
Setelah pertemuan hari itu, Anastasya Putri dan Zein tidak bertemu lagi, karena Zein sudah kembali ke Universitas nya di Jakarta.
Putri sendiri lebih giat lagi belajar nya, kadang sebagian teman kelasnya mendatangi rumah Putri untuk belajar bersama, Wulan dan Dewi hampir setiap hari ke rumah Putri. Mereka bertiga kini harus siap untuk menghadapi masa masa magangnya.
''Gimana sob? sudah siap.''tanya Dewi pada kedua sahabat nya yang lagi asik nonton film kartun
''Lho dengerin gue nggak sich sob!'' tanya Dewi lagi pada keduanya dengan memegang tangannya .
Wulan dan Putri hanya nyengir kuda menatap wajah Dewi yang sudah kesal karena di kacangin oleh sahabat nya.
''Apa Wi! aku lagi asik nonton film nich, lagi seru serunya juga Wi?!'' Ujar Wulan menatap Dewi yang sudah cemberut.
''Kalian ini sudah pada dewasa masak masih nonton film kembar bakar githu sich!'' sahut Dewi sedikit ketus.
''Kalian sudah siap belum mau berangkat magang?'' Tanya Dewi lagi membahas masalah sekolah nya, yang minggu ini harus berangkat magang.
''Ya siap nggak siap sich, tapi kalau punya pilihan Putri tak mau magang?'' Ucap Putri, Wulan dan juga Dewi mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Putri.
''Maksud kamu gimana Putri? aku tak paham pun.'' tanya Wulan dan Dewi hampir bersamaan.
''Kalau boleh memilih Putri tak mau magang, maunya langsung kerja githu mbak bro.'' Ucap Putri dengan santai nya.
Dewi dan Wulan memikirkan ucapan Putri, Dewi menatap Putri sejenak dengan tatapan yang tak bisa di tebak oleh kedua sahabat nya, yang juga saling menatap. Dewi mengernyitkan dahinya karena bingung mau menjawab perkataan Putri yang barusan, Dewi beranjak dari tempat duduk nya,diapun melangkah ke dapur yang disana ada Bu Yuni yang lagi memasak.
Wulan mengangkat satu alisnya, melihat sahabat nya yang tiba-tiba berjalan ke arah dapur.
''Ech Putri,mau ngapain tu bocah masuk dapur.'' tanya Wulan pada Putri yang lagi memasukkan cemilan nya ke dalam mulutnya.
Putri mengangkat bahunya dan berujar, ''Mungkin dia haus kali Lan?''
__ADS_1
''Kalau haus ya tinggal minum, kan minumannya masih utuh noh!'' Wulan menunjuk gelas minuman Dewi yang masih banyak.
''Dari pada penasaran disini, kamu samperin saja ke dapur, di sana ada Ibu kok Lan?'' Suruh Putri pada sahabat nya.
Wulan mengikuti ucapan Putri, Wulan berjalan ke arah dapur dan mengintip sahabat nya dan juga Bu Yuni ibunya Putri.
Dewi sedang asik mengobrol dengan Bu Yuni di dapur.
''Bu, hubungan Putri sama Erlan gimana sekarang?'' tanya Dewi pada Bu Yuni.
''Alhamdulillah hubungan keduanya baik baik saja, bahkan mereka juga sangat rukun walau jauh jauhan kayak gini.'' jawab Bu Yuni, Dewi mengangguk pelan.
Wulan yang menguping memilih kembali ke ruang tamu, menghampiri Putri yang lagi sibuk dengan buku buku di depannya.
Wulan mendesah kesal yang melihat sahabat nya lagi sibuk dengan buku bukunya.
''Aku harus lebih rajin lagi belajar nya Lan, karena aku mau mendapatkan Beasiswa untuk kuliahku besok kalau sudah lulus.'' tutur Putri masih sibuk mencatat buku pelajaran nya. Tanpa menoleh ke arah Wulan yang ada di depan nya.
