Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 122


__ADS_3

''Putri kenapa Erlan?'' tanya seorang laki-laki yang suaranya sangat familiar di telinga ku. Aku mendongak melihat ke arah orang yang bertanya tadi.


''Pak...Pak Bos,'' ucapku gugup.


''Putri nggak apa apa kok Pak,'' lanjut ku agar Pak Daniel tidak khawatir.


''Tadi aku dengar, kamu muntah muntah lagi,'' tanya nya dengan nada cemas.


Sedangkan yang lainnya jangan di tanya lagi, mereka menatap Pak Daniel dengan penuh tanda tanya dan keheranan, karena Pak Daniel yang super dingin dan super irit bicara, begitu banyak berbicara pada Putri pastinya.


Mereka yang melihat sikap hangat Pak Daniel pada Putri pun bertanya-tanya, mereka bahkan mulai menerka-nerka kalau Putri dan CEO nya punya hubungan spesial, bahkan ada yang berbisik kalau Pak Daniel, Mas Erlan dan juga aku Putri terlibat dalam cinta segitiga,


Putri hanya menggeleng kan kepalanya pelan, mendengar semua bisikan dari para karyawan Pak Daniel. Yang notabene nya suka ngegosip.


''Sekarang kamu harus pulang!'' pekik Pak Daniel menatap wajahku yang memucat.


''Nggak usah Pak Bos, Putri di sini saja, lagian kalau Putri di rumah pasti sendirian, sepi banget jadinya?'' Ucap ku memelas sembari tersenyum manis pada kakak angkat nya tersebut.


''Kalau sampai Mama tau keadaan kamu sekarang, aku juga yang repot Putri?'' keluh Pak Daniel frustasi.


Mbak Sisil dan kak Anjas saling bertatap muka mendengar Nyonya besar Aditama di sebut, dan mengkhawatirkan Putri.


Mbak Agnes jangan di tanya lagi, dia semakin membenciku karena mendapatkan perhatian dari kedua pria tertampan di kantor Aditama Grub.


''Ya jangan di kasih tau lah Pak, please,'' mohon ku πŸ™.


''Kenapa bisa muntah!'' tanya nya lagi namun ini lebih tegas dari sebelumnya.

__ADS_1


''Putri muntah setelah membuka kotak nasi tadi Pak.'' jawab Mas Erlan yang mulai membuka suara.


Pak Daniel menatap para karyawan yang mulai berkumpul dan mengabaikan semua pekerjaan nya.


Melihat tatapan Pak Daniel, mereka semua membubarkan diri dan kembali ke ruangan nya masing-masing. Setelah kepergian para karyawan nya, Daniel mengajak Putri dan juga Erlan ke ruangan nya, yang berada di lantai teratas.


Di lantai bawah jangan di tanya lagi, semua karyawan mulai nge ghibah, tanpa terkecuali cewek, cowok pada ngomongin kisahku dengan kedua pangeran tampan, yang katanya Pak Daniel di du'ain sama cewek nya, yang tak lain Putri sendiri. Kalau saja aku belum punya suami maunya sich sama yang handsome dan juga tajir, namun kembali lagi pada takdir yang sudah memberikan aku jodoh sebelum bertemu dengan Pak Daniel waktu di Mall dulu.


Apalagi saat melihat kedatangan Bu Widya, bertambah lah sudah ghibahan demi ghibahan yang terlontar dari para karyawan karyawan di kantor itu.


''Pak Daniel nya ada,'' tanya Bu Widya pada resepsionis yang berjaga.


''Pak Daniel ada di ruangan Bu?'' jawabnya ramah, karena mereka tau kalau Bu Widya adalah Mama nya sang CEO.


''Terima kasih,'' kata Bu Widya lalu meninggalkan meja resepsionis.


Semua menundukkan kepala nya, di saat Bu Widya melewati nya, semua karyawan mendadak berhenti gibahin Pak Daniel, Mas Erlan dan Putri sendiri.


Di ruangan Pak Daniel, aku di cecar berbagai pertanya'an darinya, sebelum Bu Widya membuka pintu ruangan Pak Daniel dengan kasar.


