Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 135


__ADS_3

''Bodo amat gue,'' sahut Sandra yang sudah menuangkan mie instan nya ke dalam mangkok yang sudah ada bumbu mie instan nya.


''Tara....? jadi dech, masakan ala ala chef Sandra,'' gumam Sandra mengangkat bibir atasnya dan melewati Daniel begitu saja.


''Punya adek satu cewek, kelakuan nya Sableng banget,'' Gumam Daniel, namun gumaman Daniel masih di dengar oleh Sandra adek nya.


''Gituu dech! kelakuan cowok jomblo, makanya nggak laku laku,'' ejek Sandra dan mendarat kan bokong nya di kursi yang ada di ruang makan.


''Kayak lho aja sudah laku,'' balas Daniel menghampiri Sandra.


''Nggak punya? jomblo itu pilihan, karena Sandra masih mau fokus pada kuliah ku,'' Jelasnya.


''Sama aja kali!'' Daniel mencubit pipi adek nya dan langsung kabur begitu saja, tak lupa juga dia membawa coklat panasnya ke dalam kamar yang berada di lantai 2 atas.


''Kalau sudah selesai makannya, langsung ke kamar ya sayang? Mama ke kamar duluan,'' Ucap Bu Widya mencium kening puteri nya yang sedang asik menyeruput mie instan nya.


''Oke Mommy?'' jawab Sandra.


Bu Widya dan Pak Aries menuju kamar nya yang berada di lantai bawah, karena mereka bilang sudah tua, maka nya beliau berdua memilih kamar yang ada di lantai bawah.


Daniel sendiri berada di balkon kamar nya sambil menikmati coklat panas yang Mama nya buat, sesekali Pak Daniel mengembangkan senyuman nya, ketika mengingat obrolan nya bersama kedua orang tuanya, yakni Bu Widya dan juga Pak Aries.


''Kenapa aku bisa ngomong gituu ya sama Papa dan Mama, nggak tau malu banget dech?!'' gerutu Daniel menyalahkan dirinya sendiri, atas apa yang ia katakan pada keduanya.

__ADS_1


''Jatuh dech wibawa gue, kalau sampai ada yang mendengar nya tadi,'' rutuknya mengacak-acak rambut nya.


''Mana Daniel yang dingin, yang cuek dengan wanita?!'' sesalnya, Daniel nampak memejamkan matanya, menikmati terpa'an angin malam, yang katanya tidak baik untuk kesehatan tubuh.


''Tuhan...? pertemukan hamba dengan pemilik tulang rusuk ku, hamba sangat percaya kalau takdir seseorang sudah tertulis di lauful mahfud, maka hamba juga percaya akan jodoh saya, namun hamba bingung harus mencari dia kemana? sedang hamba tak tau bentuk dan rupanya, semoga yang hamba inginkan di kabulkan olehmu Ya Allah?'' Batin Daniel, dan melangkah masuk ke dalam kamar nya, karena hari semakin larut, Daniel tak lupa menutup pintu yang menghubungkan dia ke balkon kamar nya.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


Di lain tempat Putri dan Erlan sedang menelfon Bunda beserta Ayah nya yang saat ini berada di Kalimantan Selatan, tepatnya di perantauan nya.


Putri memberi tahu berita kehamilan nya pada keluarga yang ada di Kalimantan, walaupun itu sudah sangat terlambat, karena kandungan Putri sekarang mulai menginjak 4 bulan, perut Putri sudah mulai membuncit dan Putri pun sering mengeluh pada sang suami, kalau dirinya sering tertidur di kantor, dan juga semua teman di ruangan nya pada lihatin Putri, mereka menatap Putri dengan tatapan penuh tanda tanya.


-''Bunda? nggak mau ke Jakarta,'' tanya Putri lembut seraya membenarkan hijabnya.


-''Bunda masih sibuk di sini sayang, sedangkan si gembul sudah mulai masuk sekolah, jadi kakak mu Friska sibuk menjaga gembul di sekolah nya. Insya Allah kalau ada waktu luang Bunda ke sana ya?'' sahutnya di seberang lautan melalui ponsel nya.


