
Satu bulan kemudian
*Kontrakan Putri*
Catering yang Putri jalankan maju dengan pesat, dan sekarang dia sudah mempunyai 3 pegawai untuk membantu nya memasak dan 2 orang untuk mengantarkan pesanan Catering ke kantor maupun ke rumah rumah yang mengadakan acara, tapi mereka tidak mau ribet.
Zein dan Reno sangat bahagia melihat Putri yang kini sudah mulai menuju kesuksesan, sesekali Reno tersenyum melihat kesibukan Putri di dapur yang selalu mengumbar senyumnya, Putri selalu bersikap ramah pda semua pegawainya, Putri sangat menjunjung tinggi kerendahan hati nya.
Ibu ibu yang kini menjadi pegawainya juga senang karena sudah memiliki pekerjaan tetap.
''Neng sudah sore, Ibu pamit dulu ya,'' pamit nya pada Putri yang sedang membereskan sisa Catering ngan yang baru saja di antar oleh Reno dan Zein.
Putri langsung memberikan plastik yang berisi lauk pauk dan juga nasi pada Ibu pegawainya yang ingin pulang.
''Ini Bu,'' ucap Putri memberikan 2 kantong plastik.
''Apa ini Neng?'' tanya Ibu tersebut.
''Bukan apa kok Bu, bawalah agar puteri Ibu juga bisa mencicipi Catering ngan Putri,'' ucapnya lembut seraya tersenyum.
''Neng Putri nggak usah setiap hari bawain Ibu macam macam makanan,'' lirih nya.
''Tidak apa apa kok Bu, lagian kalau nggak ada sisa, Ibu nggak akan bawa makanan untuk pulang?'' sahut Putri menepuk tangan Ibu pegawainya nya.
Putri selalu menyetok makanan ataupun camilan di rumah kontrakan nya, agar kalau Ibu Ibu yang bekerja bisa membawa buah tangan untuk Putera puteri nya di rumah.
Putri tak pernah membeda bedakan pegawainya, Putri selalu mencoba bersikap Adil satu sama lainnya.
Sedangkan Zein dan juga Reno tak pernah mau kalau Putri memberinya upah buat pekerjaan yang ia lakukan.
Kini Workshop Dani juga berkembang sangat pesat, sehingga Dani bisa membuka 4 cabang Workshop miliknya.
Sesekali Putri menghampiri Workshop Dani bersama dengan kedua temannya.
Putri selalu menyempatkan untuk datang ke Workshop nya, saat ada waktu senggang seperti sekarang ini.
Putri sengaja memasakkan untuk Dani dan semua para pegawai Dani.
Zein melajukan motor nya dengan cepat, menyalip mobil mobil mewah di depannya, Reno yang seperti biasa selalu mengikuti kedua nya di belakang.
__ADS_1
Entah Reno di anggap apa sama mereka berdua, karena dengan setia Reno selalu membuntuti Zein dan juga Putri dari belakang nya.
Sesampainya Zein dan Reno langsung memarkirkan motor nya di depan Workshop Dani. Putri masuk begitu saja tanpa menunggu kedua nya terlebih dahulu, dengan 2 kresek di tangannya.
''Assalamu'alaikum,'' sapa Putri pada pengunjung di Workshop Dani.
''Waalaikum salam,'' jawab nya membalas senyuman Putri.
''Mbak Putri jarang main ke sini, kita kita jadi kangen,''
''Maaf Mbak, Putri lagi sibuk di kampus?'' sahutnya.
Pegawai Dani menerima barang bawaan Putri yang tadi dia bawa.
''Oia, Mbak sama Mas sudah pesan nggak?'' Tanya Putri pada pengunjung yang sudah kenal dengan Putri.
''Kita kita sudah pesan tadi sama Mbak Nina,'' Gumam nya.
''Ya sudah Putri tinggal ke dalam dulu ya Mbak dan Mas nya,'' pamit Putri melangkah menemui Dani di ruangan nya. Di mana di sana sudah ada Reno dan juga Zein yang sedang berbincang bincang ringan.
Putri mengetuk pintu ruangan Dani seraya mengucapkan salam.
