Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 156


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kini usia kehamilan Putri sudah menginjak 9 bulan, dan sebentar lagi 2 bayi mungil itu pun akan melihat dunia fana yang penuh dengan sandiwara dan juga penuh dengan kebohongan manusia.


Di dalam perut Putri ternyata ada dua nyawa malaikat kecil yang sedari ia tunggu, namun Allah memberikan lebih padanya, Allah memberikan 2 sekaligus malaikat kecil untuk Selanjutnya dan juga Putri. Keluarga Aditama begitu senang mendengar berita yang begitu membahagiakan, dan Bu Widya sudah menyiapkan nama itu jauh jauh hari, besar kemungkinan Putri akan tinggal bersama Ibu angkat nya, atau pun sebaliknya? Karena Putri tak mungkin mau merepotkan mereka semua.


"Sayang? Kamu harus banyak istirahat ya," Ucap Erlan lembut pada sang istri.


"Mas? Kerjaan ku gimana, pasti terbengkalai kan, dan juga tugas aku di kampus?" Rengek Putri pada sang suami.


"Kamu tenang saja, Mas sudah mengambil cuti untuk kamu, jadi kamu sekarang harus fokus pada kesehatan kamu saja, dan tak boleh memikirkan hal lainnya lagi, oke?" Pesan Erlan pada Putri istri kecilnya.


Di rumah Erlan sekarang ada seorang wanita paruh baya yang bekerja di sana, membantu Putri untuk membersihkan rumah, beserta memasak buat mereka berdua.


Sejak 2 bulan lalu, Putri dan Erlan pindah ke kamar yang berada di lantai bawah, karena Erlan sendiri merasa kasian pada sang istri ketika menaiki anak tangga dengan-Nya erut besarnya, yang ternyata di dalam nya berisi dua bayi mungil yang ia impian impikan sejak mereka menikah, namun Allah tidak segera memberikan mereka keturunan, tapi setelah menunggu 2 tahun lamanya, akhirnya di kasih kebahagia'an yang tidak ia duga sama sekali, dan Allah langsung memberikan mereka dua sekaligus, mashaAllah sungguh berlipat-lipat kebahagiaan Erlan dan juga Putri sekarang ini.


Di dalam kebahagiaan nya terbersit rasa khawatir pada diri Putri, khawatir kalau dia tidak bisa merawat kedua bayinya dengan benar, khawatir kalau tidak bisa berbuat adil, tapi Erlan selalu mengingat kan sang istri untuk tidak memikirkan apapun, menghilangkan rasa khawatir yang ada di diri sang istri, menjelang detik detik kelahiran nya, Putri selalu melakukan apa yang di katakan oleh Ibu nya, kalau dia harus jalan pagi di pagi hari agar kelahiran nya lancar.


"Mas, Putri ikut ya. Putri mau pergi ke yayasan, Putri mau lihat adik adik di sana, sebelum Putri lahiran besok?" Ujar Putri menatap suaminya yang sudah rapi dengan baju kantor nya.

__ADS_1


"Sayang? Lebih baik kamu di rumah saja ya, Mas nggak tega lihat kamu yang kesusahan untuk jalan?" Balas Erlan seraya mengelus puncak kepala Putri, dan di keduanya kening Putri yang sudah tertutup hijab. Karena sejati nya Putri begitu kangen dengan anak-anak yang berada di yayasan, sudah 3 bulan ini Putri tidak melihat mereka di sana.


"Ayolah Mas? Putri kangen banget sama Baim?" Mohon Putri pada Erlan, Erlan yang di tatap pun tak bisa menolak perminta'an sang istri yang sudah memohon mohon padanya.


"Baiklah, tapi nanti kamu harus pulang tepat waktu," Putri mengangguk dan mengembangkan senyuman nya, karena suaminya mengijinkan dia untuk pergi menemui adik adik yang berada di yayasan.


"Makasih ya Mas?" Ucap Putri mengecup pipi sang suami, sebelum Putri pergi mengambil tas slingbag nya di dalam lemari kaca yang badan di dalam kamar nya.