-''Sudah Bunda? Putri tadi sore bilangnya pada Ibu dan juga bapak di kampung? soalnya Putri sibuk di kantor, jadi baru sempat?'' Ucap nya mencari alasan kenapa dia baru memberi tahu sekarang, sedangkan usia kandungan nya saja sudah menginjak 4 bulan.


-''Ya sudah, kamu jangan terlalu capek, jaga kesehatan dan calon cucu Bunda, oke?'' pesan nya agar Putri sang menantu tak terlalu capek.


-''Ok Bunda?''


-''Suami kamu kemana, kok sedari tadi Bunda tak mendengar suaranya?'' tanya Bunda sebetulnya mematikan sambungan telfonnya.

__ADS_1


-''Mas Erlan? lagi bikin rujak manis di dapur, so? Putri pengen makan rujak manis Bunda?'' jawab-nya gugup, karena merasa tak enak hati sama ibu mertua nya, yang menyuruh putera kedua-nya bikin rujak manis di dapur.


''Ya sudah nggak apa apa, kalau gitu Bunda matikan ya? Assalamu'alaikum,'' pamit Bu Felisha dan menutup panggilan nya dan menaruh ponsel nya di atas nakas di samping tempat tidur nya.


Tiba-tiba Pak Enggar menghampiri sang istri di kamar nya, lalu diapun bertanya, ''Ada apa Bu?'' tanya Pak Enggar yang duduk di samping nya.


''Menantu kita? hamil Yah, sedangkan Ibu nggak bisa datang ke sana untuk ngejenguk nya,'' jawab Bu Felisha sedih memikirkan menantu serta putera-nya di kota orang yang hanya tinggal berdua dengan sang istri.


''Alhamdulillah dingin kalau gitu Bu, emang apa yang membuat istri ku ini sedih seperti ini,'' tanya Pak Enggar lagi pada sang istri.


''Ibu sedih, bukan karena menantu kita hamil Yah, tapi Ibu sedih karena mereka di Jakarta hanya tinggal berdua, di sana tidak ada sanak saudara Yah?'' Gumam Bu Felisha memejamkan matanya sejenak.


''Putri anak yang baik Bu, pasti akan ada orang yang akan membantu mereka kalau lagi dalam masalah, Ibu berdo'a saja ya, buat kebaikan Erlan dan juga Putri menantu kita?'' pesan Pak Enggar pada istri nya, yang langsung di angguki oleh Bu Felisha.


Di kota Jakarta Putri masih menikmati rujak buah bikinan Erlan sang suami, Erlan begitu setia menemani Putri yang sedang asik memakan rujak buah yang ia buat tadi, 1 mangkok penuh potongan buah mangga muda dan buah buah lainnya habis dalam sekejap, bersih tanpa tersisa, Erlan yang melihat mangil yang sudah kosong pun bertanya pda sang istri tercinta nya.


''Mau nambah lagi?'' tanya Erlan dengan penuh kelembutan seraya mengelus puncak kepala Putri.


''Sebenarnya masih mau nambah lagi Mas? tapi Putri sudah ngantuk banget, bagaimana kalau Putri tidur dulu,'' jawab Putri dengan santai nya.


''Sebenarnya Mas juga sudah ngantuk sayang? kamu lihat saja jam di dinding audah jam berapa sekarang,'' Ucap Erlan menunjuk jam dinding yang berada tak jauh dari tempat dia duduk sekarang.


''Astaghfirullah hal adzim? sudah jam satu pagi?!'' kata Putri kaget ketika melihat jam bulat yang menempel di dindy rumahnya.

__ADS_1


''Maafkan Putri ya Mas, Mas Erlan pasti ngantuk banget ya, apalagi besok harus berangkat kerja pagi pagi,'' Gumam Putri yang merasa bersalah pada sang suami yang selalu menemani nya.


''Nggak apa apa kok sayang, santai saja? nggak usah sedih githu, Oke,'' balas Erlan memeluk sang istri yang merasa bersalah padanya.


__ADS_2