Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 56 Senyuman Anastasya Putri


__ADS_3

Dengan setianya Erlan menjaga Putri, sampai-sampai dia tidak tidur semalaman hanya menjaga gadis kecilnya yang belum bangun juga.


Pagi harinya Erlan sangat mengantuk namun rasa kantuknya sirna di kala sang gadis sudah mulai sadar.


Erlan sangat senang melihat sang tunangan sudah sadar, ''Sayang? kamu sudah sadar, sebentar ya kakak panggil dulu.'' Ucap Erlan senang dan bergegas menuju keruangan Dokter.


''Dokter, gadis kecilku sudah sadar.'' seru Erlan pada sang Dokter saat sudah memasuki ruangan nya.


''Maaf Mas, gadis kecil siapa maksud kamu.'' Tanya Dokter btidak mengerti maksud Erlan.


''Maaf Dok, maksud saya Anastasya Putri sudah sadar?!'' jawab Erlan menjelaskan.


''Baiklah, kita kesana sekarang.'' Ajak sang Dokter dan bergegas ke ruang rawat Putri.


''Suster, keruang rawat Putri!'' Ucap Dokter yang di angguki oleh sang perawat. sang perawat mengikuti langkah Dokter dan juga Erlan.


Sampai di sana sang Dokter dan juga susternya langsung memeriksa keada'an Putri.


''Alhamdulillah, Putri sudah mendingan, kasih dia bubur lalu minum obat ini.'' kata sang Dokter di angguki Erlan dan juga Putri, Dokterpun kini keluar dari kamar inap yang di tempati Putri.


Tak lama setelah sang Dokter keluar ada petugas yang mengantarkan sarapan dan teh hangat untuk pasien.


''Ini Mas buburnya.'' Kata sang petugas memberikan nampan yang berisi bubur dan juga segelas teh pada Erlan.


''Makasih mbak?'' ucap Erlan dan menaruh nampan di meja samping bangsal nya Putri.


Erlan membenarkan Putri agar bisa makan bubur nya dan minum obatnya.


''Ayo sayang, makan dulu biar cepat sehat kembali.'' Ucap Erlan dan menyuapkan sesendok bubur pada gadis kecilnya.


Putri menggeleng tidak mau, ''Putri nggak laper kak?'' Ucapnya manja.


''Sayang harus makan dulu, habis itu baru minum obat biar cepat pulih dan pulang.'' Ujar Erlan mengelus puncak kepala gadis kecilnya.


''Buka mulutnya, Akk...'' seru Erlan menyuruh Putri membuka mulutnya.


Mau tak mau Putri menerima suapan dari Erlan sang tunangan. ''Sudah kak? pait rasanya.'' ucap Putri pada Erlan karena bubur nya sendiri tak ada rasa dan mulut Putri seperti mati rasa.


Masih dengan Drama pagi yang Putri buat, karena dia tak mau makan makanan yang ada di rumah sakit.

__ADS_1


Pintu terbuka dan terlihat sesosok orang yang Putri kangenin, yakni Bu Yuni sang Ibu yang sudah merawatnya dari kecil hingga sekarang.


''Ndok?!'' tangis Bu Yuni dan menghambur ke pelukan Putri nya.


''Ibu kenapa menangis? Putri nggak apa apa kok bu?'' Ucap Putri menepuk nepuk bahu sang Ibu.


''Ibu begitu khawatir sama keada''an kamu kemarin, saat ada yang menjemput Ibu di rumah dan langsung di bawabkerumah sakit ini.'' Ujar Bu Yuni yang langsung di tertawakan oleh putrinya.


''Ibu tidak usah khawatir lagi ya, Ibu kan sudah lihat keadaan ku sekarang, Putri sudah nggak apa apa.'' Putri menjawab dengan senyuman yang melekat di bibir ranum nya, agar sang Ibu tidak merasakan kekhawatiran lagi.


Pak Amin menghampiri sang Putri, diciuminya kening yang tertutup oleh perban yang masih terdapat bercak darah di perban nya.


''Mulai sekarang kamu tidak boleh bawa motor sendiri ke sekolah, bapak akan antar jemput kamu, walaupun Bapak lagi repot sekalipun, Bapak janji akan selalu ada untuk mengantar dan jemput kamu di sekolah.'' Ucap Pak Amin pada putrinya, Putri hanya menanggapi dengan kekehan karena tidak biasanya sang Bapak akan mengucapkan kata-kata yang panjang di kali lebar🀭🀭.


Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.


''Tok...tok...tok...''


