Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 125


__ADS_3

Setelah sampai di halaman belakang, Bu Widya langsung menyuruh Putri untuk segera turun, namun Putri acuh tak acuh pada perkataan Bu Widya, yang begitu khawatir melihat Putri yang malah duduk santai di atas dahan pohon mangga, sembari memakan buah mangga langsung dari atas pohon nya.


Bu Widya yang sudah tak memiliki cara untuk membuat Putri turun dari atas pohon pun, dengan segera dia mengambil ponsel nya yang kebetulan sekali ada di saku celana kainnya, biasanya Bu Widya tak pernah menurut ponsel di saku celana apalagi di saku baju, namun hari ini dia sangat beruntung sekali, jadi dalam keadaan gawat darurat seperti ini langsung mengambil ponsel di saku celana-nya karena tadi Bu Widya sedang telfonan dengan teman arisan nya, ketika tadi Bi Siti berteriak memanggilnya Bu Widya langsung memasukkan ponsel ke saku celana nya.


Bu Widya mencoba menelfon Pak Daniel namun ponsel Pak Daniel tidak aktif, Bu Widya pun langsung menelfon sekretaris nya.


''Duch, pada kemana sich nie orang? kalau lagi di butuhkan lama banget ngangkat telfon nya,'' gerutu Bu Widya saat panggilan nya belum juga di angkat.


Tut....Tut....Tut...


-''Hallo, assalamualaikum,'' Ucap seseorang di seberang telfon.


-''Rijal! kamu kemana saja sich lama banget angkat telfon ku, mana Daniel cepat kasih pada Daniel ponsel kamu sekarang?!'' cecar Bu Widya.


-''Maaf Bu Widya, Pak Daniel sedang meeting?'' jawab Rijal takut takut.


-''Rijal? denger ya, ini darurat,'' Ucap Bu Widya mematikan ponsel nya, dan diapun langsung melakukan video call dengan Rijal sang sekretaris putera nya.


-'Rijal, lihat baik baik,'' Bu Widya mengarahkan kamera nya kepada Putri yang berada di atas pohon.


-'Ada monyet di atas pohon,'' gumam Rijal yang langsung mendapatkan omelan dari Bu Widya Mama sang CEO.


-'Monyet? kamu yang monyet, cepat kasih ponsel nya sekarang juga, kalau sampai terjadi sesuatu pada Putri, kamulah orang yang patut di salahkan,'' Pekik Bu Widya di saluran telfon nya.


Sang sekretaris mengetuk pintu pelan, dan tak berapa lama terdengar suara yang menyuruh nya untuk masuk ke dalam ruangan nya.


''Ada apa Rijal!'' tanya dingin sang CEO.

__ADS_1


''Maaf mengganggu Pak, Bu Widya menelfon Bapak, katanya ada hal penting ,'' iawab Rijal sang sekretaris nya.


Rijal pun menyodorkan ponsel yang masih menyala pada pemilik perusahaan tersebut. Terlihat sangat jelas wajah keterkejutan nya saat melihat Putri berada di atas pohon mangga yang tumbuh di halaman belakang.


''Bumil satu ini bikin repot saja dech, mana disini masih ada klayen lagi,'' Gumam pak Daniel dilema.


''Maaf Pak, saya angkat telfon dulu sebentar,'' pamit CEO yang terkenal sangat dingin itu kepada para klayen nya. Tak lupa dia memberitahu pada Mas Erlan, agar segera datang ke rumah utama.


''Erlan? sekarang kamu harus pulang ke rumah utama,'' bisik Daniel sang CEO.


''Emang ada masalah apa Pak?'' tanya Mas Erlan pelan.


''Putri... Putri bikin ulah di rumah, sekarang dia manjat pohon mangga di halaman belakang, Mama sudah mulai frustasi menyuruh agar Putri segera turun, namun tidak ia hiraukan,'' bisik nya lagi, lalu Pak Daniel memperlihatkan Putri istri kecilnya yang sedang duduk santai di atas pohon mangga.


Erlan terlihat tersenyum melihat tampilan istri nya yang sedang manjat pohon, Pak Daniel yang melihat Erlan tersenyum pun mulai bertanya tanya.