''Waalaikum salam, kirain kamu nggak bakalan ikut lagi ke sini,'' jawab sekaligus bertanya pada Putri.
''Abang Dani kok ngomong githu sich sekarang, nggak senang nich Putri datang kemari,'' cakap Putri bertolak pinggang.
''Ya karena kamu sudah punya kesibukan dan sukses juga, makanya Abang kira kamu sudah lupain Abang Dani mu ini.'' cetus Dani.
''Ich Abang apa'an coba, mana mungkin Putri melupakan Bang Dani yang sudah membantu Putri sampai sekarang ini.''
''Tanpa kalian bertiga apalah Putri di kota Jakarta ini,'' lirih nya yang mulai berkaca kaca saat mengucapkan hal tersebut.
''Hey!! kenapa menangis, Abang cuma bercanda sama kamu kok,'' Ucap Dani menghampiri Putri yang berdiri di depan pintu.
Dani merangkul Putri dan di bawanya ke sofa di mana dia tadi duduk. sedangkan Zein dan Reno hanya menatap nya saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Di luar ruangan banyak yang berbisik mengenai Putri yang sudah sukses namun masih tetap sama, tidak menampakkan kesuksesan nya apalagi menjadi sombong dengan berpenampilan yang berlebihan.
Putri masih sama dengan Putri yang dulu sebelum dia sukses seperti sekarang ini.
__ADS_1
''Ech tau nggak Mbak Putri ada di sini lho,'' bisik pengunjung yang kenal dengan Putri.
''Penampilan nya masih sama kok, siapa yang kemarin bilang kalau Putri sombong dan memamerkan pakaian mahalnya,'' sambung nya.
''Iya aku juga dengar kemarin ada yang bilang kalau Putri sekarang sudah sombong, tapi nyatanya Putri masih sama, dia masih ramah dan lembut pada kita, penampilan nya juga sangat sederhana,'' cakap pengunjung yang lain.
''Putri tak berubah kok, dia masih sama Putri yang kita kenal dulu sebelum dia sukses, dia selalu rendah hati pada semua orang,''
''Iya bener banget yang dia ucapkan,'' sahutnya.
Putri keluar dari ruangan Dani setelah lama mengobrol dengannya di dalam, Putri menuju pantry menemui Nina yang sedang sibuk di sana.
''Assalamu'alaikum, kak Nina?'' Sapa Putri.
''Waalaikum salam,'' jawabnya mengalihkan pandangan nya dari buku buku pesanan nya.
''Sudah lama datangnya,'' tanya Nina.
''Sudah dari tadi Mbak, tadi masih ngobrol dengan Bang Dani di ruangan nya,'' jawab Putri tersenyum.
''Sendirian saja nich, para bodyguard nggak pada ikut,'' tanya Nina lagi.
Putri mengangkat satu alisnya mendwngar kata bodyguard, ''Maksud Mbak Nina Zein dan juga Reno,'' tanya Putri balik pada Nina.
''Iya mereka para bodyguard mu kan Putri?'' canda Nina seraya terkekeh.
''Sudah lah jngan bahas itu lagi, mereka berdua ada di ruangan Bang Dani sekarang. Apa nich yang bisa Putri bantu,'' ujar nya mengalihkan topik pembicaraan.
''Kalau nggak keberatan, tolong antar ini ke meja no 8,'' kata Nina.
''Mana mungkin berat, kan cuma nampan juga gelas nggak sampai 5 kg pun,'' celoteh Putri seraya mengambil nampan yang sudah berisi dengan minuman dan juga makanan.
''Dasar Putri, emang tak pernah berubah tu anak,'' Gumam Nina melanjutkan pekerjaan nya.
Di meja nomor 8 adalah Erlan yang baru tiba di Jakarta, setelah dari hotel Erlan langsung datang ke Workshop untuk sekedar minum kopi dan mengganjal perutnya yang sudah berdemo sejak berada di dalam pesawat.
Erlan belum memberi tahu pada gadis kecilnya, namun siapa sangka mereka akan bertemu di Workshop Dani pada malam ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1