Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 109


__ADS_3

''Untuk lebih jelasnya, mbak Putri di bawa ke rumah sakit, untuk cek kehamilan nya,'' jawabnya sopan.


Di ruangan Rapat, Daniel nampak tak begitu fokus, sekilas Daniel memikirkan Putri yang sedang berada di ruangan nya.


''Apa dokter Aisyah sudah datang dan memeriksa Putri,'' Gumam nya pelan sehingga tak ada yang mendengar gumaman Daniel sang Bos.


''Kita lanjut minggu depan Rapat nya, karena sekarang Erlan belum kembali juga ke ruangan Rapat ini'' Ucap Daniel tiba-tiba, menghentikan presentasi karyawan yang tak lain adalah teman Erlan.


''Baiklah Pak?!'' Jawab semua karyawan yang ikut serta dalam Rapat tersebut.


Satu persatu semua karyawan nya keluar dari ruangan, setelah sang Bos terlebih dulu keluar ruangan.


Sang sekretaris di buat kebingungan melihat tingkah sang Bos sejak tadi meninggalkan Putri yang sedang pingsan.


Daniel mendorong pintu dengan kasar, membuat yang berada di dalam ruangan terperanjat kaget, tak terkecuali Putri yang berada di samping Bu Widya.


''Daniel!!''


''Bisa pelan nggak buka pintu nya,'' cecar Bu Widya pada sang Putera.


Daniel menatap semua orang yang berada di ruangan nya, tanpa menjawab pertanyaan sang Mama, Daniel malah bertanya balik, ''Kalian semua ngapain di ruangan Daniel, dan Mama sejak kapan datang kemari,''


''Sontoloyo nie bocah, bukannya jawab pertanyaan Mama, malah balik nanya?!'' jawab Bu Widya menghampiri Daniel dan menjewer kuping nya.


''Aduh Ma, kebiasaan dech, Daniel sudah dewasa masih saja di jewer kayak gini,'' gerutu Daniel sambil mengusap telinganya yang panas akibat jeweran sang Mama.


Semua orang yang berada di dalam ruangan menahan tawanya, tak terkecuali sang sekretaris pribadi Daniel.


''Awas saja ada yang tertawa, gue pecat,'' ancam Daniel, menatap Erlan dan juga sekretaris nya.


''Sudah lah nggak usah di bahas lagi, lagian nggak penting juga,'' tambahnya lagi.


''Gimana Aisyah keadaan Putri sekarang,'' tanya Daniel datar.

__ADS_1


''Telat kamu nanyanya Bang?'' celetuk Sandra yang ada di samping Aisyah.


Daniel mengernyit kan dahinya, tak paham apa yang di katakan sang Adik barusan.


''Nggak telat kok Sandra,'' sahut Aisyah sang dokter pribadi Guntoro.


''Maksudnya apa nich, kok aku nggak paham sama sekali,'' ucapnya lagi.


''Putri nggak sakit, tapi dia sedang hamil sekarang, makanya badannya nggak fit,'' Gumam sang Mama.


''Hamil??'' tanya Daniel mengangkat satu alisnya ke atas.


''Iya, Putri sedang hamil,'' jawab Aisyah.


''Tapi untuk lebih jelasnya lagi, saya sarankan ke dokter kandungan langsung, biar dia tau sudah berapa minggu umur janinnya sekarang,'' Ucap Aisyah menjelaskan, Daniel hanya ngangguk ngangguk nggak jelas.


''Mama bakal punya cucu Daniel,'' seloroh Bu Widya bahagia.


Daniel hanya mendengus kesal karena sang adik beraninya menyindir kehidupan nya. ''Mulai besok uang jajan kamu Abang potong,'' ancam nya, Sandra menghembuskan nafasnya dengan kasar.


''Sudahlah, ayo Ma kita berangkat sekarang, sekalian kita mampir ke rumah sakit, untuk memeriksakan kandungan Putri,'' Ajak Sandra pada sang Mama sekaligus menggandeng tangan Putri dan membawanya keluar ruangan.


''Mama bawa Putri ke rumah sakit sekarang, dan nanti pulangnya kamu jemput di rumah,'' kata Bu Widya pada Daniel dan juga Erlan.


