Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 148


__ADS_3

Di Kalimantan Selatan, lebih tepatnya di Banjarmasin orang tua Erlan sedang bersiap siap untuk berangkat ke bandara, guna menemui putera dan juga menantunya yang berada di Jakarta.


''ayo Yah cepat, nanti ketinggalan pesawat nya lagi,'' teriak Bu Ristie pada Pak Enggar suaminya.


''Iya Bu? ini Ayah sudah selesai kok, tinggal ngambil handphone saja Bu, handphone Ayah ketinggalan di kamar, Ibu saja yang buru buru ingin bertemu dengan menantu nya, iya kan,'' seru Pak Enggar dari dalam, setelah memasukkan handphone nya ke dalam saku celananya, ia pun melangkah kan kakinya keluar dari rumah, Pak Enggar pun langsung mengunci pintu rumah nya, sebelum pergi menghampiri sang istri? yang sudah berdiri di teras rumahnya dengan melipat kedua tangan di dadanya.


''Ayah, lihat sendiri thu taksi online yang Ibu pesan sudah datang dan menunggu kita Yah?'' Ucap Bu Ristie seraya menunjuk ke arah taksi online yang ia pesan. ''Ayah saja yang selalu berpikiran sempit pada Ibu,'' lanjutnya lagi dengan kesal, karena ia tak mau di salahkan oleh sang suami.


''Ya sudah jangan ngomel ngomel terus, sebelum berangkat kita baca do'a dulu, supaya kita selamat dalam perjalanan sampai ke tujuan kita,'' Pak Enggar mengingat kan sang istri agar berhenti mengomel.


Setelah membaca do'a, dan syahadat Bu Ristie dan Ayah Enggar masuk ke dalam mobil yang sudah ia pesan sebelum nya.


Di perjalanan menuju ke bandara Bu Ristie terlihat diam, dia hanya menatap ke arah luar, memandangi suasana perkotaan Banjarmasin.


Ibu Ristie begitu menghawatirkan menantu nya yang pernah di rawat di rumah sakit beberapa hari lalu, jadi Bu Ristie memutuskan untuk menengok putera dan juga menantu kesayangan nya. Ya walaupun bukan hanya Putri saja menantu Bu Ristie, ada juga Felisha istri dari kakak nya Erlan, sang putera sulung tidak bisa mengantarkan orang tuanya ke bandara, karena sedang pergi ke rumah mertuanya, kakak Erlan menengok sang mertua yang sedang sakit? jadi Bu Ristie memaklumi putera sulung nya, karena bagaimana pun puteri nya selama ini sudah tinggal di rumah nya, dan sekarang giliran putera nya yang merawat Bapak dari istri nya.


''Abang tidak bisa mengantar kalian ke bandara Bu?'' isi pesan dari abang Erlan.


''Nggak apa apa Bang? lagian rumah mertua kamu jauh dari sini, Ibu dan Ayah berangkat nya pagi, kamu di sana baik baik dan jangan lupa jaga kesehatan juga,'' balas Bu Ristie pada putera sulung nya.


''Maafkan Abang Ibu,'' balas nya lagi.


Begitu lah isi pesan dari Abang Erlan yang tidak bisa mengantar kan orang tuanya pergi, bahkan sang Abang juga ingin ikut menyambangi adeknya yang sekarang sudah menetap di kota Metropolitan tersebut. Karena Felisha juga pengen melihat langsung seperti apa bentuk monas yang berada di pusat kota Jakarta, namun Allah malah berkehendak lain, beliau mempunyai rencananya sendiri dengan memberi penyakit pada sang mertua agar Abang Erlan dan juga Felisha tidak pergi ke kota Jakarta yang di penuhi dengan gedung gedung pencakar langit.


Beberapa jam sudah berlalu, dan kini Bu Ristie dan juga Pak Enggar sudah tiba di bandara soekarno-hatta, mereka mencari taksi untuk mengantar kan ke rumah Erlan dan Putri.

