
Dalam perjalanan ke rumah nya, Erlan menceritakan kisahnya pada Anastasya, dimana dia harus ikut sang ayah menyusul sang Abang diperantauan.
dengan kata lain Erlan gagal menyelesaikan sekolah dasarnya karena kenakalan yang dia perbuat.
Namun sesampainya di perantauan, Erlan malah di masukkan ke sekolah mengejar paket yang berada di sana, Erlan hanya mengikuti ujian kelas 6 nya bersama dengan murid lainnya, yang sama sama mengejar paket.
Kevin sang Abang emang menyuruh sang Ayah untuk membawa Erlan ikut serta, karena Kevin ingin mendidik sang adik di dekatnya.
Anastasya hanya bisa mengangguk mengerti akan lika liku kehidupan Erlan setelah pengumuman kelulusan sekolah dasarnya.
Otak Anastasya sibuk travelling mencerna setiap kata yang di ucapkan Erlan, dan tanpa Anastasya sadari? Erlan membawa dia ke swalayan.
''Ayo turun sayang?'' ucap Erlan menyadarkan dari lamunan nya.
''Lho kok ke swalayan?!'' tanya Anastasya kaget.
''Katanya mau bawa kerumah nya.'' tanyanya lagi.
Erlan mencubit pipi Anastasya, dan berkata. ''Kita di sini dulu, cari cari keperluan kamu dulu sayang?'' ucap Erlan memandang teduh sang gadis.
''Ngapain kita di sini kak? kita pulang saja yuck.'' Anastasya menarik tangan Erlan namun Erlan tak bergeming tetap di tempatnya yang semula.
''Sayang... ? dengerin kakak, kakak bawa kamu kemari mau belikan kamu sesuatu sebelum kakak balik ke perantauan lagi, ayolah sekali ini saja.'' ucap Erlan membujuk Anastasya.
Akhirnya Anastasya mengalah dan mengikuti langkah Erlan.
Erlan menggandeng tangan Anastasya memasuki swalayan tersebut.
Erlan membawa Anastasya ke toko baju, dan menyuruh nya untuk memilih salah satu baju tersebut.
''Nggak usah beli baju kak.'' ucap Anastasya memandang wajah Erlan sang tunangan.
Erlan yang di pandang hanya mengulas senyum manisnya.
''Kalau begitu biar kakak saja yang milihin bagaimana?!'' Tanya Erlan namun Anastasya menggeleng tanda tidak mau.
Erlan inisiatif memilihkan beberapa baju untuk Anastasya sang tunangan.
''Yang mana sayang?'' tanya Erlan memperlihatkan baju baju yang ia pegang.
''Nggak usah beli ya kak... ?'' ujar Anastasya memohon agar Erlan mengurungkan niatnya untuk membelikan baju untuk dirinya.
Erlan melenggang pergi, dia tidak menghiraukan teriakan sang tunangan, Erlan terus melangkah kan kakinya menuju kasir dan memberikan baju-baju yang ia pegang.
''Yang mana mas.'' tanya mbak nya lembut.
__ADS_1
''Semua nya mbak?!'' sahut Erlan mengeluarkan dompetnya dari saku celana.
''Total semuanya 480 ribu mas?'' kata sang kasir yang bertag name Linda.
Erlan memberi 5 lembar uang kertas 100 ribuan, Linda memberikan kembalian nya dan menyodorkan barang belanjaan Erlan.
Anastasya hanya melongo tak percaya karena harga baju yang Erlan pegang melebihi 100 ribu.
karena Anastasya tak pernah membeli baju dengan harga segitu.
''Ayo kita ke toko sebelah.'' menggandeng tangan Anastasya, Erlan membawa dia ke tempat sepatu dan yang terakhir Erlan membawa Anastasya ke toko make up.
Dengan malu malu Anastasya memilih beberapa alat make up, Anastasya sendiri bingung mau memilih apa saja karena dia tak suka make up.
Karena menurut Anastasya sendiri tampil secara natural adalah hal yang sangat nyaman.
Erlan yang melihat Anastasya kebingungan memilih alat make up akhirnya menyuruh Mbak nya untuk pilihin.
''Mbak? tolong ambilkan yang lengkap saja, kayaknya tunangan saya bingung mau pilih yang mana.'' Ujar Erlan dan di angguki oleh Mbak yang bekerja di sana.
Beberapa menit kemudian, barang yang di minta Erlan sudah terkumpul di atas etalase.