Wajah Bu Widya terlihat jelas dengan ke khawatiran, ''Mana Putri?!'' tanya nya ketika sudah masuk ke ruangan Pak Daniel, namun tidak melihat ku di sana, karena aku pergi ke toilet yang ada di dalam ruangan Pak Daniel.


''Mama? Mama bisa kan ngetik pintu dulu sebelum masuk,'' kata Pak Daniel saat melihat Mama nya menerobos masuk ke dalam ruangan nya.


Bu Widya tak menghiraukan perkata'an Pak Daniel, beliau terus saja masuk dan celingukan ke sana kemari mencari keberadaan Putri sang anak angkat.


''Mama tanya! di mana Putri sekarang?'' suara Bu Widya memekik dan terdengar sampai ke toilet.

__ADS_1


''Apa sich Ma? Putri di toilet,'' sahut Pak Daniel menggeleng kan kepala nya pelan.


Bu Widya melangkah ke toilet dan mengetuk pintu, seraya berkata, ''Putri, kamu nggak apa apakan nak,'' Ucap Bu Widya masih mengetuk pintu.


''Putri nggak apa apa kok Ma, Mama saja yang terlewat khawatir pada Putri,'' Ucap Pak Daniel menatap sang Mama.


Clek... Pintu toilet pun di buka dari dalam, dan nampak lah Putri berjalan keluar dari dalam toilet, dia menampakkan senyuman nya pada Bu Widya yang masih sangat khawatir, sejak sekretaris Pak Daniel menelfon Bu Widya tadi, dan mengatakan bahwa Putri muntah muntah di kantor, Bu Widya pun membatalkan acara bersama teman teman nya, dari para istri rekan bisnis Pak Aries suaminya. Sebelum membatalkan acara hari ini beliau menghubungi Pak Aries terlebih dahulu, karena dia tak mau di cap yang enggak enggak sama semua istri rekan bisnis dari suaminya.


-''Pa, Putri sekarang lebih membutuhkan Mama, dari pada acara itu Pa?'' Ucap nya melalui ponsel nya.


-''Ya sudah, Mama batalkan saja acaranya, dan cepat temui Putri di kantor, takutnya ada apa apa dengan kandungan nya, apalagi kandungan nya masih sangat rawan sekarang sekarang ini,'' jawab Pak Aries dari seberang telfon.


-''Ya sudah, berarti fix ya Mama pergi ke kantor sekarang, dan membatalkan untuk pergi ke acara itu,'' kata Bu Widya lagi pada sang suami.


-''Iya Mama ku sayang, istri tercinta ku, sudah Papa tutup telfonnya, karena Papa sedang meeting nich,'' Sahut Pak Aries, lalu menutup panggilan nya.


''Kamu nggak apa apa kan sayang?'' tanya Bu Widya, dan menghampiri Putri dan membawanya duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangan Pak Daniel.


''Putri nggak apa apa kok Bu? hanya saja tadi mual dan muntah setelah mencium bau nasi?'' Jawab ku pelan.


''Terus kenapa kamu bekerja, bukannya Mama bilang kamu harus banyakin istirahat di rumah,'' lanjut Bu Widya yang membuat saya terdiam sejenak, mencari alasan agar aku bisa bekerja dan menyelesaikan tugas magang dari kampus.


''Kalau nggak kerja tugas magang Putri bagaimana Bu? Lagian di rumah hanya sendirian,'' celoteh ku dan menampakkan raut wajah melas.


''Kamu bisa kan telfon Mama, atau kamu datang ke rumah biar nggak kesepian lagi,'' Ujar Bu Widya mengelus punggung ku pelan. Perasaan yang begitu hangat mengalir begitu saja, ketika Bu Widya mengelus punggung ku, mungkin karena aku jauh dari orang tua makanya perasa'an ku jadi melow, atau juga bawa'an dari jabang bayiku yang ada di perut, menginginkan kasih sayang dari nenek nya yang berada di kampung.


BERSAMBUNG

__ADS_1


_*_*_*_


Jangan lupa juga mampir di karya Al-mahyra yang lainnya ya kak, semoga para readers semua suka, maaf kalau novel nya membosankan, makasih Akak cantik dan juga Abang gantengπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2