
*Pagi hari di kosan Putri*
Karena hari ini adalah wekeend, jadi Putri malas malasan di dalam kosan nya.
Biasanya habis sholat subuh Putri langsung menghampiri Abang sayur buat belanja kebutuhan Putri dan juga kedua teman nya.
Namun kali ini Putri malah terlelap tidur dengan mukenah nya yang belum ia buka. Pintu pun di ketuk dari luar, Putri yang sedang terlelap kaget dengan ketukan pintu tersebut.
''Iya sebentar?'' jawab nya dari dalam, Putri beranjak dari tempat nya, dan membuka pintu kosan nya, di depan pintu sudah ada Zein dan juga Reno yang memegang tas kresek belanjaan.
''Baru bangun,'' sapa Zein ketika pintu di buka oleh Putri.
''Iya tadi tidur lagi,'' jawabnya melangkah masuk.
''Iya aku tau, itu kamu masih memakai mukenah nya,'' tunjuk Zein.
''Nggak tau kenapa, hari ini aku begitu ngantuk,'' Gumam nya membuka mukenah nya.
Reno memberikan nasi bungkus yang sudah ia taruh di atas piring lengkap dengan sendok nya.
''Malah merepotkan kalian kan,'' Gumam Putri merasa bersalah.
''Nggak repot kok Putri, hari ini giliran kita yang akan melayani kamu,'' tutur Reno.
''Kayaknya aku harus mencari kerja tambahan dech kalau wekeend kayak gini,'' Gumam nya pelan.
''Jangan terlalu capek, entar yang ada kamu malah sakit karena terlalu capek,'' cetus Zein yang di angguki Reno.
''Benar yang di katakan Zein Putri?'' tukas Reno.
''Tapi kalau Putri nggak ada kegiatan, rasanya badan tuh capek banget, dan maunya tidur terus,''
''Tapi kan nggak harus bekerja, wekeend tu waktu nya untuk beristirahat,'' pesan Zein sambil menyendok makanannya.
''Rencana Putri sich, kalau wekeend begini Putri mau memasak yang banyak terus Putri jual di depan githu?''
Zein dan Reno mengangguk pelan, mengerti yang di ucapkan oleh sang teman.
''Apa laku ya masakan aku kalau di jual?'' ucapnya berpikir keras.
''Ya pasti laku lah Putri, yang semangat dong,'' tukas Reno menyemangati teman cewek nya.
''Sudahlah nggak usah ngomong terus, makan dulu itu nasinya keburu dingin malah nggak enak lagi,'' jelas Zein.
__ADS_1
Putri memulai menyendok nasi dan memasukkan ke dalam mulutnya, dalam makannya fikiran Putri berlarian kemana-mana.
-Sebenarnya aku tak harus memikirkan pekerjaan terus, tabungan ku masih lumayan buat makan sehari hari dan untuk keperluan yang lainnya juga.
Tapi aku harus belajar mandiri dan tak harus bergantung terus ke keluarga kak Erlan, aku harus memiliki penghasilan sendiri, walaupun aku masih kuliah tapi harus punya penghasilan,'' batinnya.
Sore hari Putri mulai membersihkan bahan masakan yang akan di masak buat nanti malam. Ada seorang Ibu Ibu menghampiri Putri dan duduk di sebelah nya.
''Dengan mbak Putri ya,'' tanya Ibu Ibu yang berpakaian kantor.
''Iya saya sendiri Mbak?'' jawab Putri ramah.
''Mbak Putri yang masak di Workshop Dani ya?'' Tanya nya lagi.
''Bukan Mbak? di Workshop Bang Dani Putri hanya membantu saja kok,'' sahut Putri.
''Emangnya kenapa ya Mbak?'' tanya Putri penasaran.
''Nggak apa apa, Mbak cuma mau nanya sekalian mau pesan juga buat pegawai di kantor kami,'' cakap nya.
''Mbak langsung saja ke Workshop nya Bang Dani kalau githu,''
''Sayang nya Mbak sudah dari sana, namun Koki nya bilang kalau yang masak adalah Mbak Putri,'' Gumam nya menjelaskan.