"Ayo Mas?" Ajak Putri sumringah sembari mengaitkan tangan kanan nya pada tangan kiri sang suami.


Erlan mengusap lembut perut besar Putri lalu mencium, seraya berbisik, "Anak-anak Ayah nggak boleh nyusahin Bunda kalian ya, dua minggu lagi Ayah bakalan bertemu dengan kalian berdua, jadi sekarang kalian nggak boleh nyusahin Bunda, jaga Bunda dengan baik ya, sebelum Bunda yang jaga kalian di dunia ini,"


*-*-*-*-*-*-*-*


Yayasan nampak begitu sepi ketika di lihat dari luar, karena adik adik pada pergi bersekolah di sekolahan yang tak jauh dari yayasan tersebut, sedangkan adik adik yang masih usia dini belajar di dalam yayasan dengan seorang guru yang mereka panggil dari luar.


''Akak akak akak?'' teriak salah satu anak kecil yang mengetahui kedatangan Putri bersama sang suami di samping nya.

__ADS_1


''Hay...? kalian lagi belajar ya?'' jawab Putri menunduk, Putri mengulurkan tangannya mengelus puncak kepala adik kecil yang menyapa nya.


Ibu pengurus beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Putri dan juga Erlan yang sedang berdiri tak jauh darinya.


''Kalian kok nggak ngabarin Ibu kalau kalian mau kesini?'' Ucap Ibu pengurus.


''Ya sudah Erlan pergi dulu Bu, karena Erlan harus pergi ke kantor sekarang, titip istri kecil Erlan ya Bu?'' ujar Erlan menitipkan istri kecilnya yang sedang berbadan dua.


''Hati-hati Mas,'' Ucap Putri seraya mengulur kan tangan dan mencium tangan suami tercinta nya. Erlan mengangguk dan melangkah menuju ke mobil yang terparkir di halaman yayasan.


Ibu pengurus mengambilkan kursi untuk Putri agar ia duduk di atas kursi, tanpa harus duduk di lantai yang hanya beralaskan karpet saja.


''Putri duduk di bawah saja Bu? nggak enak sama kakak nya,'' Ucap Putri yang nggak mau duduk di kirain yang sudah ia ambil di ruang tamu.


''Sudah nggak apa apa kok kak? kakak kan sedang hamil besar, jadi kalau ikut ikutan duduk di bawah akan sangat kesusahan nantinya,'' sambung guru yang sedang mengajar adik adik yang masih usia dini. Akhirnya Putri menuruti perkataan sang guru PAUD, dengan tak enak hati Putri duduk di kursi yang tadi di ambilkan Ibu pengurus.


Namun Putri hanya duduk sebentar saja di sana, Putri pergi ke halaman belakang dan duduk santai di sana, seraya menikmati semilir angin dan melihat ke sekeliling halaman tersebut. ''Ternyata masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah sama halaman ini,'' Gumam Putri, diapun merentangkan kedua tangan-nya ketika ada angin berhembus yang lumayan kenceng.

__ADS_1


''Sayang? sebentar lagi kalian akan melihat dunia ini, dan Bunda harap kalian berdua punya sifat penyayang sesama semuanya, Bunda ingin kalian selalu mensyukuri atas nikmat yang Allah berikan pada Bunda selama ini, biarlah Bunda yang merasakan pahit manis nya kehidupan, biarlah Bunda yang merasakan hina'an orang orang waktu di kampung dulu, semoga kalian hanya merasakan yang namanya kebahagia'an dan juga kesenangan,'' lirih nya mengingat di mana ia dulu selalu di hina, di caci, di kucil kan dan di bully oleh semua teman sekolah nya, termasuk Erlan yang menjadi suami nya saat ini, Putri tak munafik dengan semua tingkah laku Erlan dulu yang di berikan pada Putri kecil, namun itu hanyalah masa lalu, Erlan sekarang adalah sosok seorang laki-laki yang tampan, cerdas, berwibawa dan juga sangat sayang pada istri kecilnya.


__ADS_2