Erlan bergegas membuka pintu, dan terlihat 2 orang Bapak dan juga Ibu Ibu, dan satu orang anak kecil.


''Maaf Mas, apa benar ini kamar inap Anastasya Putri.'' Tanya Bapak tersebut.


''Boleh kami melihatnya Mas?'' kini giliran Ibu itu yang bertanya.


''Boleh, silahkan masuk?!'' Ujar Erlan membuka pintu kamar inap lebar.


''Siapa Le?'' tanya Pak Amin ketika ada orang yang masuk.


''Erlan nggak tau Pak, cuma bilang mau lihat Adek saja.'' jawab Erlan pada sang mertua.


Ibu yang baru masuk langsung menangis melihat keadaan Anastasya Putri, Putri mengerutkan alisnya karena bingung, tak tau orang dari mana ini yang datang menengok nya. tiba-tiba saja menangis dan meminta maaf.


''Maafin Ibu ya Nak Putri, Ibu yang salah dalam hal ini, gara-gara Ibu tidak hati hati menyeberang jalan, Nak Putri jadi kayak gini.'' Ucapnya tak berhenti nangis.


''Ini buka salah Ibu kok, ini semua sudah takdir dari yang maha Kuasa, mungkin Putri di suruh istirahat sejenak dari aktifitas Putri yang padat.'' sahut Putri memegang tangan Ibu yang berdiri di sampingnya.


Erlan tidak menyangka kalau gadis kecilnya bisa berbicara sebijak ini, ''Dia selalu rendah hati sama siapun, apalagi dalam keadaan kayak gini, gadisku masih bisa tersenyum.'' Gumam Erlan dan tersenyum ke arah sang tunangan.


''Ibu dengar sendiri kan apa yang di katakan gadis kecilku ini.'' celetuk Erlan yang merubah suasana sedih menjadi sedikit lebih ceria.

__ADS_1


''Enak saja, manggil aku gadis kecil! putri sudah besar?'' seru Putri mencebikkan bibirnya.


Erlan tertawa mendengar perkataan sang gadis, ''Kalau sudah besar apa buktinya?'' Tanya Erlan lagi membuat Putri memutar otaknya untuk berfikir.


''Ya pokoknya sudah besar dan dewasa juga.'' jawab Putri ngasal, orang orang yang berada di kamar inap Putri pada tertawa mendengar nya.


Ibu Ibu yang tadinya menangis kini mulai tersenyum, melihat keceriaan Putri dan juga Erlan, ''Pasangan unik.'' begitulah pikiran Ibu dan Bapak yang menjenguk Putri.


Bu Yuni menghampiri Ibu yang menjenguk putrinya.


''Sudah Ibu jangan fikirin lagi kejadian kemarin ya, putriku juga sudah sadar dan dia juga sangat ceria.'' kata Bu Yuni menggenggam tangan Ibu tersebut.


''Makasih banyak ya Bu? mungkin kalau saya tidak meleng saat menyeberang mungkin kejadian kayak gini tidak akan terjadi Bu?'' sahutnya Ibu itu.


Bu Yuni menggeleng, ''Tadi Ibu, sudah mendengar perkataan putriku kan Bu, sudahlah lupakan saja?!'' kata Bu Yuni lembut.


''Ya sudah kalau githu kami pamit dulu ya Pak, Bu, nak Erlan dan juga nak Putri. cepat sembuh ya?'' Ucap Ibu itu dan memberi sebuah amplop pada Putri.


Putri menolak, ''Nggak usah kayak gini Bu, Putri beneran nggak apa apa.'' ucap Putri, namun Ibu itu tetap ngotot memberikan pada Putri.


''Ambillah Nak Putri, kami sekeluarga ikhlas memberi itu pada nak Putri.'' kata suami Ibu itu.


''Sudahlah di ambil saja sayang?'' seru Erlan pada Putri tunangan nya.


Akhirnya Putri menerima pemberiannya, ''Makasih ya Bu.''Ucap Putri tersenyum.


''Kapan kapan main lah ke rumah Ibu, ini alamatnya.'' Ibu tersebut memberikan alamat rumahnya pada Putri.


''Insya Allah ya Bu?'' sahut Putri dan tersenyum, keluarga itupun beranjak pergi dari kamar inap Putri.


Erlan memeluk sang gadis dan mencium keningnya dengan mesra.


πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


Makasih buat yang selalu dukung karya receh Al-mahyra.


jangan bosan bosan bacanya ya kak.


makasihπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2