''Sudah Mas.'' Ucap Mbak nya yang berada di sebelah sang kasir.
''Boleh minta tolong di bungkus langsung.'' pinta Erlan, Mbak nya dan sang kasih saling berpandangan dan mengangguk.
Erlan mengangguk, ''Iya Mbak?'' sahut Erlan tersenyum pada sang tunangan.
Anastasya memanyunkan bibir nya, Erlan menyentuh bibir Anastasya lembut dan berbisik. ''Nggak, boleh gitu atau kamu mau aku cium di sini.'' Anastasya membulat kan matanya mendengar bisikan Erlan.
Anastasya mencubit perut Erlan dan melotot padanya, sedangkan yang di pelototi hanya menanggapi nya dengan senyuman.
Sang kasir dan juga Mbak yang kerja hanya berbisik dan sesekali tersenyum pada Anastasya dan juga Erlan.
Selesai di bungkus dengan rapi, Erlan langsung membayar dan kemudian beranjak pergi menuju ke parkiran untuk mengambil motor nya.
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
Tanpa perlu waktu lama kini Erlan dan Anastasya sudah sampai di rumah sang Mertua, yang sudah dari tadi menunggu nya.
Erlan berjalan beriringan dengan Anastasya dan di sambut dengan senyuman dari Bu Ristie sang Mertua, Nenek beserta Felisha istri dari Kevin Abang nya Erlan.
''Lama banget kalian nyampek nya.'' tanya Bu Ristie di saat melihat Erlan berjalan menuju ke arah nya.
''Iya Bu? kita masih jalan jalan sebentar.'' sahut Erlan sedangkan Anastasya mengulurkan tangannya mencium tangan sang Ibu Mertua, Nenek dan kakak iparnya juga tak luput ia cium tangan nya juga.
__ADS_1
Sang Ibu Mertua membawa Anastasya masuk ke dalam rumahnya dan di ikuti oleh Erlan beserta yang lainnya.
Anastasya meletakkan barang yang ia bawa di kursi.
Anastasya merasa canggung dengan keluarga Erlan, meskipun ia sudah 2 kali berkumpul seperti sekarang ini.
Namun rasa canggung dan rasa malu menyelimuti Anastasya.
''Nggak usah malu-malu? ini rumah mu juga.'' Ucap sang Nenek mengelus pundak cucu Menantu nya.
''Yang Ibu suruh mana Erlan?!'' tanya Bu Ristie, Erlan memberikan bingkisan yang berisi alat-alat make up.
''Semuanya sudah lengkap?'' tanya Bu Ristie lagi dan mengecek barang apa saja yang di beli sang Putra.
Bu Ristie mengangguk kan kepala nya, sedangkan Anastasya hanya diam melihat semua orang yang mulai sibuk mengemas pakaian nya.
Karena besok pagi semua keluarga Erlan akan kembali ke perantauan. hanya untuk mencari cuan dan sesuap nasi.
Keluarga Erlan lebih suka tinggal di perantauan.
Awal mula hanya sang Kakek yang pergi merantau, dan satu tahun kemudian istri nya menyusul bersama Kevin cucu pertama nya.
sampai akhirnya Kevin menemukan tambatan hatinya yang juga berada di perantauan.
Dan yang terakhir, Erlan beserta orang tuanya yang datang ke perantauan.
Kakek Erlan sendiri sudah punya sendiri di perantauan tersebut, jadi mereka tinggal bersama.
Anastasya juga membantu sang Ibu Mertua berkemas?
''Nak Tasya? nggak usah ikutan mengemas barang, biar Ibu saja yang ngemas semua barang-barang ini?'' ucap Bu Ristie pada sang menantu yang biasa ia panggil Tasya.
''Nggak apa-apa kok Bu, dari pada Tasya bengong saja di ruang tamu? mending Tasya bantuin Ibu dan juga yang lain di sini.'' sahut Anastasya dengan lembut.
Bu Ristie memandang Erlan, sedangkan yang di pandang malah mengangkat bahunya sebagai jawaban.
(Bentar lagi kamu bakalan mendapatkan kebahagiaan mu Anas? yang selalu kamu idam idamkan) π€π€π€
ππππ
Makasih buat yang sudah dukung karya receh Al-mahyra.
jangan lupa like, komen, vote dan jangan lupa mawar merah serta kopinya kakak.
Biar author lebih semangat lagi, Oke
__ADS_1
Makasih ππππππ