''Ada masalah apa Pak Daniel?'' tanya sang klayen sopan.


''Tidak ada masalah apa apa kok tuan tuan, hanya saja adikku bikin ulah di rumah,'' Jelasnya dan mendudukkan diri ke kursi kebesaran nya.


''Erlan! kamu dengar nggak, apa yang saya katakan barusan, cepat kamu ke rumah utama jangan sampai terjadi sesuatu pada Putri, paham!!'' pekik Pak Daniel menaikkan suaranya 1 oktav, para klayen pun saling berpandangan satu dan lainnya.


''Pak Daniel tenang saja ya, Putri nggak bakalan jatuh dari atas pohon itu Pak? Putri sudah terbiasa manjat pohon seperti itu waktu di kampung dulu, bahkan lebih mengerikan lagi Putri pernah sampai ujung pohon tersebut, yang ketinggian nya melebihi sampai 20 meter,'' jelas Erlan, karena dulu ia sempat tau sendiri kelakuan bar bar istri kecilnya itu.


''Tapi? yang jadi masalah sekarang bukan dia pandai manjat pohon, tapi karena dia sedang hamil, kalau sampai terjadi sesuatu pada Putri kamu jangan menyesal?!'' Umpat Pak Daniel pada Mas Erlan.


''Sini Pak, biar saya yang berbicara pada Bu Widya,'' Pak Daniel memberikan ponsel yang masih menyala tersebut.

__ADS_1


-''Assalamu'alaikum Bu?'' Ucap Mas Erlan.


-''Waalaikum salam, Erlan kamu cepat kemari Putri manjat pohon, Ibu sudah capek membujuk dia agar segera turun, tapi dia masih asik di atas sana,'' jawab Bu Widya, terlihat jelas kalau beliau sangat menghawatirkan puteri angkat nya, terdengar dari nada suara nya yang bergetar saat mengucapkan kata demi kata untuk memberitahu Mas Erlan.


-''Bu Widya nggak usah khawatir ya, sebentar lagi Putri bakalan turun kok Bu, Erlan yakin dia akan turun,'' Ucap Mas Erlan mencoba menenangkan Bu Widya.


Tepat dengan kedatangan Pak Aries, Putri turun dari atas pohon mangga yang ia panjat tadi dengan membawa sekantung mangga muda yang sudah di taroh kantong kresek. Ya, sebelum Putri memanjat dia sudah mengantongi kantong plastik yang lumayan besar, kantong tersebut ia minta pada Bi Sariyem di dapur.


''Ada apa Ma? kok pada ngumpul di sini sich?'' tanya nya penasaran.


Bu Widya tak menghiraukan pertanya'an sang suami, beliau masih fokus pada Putri yang cengengesan sembari melangkah menghampiri Bu Widya dan juga Pak Aries yang ada di samping nya.


''Siang Pak?'' sapa Putri pada Pak Aries yang seketika Bu Widya sadar, kalau suaminya sudah berada di samping nya.


''Siang juga Putri, bawa apa itu?'' tanya Pak Aries lembut.


''Anak nakal, Mama di bawah khawatir? kamu malah enak enakan makan mangga di atas, kamu itu lagi hamil sayang? nggak boleh sembrono kayak gitu, ingat itu?!'' omel Bu Widya yang membuat Pak Aries terperanjat kaget mendengar nya.


''Apa yang Mama bilang barusan? Putri manjat pohon mangga?!'' tanya nya nggak nyangka, kalau anak angkat nya pinter manjat.


''Wah kalau githu, puteri kita yang satu ini hebat dong Ma,'' Ucap Pak Aries, yang langsung mendapatkan pelototan mematikan dari sang istri.


''Hebat apanya! dia perempuan bukan laki, hebat dari mana coba!'' Pekik Bu Widya memarahi Pak Aries suaminya. Putri hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya, tanpa menjawab omelan dari sang Ibu angkat.


BERSAMBUNG


Jangan lupa baca juga karya receh Al-mahyra yang berjudul ''sahabat jadi cinta''

__ADS_1


Makasih kakak yang sudah dukung karya receh ku, dan jangan lupa tinggalkan jejak juga, makasih 🙏🙏😘😘😘💕💕💕


__ADS_2