''Kalau boleh tau makanan apa ya Mbak, yang Mbak maksud dengan aku yang memasak nya,'' tanya Putri memberanikan diri.
Lantas seorang Mbak Mbak itu mengeluarkan ponsel nya, memperlihatkan makanan yang di rekomendasi kan oleh pegawainya yang sudah merasakan masakan Putri.
Putri kaget melihat gambar masakan yang ada di ponsel Mbak nya.
''Ini kan cuma masakan kampung saja Mbak, kan di Workshop Bang Dani banyak macam makanan yang lezat, kenapa harus memilih masakan yang seperti ini sich Mbak,'' tanya Putri heran.
''Mungkin makanan ini hanya masakan kampung, namun rasa tak pernah bohong. Hampir semua pegawai ku makan di sana mengatakan kalau makanan nya sangat enak,'' jelasnya.
''Gimana Mbak Putri, mau kan aku pesan makanan pada Mbak Putri?''
'''Gimana ya Mbak? Putri tanya dulu sama teman Putri gimana, Mbak tunggu di sini dulu,'' Gumam Putri bergegas menuju ke kosan Zein dan juga Reno.
Tak butuh waktu lama Putri sudah sampai di kosan Zein, Zein yang melihat Putri beranjak dari tempat nya dan menghampiri Putri.
''Ada apa, apa makanan nya sudah siap?'' cecar Zein.
Putri menggeleng, ''Di kosan Putri ada Mbak Mbak yang mau pesan makanan?'' tuturnya tho the poin.
__ADS_1
Zein dan Putri lantas menghampiri Mbak mbak tadi yang masih duduk di teras kosan Putri.
Zein mengerutkan kening nya melihat penampilan Mbak nya yang memakai pakaian kantor.
''Maaf Mbak, aku Zein temannya Putri,'' Ucap Zein memperkenalkan diri.
''Och, aku Rini, maksud kedatangan saya ke kosan Mbak Putri ingin memesan makanan untuk para karyawan ku di kantor. jelas Rini pada Zein.
''Makanan dalam jumlah banyak kalau buat orang kantor,'' tanya Zein.
Rini mengangguk, ''Iya, Mas Zein benar,''
''Kalau boleh tau Mbak Rini tau dari mana kalau Putri bisa masak?'' tanya Zein karena penasaran.
''Para pegawai ku kemarin sempat makan di Workshop Pak Dani, dan mereka merekomendasikan nya pada saya, karena orang yang sering mengirim makanan ke kantor sudah meninggal. dan itu membuat semua pegawai harus keluar kantor hanya untuk makan siang.''
''Apa nggak bakalan ada yang sakit hati kalau Putri yang menggantikan nya Mbak,'' tanya Zein ingin tau.
Sedangkan Putri memasak makanan karena hari sudah mulai petang. Dengan sangat cekatan Putri menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga, namun hari ini bertambah satu orang jadi Putri memasak lebih untuk satu orang lagi.
Putri mengambil ponsel nya, ia menelfon Reno untuk segera datang ke kosan nya untuk makan malam.
''Ayo kak makan dulu, Zein?'' ujar Putri dari depan pintu.
''Reno mana Putri,'' tanya Zein.
''Sebentar lagi dia bakalan kesini kok, tuh dia orang nya sudah nongol,'' jawab Putri menunjuk ke arah Reno.
''Maaf lama,'' kata Reno meminta maaf.
''Maaf kalau gitu aku pamit dulu,'' ucap Rini.
''Makan dulu Kak,''
''Sebaiknya Mbak Rini makan bersama kita dulu di dalam, maaf kalau makanannya cuma seadanya saja,'' tutur Zein beranjak dari duduknya dan bergegas menghampiri Putri dan juga Reno yang sudah masuk duluan.
Rini mengikuti langkah Zein dan diapun duduk di bawah dengan beralaskan tikar.
''Maaf Mbak, duduk nya di bawah,'' Ujar Putri.
''Nggak apa apa kok,'' sahut Rinita Winata.
BERSAMBUNG
__ADS_1