''Kalau orang ngomong btuh ya di lihat orang nya lah Put, jangan di cuekin yang ngomong Putri?!'' tukas Wulan merampas buku pelajaran yang di pegang sahabat nya.
Putri mendengus kesal karena buku pelajaran nya di rampas oleh Wulan sang sahabat.
Putri menutup buku catatan nya, dan memandangi wajah sahabat nya yang sudah mulai kesal, sedangkan Dewi masih betah bergosip dengan Bu Yuni di dapur, Dewi mencoba membantu Bu Yuni yang lagi sibuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan kedua sahabat nya, Wulan dan juga Putri.
Setelah selesai memasak Dewi di suruh memanggil keduanya untuk segera makan, karena hari sudah sangat siang, kalau orang kota bilang nya telat makan siang, orang desa mah nggak melihat waktu kalau mau makan, asal lapar ya makanπ€π€ππ.
Sedangkan di tempat lain Zein lagi sibuk membantu temannya yang baru saja membuka workshop, Zein menatap ruangan workshop yang berwarna macam macam, segala warna ada di ruangan tersebut, mungkin biar kelihatan rame kali ya.
''Selamat Dani, kamu sekarang sudah memiliki tempat buka usaha, semoga sukses dan tak pernah lupa sama kawanmu yang belum punya apa-apa ini.'' tukas Zein menepuk bahu Dani yang lagi sibuk dengan buku catatan nya.
__ADS_1
''Kamu ini ngomong apa sich Zein, ini semua berkat dukungan dari kamu juga, aku bisa seperti ini sekarang, lagian kamu kenapa bisa ngomong kayak githu sich Zein?!'' Ucap Dani menutup buku catatan workshop nya.
karena di dalam workshop belum lengkap, mungkin harus menambah menu lagi di workshop barunya.
Dani memandang wajah teman kuliahnya yang baru ia kenal beberapa bulan lalu, namun karena Zein orang nya yang apa adanya bukan ada apanya, Dani senang mendapatkan teman baru walau masih belum lama di kenalnya.
''Ya sudah aku kembali ke kampus dulu, sekarang ada mata kuliah ku.'' pamit Zein.
''Hati-hati bro, jangan lupa nanti mampir kesini lagi.'' ucap Dani pada Zein.
Zein berjalan keluar dan men stater motor sport yang baru di belikan oleh Kakak perempuannya seminggu yang lalu, ya sekarang Zein ikut kakak perempuan nya ke Jakarta guna melanjutkan studinya di sana, sedangkan dulu waktu masih sekolah menengah atas (SMA) Zein ikut kakak laki-laki nya untuk menyelesaikan sekolah nya di kediaman istri kakak nya.
Semua kakak kakak nya sudah sepakat, bukan cuma kakak kandung nya namun juga kakak iparnya setuju dengan kesepakatan itu semua dari Zein masih sekolah dasar.
Menurut kakak kakak nya agar tidak memberatkan biaya sekolah adik bungsu nya, namun orang tuanya kadang mengirimkan uang untuk biaya sekolah Zein, walau kena omelan dari kakak kakak nya Zein.
Emang sebagai Adik bungsu selalu mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya, namun kedua orang tua Zein tak pernah membanding bandingkan anak anaknya, kasih sayangnya di bagi rata pada semua anak-anaknya. Jarak Zein dan kedua kakak nya emang berbeda cukup jauh.
Abang Zein baru lulus kuliah, Ibu nya melahirkan Zein, sedangkan dengan kakak keduanya berbeda 12 tahun.
maka dari itu semua kakak nya akan menanggung biaya sekolah Adiknya, agar orang tua nya tidak terlalu berat dalam bekerja karena mereka juga sudah tidak muda lagi, untuk bekerja keras seperti waktu muda dulu.
Orang tua Zein sangat bersyukur mempunyai anak anak yang bisa membantu saudara nya untuk menuntut ilmu sampai ke perguruan tinggi.
ππππ
jangan bosan bacanya ya kak dan makasih yang sudah mampir.
Maafkan Asih yang tak pandai mengarang tapi sok soan bikin novelπππ
__ADS_1