__ADS_1


''Pak, ke alamat ini ya?'' Bu Ristie menunjukkan sebuah kertas yang berisikan alamat rumah putera nya.


''Baik Bu,'' jawab sang sopir taksi.


Bu Ristie begitu takjub melihat kota Jakarta yang super indah dan juga padat dengan penduduk.


''Kalau hari hari biasanya seperti ini kah Pak?'' tanya Bu Ristie pada sopir taksi.


''Ya begitulah Bu, apalagi sekarang waktunya orang orang mau pulang dari kantor, pasti macet seperti ini,'' jawab sang sopir menjelaskan, yang langsung di angguki oleh Bu Ristie.


''Ngomong ngomong Ibu datang ke alamat ini mau nemuin siapa Bu?'' tanya nya spontan. ''Maaf Bu kalau lancang bertanya,'' lanjut nya lagi.


''Nggak apa apa kok Pak, di bawa santai saja mah kalau sama saya ini,'' canda Bu Ristie, sang sopir mentertawakan Bu Ristie yang omongan nya ngalah ngalahin anak muda saja.


''Kami berdua mau ke rumah putera kita yang beralamat kan itu Pak?'' jelas Pak Enggar.


''Maksud Bapak sopir apa ya, saya tak mengerti,'' sambung Bu Ristie.


''Yang punya rumah di alamat ini semua nya orang kaya Pak, Bu? semua nya pada bekerja di kantoran dan juga berpenghasilan besar,'' jelasnya.


''Alhamdulillah kalau gitu Pak? kami sebagai orang tua nya ikut senang mendengar nya,'' Pak Enggar menimpali ucapan sopir taksi tersebut.


''Iya Pak, saya ikut senang juga bisa mendapatkan penumpang yang seramah Bapak dan juga Ibu,'' gumam nya.


''Emangnya kenapa Pak, apa setiap penumpang Bapak yang minta di antarkan, bersikap angkuh, sombong, dan juga judes gitu pada Bapak,'' tanya nya beruntun.

__ADS_1


''Bu? dengerin dulu apa yang mau di katakan Pak sopir,''


''Ya begitu lah Pak, Bu. Ada juga yang ramah namun kebanyakan para penumpang nya pada bawel dan banyak maunya,'' jawab Pak sopir dengan lirih, karena ada sebagian dari mereka yang semena mena pada sang sopir.


30 menit kemudian mobil yang di tumpangi orang tua Erlan sampai di depan gerbang rumah putera nya. Pagar besi yang menjulang tinggi di depan rumah nya Erlan.


Sopir taksi membunyikan klakson mobilnya agar penjaga rumah membantu membukakan pintu gerbang nya.


''Mas? siapa yang membunyikan klakson di depan?'' tanya Putri yang sedang tiduran di paha Erlan suaminya.


''Nggak tau sayang? Mas lihat dulu ke depan ya,'' sahut nya, dan mengambil bantal sebagai alas kepala istri kecilnya.


Erlan beranjak dari duduk nya, berjalan menuju pintu utama, di depan gerbang sudah ada Pak Joni yang bertugas jaga di rumah baru nya. Pak Joni nampak sedang mengobrol dengan seseorang di dalam mobil.


''Siapa Pak?'' tanya Erlan saat sudah berada tak jauh dari Pak Joni.


''Ini Mas Erlan, ada...?''


''Buka saja Pak gerbang nya, biarkan taksinya masuk,'' potong Erlan yang langsung di angguki Pak Joni.


''Baik Mas?'' Pak Joni membuka gerbang rumah Erlan, ''Silahkan Pak, tuan sudah mengijinkan masuk,'' lanjut Pak Joni pada sang sopir.


''Terima kasih Pak?'' balas sang sopir taksi, dan dia pun mulai menjalankan kembali mobilnya sampai di depan teras rumah Erlan.


Erlan terkejut ketika seorang wanita dan pria yang ia kenali turun dari taksi tersebut.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2