Mereka berdua mengangguk dan menjawab hampir bersamaan, ''Baiklah,''


Bu Widya bergegas menuju keluar ruangan, sedangkan Putri dan Sandra sudah sampai di bawah dan menuju ke parkiran mobil.


Setelah Bu Widya masuk mobil Sandra melakukan mobilnya menuju ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Putri, saudara angkat nya.


Sandra tak menolak ketika sang Mama berkata ingin mengangkat Putri sebagai anaknya, karena berkat Putri juga sang Mama bisa berhenti menghambur hamburkan uang Papa nya, hanya untuk membeli barang tak penting dan tak berguna sama sekali.


Waktu itu Sandra berpikir, ''Nggak apa apa juga punya saudara perempuan,'' Ucapnya pada sang Mama dan juga Papa nya.

__ADS_1


*_*_*_*_


Tadi pagi Sandra sempat menolak sopir untuk mengantarkan nya ke kantor Daniel, karena menurut Sandra bakalan happy happy sepanjang hari, namun kenyataan yang ia dapat adalah zonk, Putri nggak bisa kemana-mana, dia harus istirahat total selama beberapa hari ini. Karena di trimester pertama, kandungan nya tergolong lemah dan rentan akan keguguran.


Sandra mendengkus kesal sembari menjatuhkan bobot tubuhnya yang profesional di ranjang king sizenya.


''Ya sudahlah lebih baik aku tidur saja, kapan kapan masih bisa kok keliling Mall sepuasnya,'' Gumam Sandra pelan, tak lama setelah berguling ke sana ke mari, akhirnya Sandra memejamkan matanya dan menjelajahi setiap ruangan di dalam alam mimpi nya.


Sedangkan Putri yang berada di kamar tamu tak kunjung memejamkan kelopak matanya, dia masih kepikiran Erlan yang sedang bekerja, dan dia juga memikirkan ucapan sang Dokter kandungan yang mengatakan, ''Kandungan nya sangat sehat, dan usia nya kandungan nya sudah beranjak 6 minggu, istirahat yang cukup,dan jangan banyak berpikir,'' Ucapnya menjelaskan.


Putri mengelus perut datarnya seraya berkata, ''Maafin Bunda yang tak tau kalau kamu sudah hadir di tengah-tengah Bunda dan juga Ayah sayang,'' Dia terus mengelus perutnya sambil menitikkan air mata kebahagiaan, karena nggak bakalan lama lagi akan menjadi seorang Ibu.


Bu Widya menghampiri Putri di kamar tamu karena mendengar gumaman kecil dari Putri.


Tok... Tok... Tok...


''Putri Ibu boleh masuk,'' Ucap Bu Widya dari luar.


''Masuk saja Bu, pintunya nggak di kunci kok,'' Sahut Putri membenarkan hijabnya dan menghapus air mata yang tadi sempat membanjiri di kedua pipinya.


''Kenapa kamu Putri, ada yang sakit,'' tanya Bu Widya ketika sudah masuk dan melihat mata sembab Putri.


''Putri nggak apa apa kok Bu, Putri hanya senang sekaligus kaget saja ternyata di perut Putri sudah bersemayam malaikat kecil,'' lirih nya.


''Apa kamu belum siap menerima kehadiran nya,'' tanya Bu Widya lagi.


Putri menggeleng cepat, ''Yang Putri sesali, karena Putri nggak tau kehadirannya? dan sekarang dia sudah hampir 2 bulan di perut Putri Bu??'' jawabnya menundukkan kepalanya.


"Nggak usah di pikirin lagi soal itu, lagian kamu juga nggak sengaja kan sayang, dulu Ibu juga begitu, hamil Daniel waktu itu Ibu taunya sudah menginjak 10 bulan umur kandungan Ibu, kan Ibu juga nggak tau kalau sedang hamil, karena nggak ada tanda tanda apapun,sama kayak kamu sekarang ini. Jadi jangan pernah salahkan diri sendiri atas ketidak tahuan kamu ini," ucap panjang lebar Bu Widya. Putri hanya mengangguk pelan, sedangkan kedua tangannya mengusap usap perut ratanya.


"Makasih ya Bu?" sahut Putri tersenyum bahagia.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2