah sakit sekarang, di akan melahirkan,'' seru Bu Widya khawatir.


''Katanya masih dua minggu pagi kok Ma?'' sambung Anggia, yang tau kalau tanggal kelahiran Putri 2 minggu dari sekarang.


''Sudah ayo cepat,'' titahnya dan berlari menghampiri Putri yang sudah duduk lemas di lantai. Bryan yang juga ikutan berlari segera menggendong Putri yang sudah lemah tanpa tenaga.


''Kak Bryan?'' lirih nya ketika di gendong oleh kakak angkat nya.


''Iya, kamu sabar ya, kakak akan bawa kamu ke rumah sakit,'' jawab Bryan.

__ADS_1


''Putri takut takut kak,'' gumamnya pelan.


''Pa? Papa cepat tl hubungi Daniel dan Erlan, bilang kalau Putri akan segera lahiran,'' titah nya dan berjalan mengikuti putera kedua yang sedang menggendong Putri. Anggia juga berada di samping Bryan calon suaminya.


''Sayang? kamu masuk lah dulu, biar kepala Putri di pangku sama kamu,'' Ucap Bryan pada Anggia. Anggia mengangguk dan masuk ke dalam mobil.


Dengan pelan Bryan menaruh tubuh Putri di jok belakang dengan Anggia calon istri nya. Lantas Bryan membuka pintu depan dan duduk di belakang kemudi, Bu Widya tak mau ketinggalan dia juga masuk ke dalam mobil Bryan yang sedang bersiap berangkat ke rumah sakit.


Di sisi lain, tepatnya di kantor Aditama Daniel dan juga Erlan terlihat buru buru menuju parkiran Kantornya, guna mengambil mobil nya.


''Bareng saja Pak? biar cepat,'' tawar Erlan pada tuan Daniel. tuan Daniel mengangguk dan memasuki mobil Erlan.


''Emangnya Putri nggak menghubungi kamu Erlan?'' tanya tuan Daniel datar.


''Maaf Pak, tadi ponsel saya di tinggal di ruangan, agar tidak mengganggu meeting kita,'' jawab Erlan lalu dia membuka ponsel nya, di lihatnya 3 panggilan dari sang istri.


''Sudah nggak di pikirkan lagi, Mama sudah membawa Putri ke rumah sakit. Sekarang kita harus cepat ke sana, mungkin Putri sedang membutuhkan kamu,'' jawab tuan Daniel.


*-*-*-*-*-*-*


Putri sedang berada di ruang bersalin setelah di periksa oleh dokter Erina, yang mengatakan kalau saat ini Putri sudah pembuka'an 8.


Di luar ruangan Bryan nampak tertegun melihat baju putih nya yang basah, akibat menggendong Putri untuk segera di bawa ke rumah sakit.


''Sayang, kamu mau ganti baju, biar anggy ambilkan di dalam mobil,'' tawar Anggia, yang mendapatkan gelengan pelan dari calon suaminya.


Setelah memeriksa Putri dokter Erina keluar dari ruang bersalin.


''Suaminya di mana, sekarang Putri sudah pembuka'an 8,dan sebentar lagi akan melahirkan, mungkin Putri butuh suaminya sekarang,'' tutur dokter Erina.

__ADS_1


''Dokter? boleh saya tanya, kenapa tanggal dengan persalinan nya tidak sama,'' tanya Bu Widya cemas.


''Itu hanya tanggal perkira'an saja Bu? mungkin bayinya ingin segera melihat dunia, dan bertemu dengan orang tuanya dengan cepat, sehingga mereka lahir lebih cepat dari yang di perkirakan.


''Bu? bagaimana keada'an istri saya,'' tanya Erlan cemas saat sudah berada di rumah sakit.


''Sekarang Putri sedang di dalam, kamu masuk lah. Putri sangat membutuhkan kamu di dalam,'' kata Bu Widya pada Erlan. Erlan pun masuk ke dalam dan melihat istri kecilnya sedang kesakitan dengan menggigit bibir bawahnya, agar tak mengeluarkan suara kesakitan nya.


''Maafkan mas sayang? ponsel mas tadi ketinggalan di ruangan, sedangkan mas lagi meeting di ruangan Pak Daniel,'' jelas Erlan dan mencium pucuk kepala Putri.


Putri menggeleng pelan, ''Nggak apa apa kok Mas?'' lirih nya.


Erlan mulai membaca surah Ar-Rahman dan membisikkan ke telinga sang istri, di pertengahan surah Putri menggenggam tangan suaminya dengan erat, Erlan terus membisikkan ayat ayat yang ia bacakan di telinga Putri.


''Mas...?'' desis Putri menatap wajah suaminya, Erlan yang di tatap langsung memencet bel di sebelah tempat tidur Putri.


Dokter Erina dan 2 suster masuk ke dalam ruangan persalinan, dokter Erina nampak melihat pembuka'an pada Putri, yang ternyata sudah pembuka'an sempurna, dan sebuah kepala sudah nongol di Rahim Putri. Lantas dokter Erina menyuruh Putri untuk menarik nafas dan mengejan, Putri mengikuti arahan dari sang dokter.


Dalam hitungan ketiga keluar lah seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan, selang 5 menit keluarlah bayi laki-laki.


Dokter Erina sempat kaget, ternyata bayi kembar Putri laki-laki dan perempuan. Suster membersihkan kedua bayi tersebut, Erlan menangis seraya menciumi pipi chubby sang istri, dan ia tak henti henti nya mengucapkan terima kasih pada sang istri yang mengembangkan senyum manisnya.


''Terima kasih sayang? Mas nggak tau harus mengatakan apa lagi pada kamu, mas bangga karena kamu sangat kuat dan hebat,'' tutur Erlan masih dengan tangisan nya.


''Pak Erlan, tolong adzani bayi Bapak,'' Ucap sang suster menghampiri Erlan yang masih menciumi istri kecilnya.


Erlan meng adzani mereka berdua dan juga iqomah. Lalu suster membawa bayi mungil itu keluar untuk di bawa ke ruangan bayi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2