Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 32


__ADS_3

...Hari berganti hari....


...Minggu berganti bulan....


...Dan bulan pun berganti tahun....


...1 Tahun kemudian...


Setelah lulus dari sekolah SLTP TERBUKA. Anastasya tidak lagi melanjutkan sekolah-nya ke jenjang berikut-nya, karena keterbatasan biaya


Sang orang tua angkat sudah mengupayakan supaya Anastasya bisa meneruskan sekolah. tapi Anastasya sudah tidak mau meneruskan sekolah nya lagi.


Karena Anastasya tau sang Ibu dan Bapak-nya meminjam uang kepada sang mandor buat biaya pendaftaran sekolah-nya.


Maka dari ithu Anastasya sudah tidak mau meneruskan sekolah-nya lagi.


Anastasya lebih memilih membantu sang ibu di sawah, untuk membersihkan Sawah-sawah orang yang menyuruh nya.


Ibu angkat Anastasya hanyalah seorang kuli (buruh tani), sesekali Anastasya melihat wajah sang ibu angkat nya ketika berada di teras Rumah-nya.


Rumah yang cukup sederhana tidak seperti rumah-rumah lainnya, yang terbuat dari batu bata dan beralaskan dengan keramik.


Rumah Anastasya hanya beralaskan tanah dan dinding rumah-nya hanya terbuat dari anyaman bambu saja.


Anastasya tidak pernah malu dengan keadaan rumahnya yang tidak sama seperti rumah yang lain.


Kadang Anastasya merasa malu pada orang tua Angkatnya karena selama ini Anastasya hanya bisa menyusahkan mereka saja, dan dia belum bisa membahagiakan mereka semua.


"Anas minta maaf ya Bu?'' ucap Anastasya menitikkan air mata nya.


" Minta maaf untuk apa sich Anas.'' tanya sang Ibu mengelus pundak Anastasya.


"Ya minta maaf? karena Anas belum bisa membahagiakan kalian berdua.'' ucapnya dan mengusap air matanya yang jatuh di kedua Pipi-nya.


''Sudah lah jangan terlalu di pikirkan, biar semua nya berjalan dengan apa adanya", Mendongakkan wajah Anastasya dan mengusap air mata sang anak angkat.


Sang ibu juga merasakan kepedihan hati sang anak karna semua orang selalu merendahkan keadaan Anastasya yang tak sempurna.


Karena ke sempurna'an hanyalah milik Allah yang maha kuasa.


Ibu Yuni yakin kalau Anastasya sang anak angkat akan mendapatkan kebahagiaan nya.


Tapi belum tau kapan kebahagiaan Anastasya akan menghampiri anak angkat nya.


"Jangan terlalu di pikirin Kata-kata ibu kamu, kamu juga akan merasakan kebahagiaan itu juga, bersabarlah Allah akan mendatangkan jodohmu dengan cara yang sangat indah.'' ucap Bu Yuni Memeluk Anastasya yang masih menangis sesenggukan.


''Tapi Ibu? kata Orang-orang Anas nggak bakalan bisa bahagiain Ibu sama Bapak, maafin Anas yang belum bisa berbakti pada ibu dan Bapak.'' lirihnya

__ADS_1


" Seandainya dulu Ibu dan Bapak tidak mengangkat Anastasya sebagai anak, ibu pasti nggak bakalan susah kayak sekarang ini, dan Anas juga bakalan senang di Alam sana, karena Anas tidak merepotkan semua orang dan ibu nggak bakalan malu karena telah mengadopsi Anas.'' Ucapnya


Anastasya menghela nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan agar sesak di dalam dadanya sedikit berkurang.


Ibu Yuni memeluk Anastasya yang masih menangis.


Menangisi takdir hidup-Nya yang selalu rendah di mata Orang-orang.


Bu yuni menepuk-nepuk punggung Anak-Nya supaya tangisan-nya cepat reda.


"Apa mungkin Anas bisa membahagiakan mu Ibu?, dan apa benar yang di katakan orang-orang kalau Anas tidak akan pernah punya pasangan hidup di dunia ini benar adanya Bu?'' ujarnya dengan suara serak nya Anastasya bertutur kata pada sang ibu mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini di pendamnya sendirian.


"Sudah-lah jangan dengerin omongan mereka. mereka semua bukan Tuhan yang pantas untuk di percaya setiap omongan-omongan nya yang tidak pernah menuju ke kebaikan sama sekali.


Kamu harus yakin pada Allah, kalau kamu bakalan dapetin kebahagiaan di dunia ini, bersabarlah Anas kebahagiaan mu akan segera tiba di lain waktu.'' gumam Sang ibu yang masih setia memeluk Anastasya sang putri angkat.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Sewaktu pagi selesai sholat subuh berjamaah bersama keluarga nya, Anastasya langsung pergi ke dapur membantu sang ibu memasak untuk bekal mereka ke sawah, karena sawah yang di kerjakan Ibu Yuni bakalan di panen hari ini.


Hari yang masih begitu pagi Anastasya sudah buru-buru mengikuti langkah sang Ibu yang begitu cepat, sehingga Anastasya susah untuk mengejarnya.


Anastasya membawa botol minuman di tangan kanan-nya, sedangkan di tangan kiri nya menenteng kuah yang di taruh di panci dan di bungkus dengan tas Kresek.


Karena buru-buru Anastasya sempat Berlari-lari kecil untuk mengejar langkah sang Ibu yang begitu cepat.


Setelah terkejar Anastasya menyalip sang Ibu hingga Anastasya sudah berada di depan nya.


Anastasya menoleh kebelakang dan berceloteh.


" Lagian Ibu juga sich yang salah?!'' Ucap-nya memanyunkan bibir nya.


"Lha kok jadi Ibu yang di salain sich Anas, kan kamu yang lari-larian.'' tanya sang Ibu.


" Kalau Ibu jalan-nya pelan-pelan Anas nggak bakalan lari-lari kayak tadi Bu?'' jawab Anas cengengesan.


" Anas? kalau jalan-nya pelan-pelan kapan sampai nya ke sawah, keburu matahari naik di atas kepala nanti.'' ujar Bu Yuni memberi pengertian pada Anastasya. Anastasya mengangguk kan kepalanya.


"Ya sudah ayo Jalan! Bapak kamu sudah sampai dari tadi dia pasti sudah lapar sekarang.'' Ucap sang Ibu.


Sang Ibu mendahului Anastasya biar cepat sampai di sawah yang mau di Panen.


Sesampai nya di tempat tujuan sang Ibu menaruh Nasi yang di bawanya dari rumah di gubuk yang sengaja pak Amin bikin karena Anastasya sering ikut ke sawah sekarang.


Sebenar-nya pak Amin sangat sayang pada Anastasya sang anak angkat.


Karena pak Amin dan Ibu Yuni tidak mempunyai anak sama sekali.

__ADS_1


Anak pak Amin meninggal dunia waktu masih berusia 7 bulan.


Setelah 5 tahun kematian sang anak Ibu Yuni mulai memeriksakan Kandungan-nya, karena sudah lama Ibu Yuni menginginkan kehadiran sang buah hati lagi, tapi Tuhan Berkehendak lain, Ibu Yuni tidak bisa mempunyai seorang Anak lagi.


Sampai akhirnya Anastasya lahir dan langsung di kasihkan ke Ibu Yuni.


Semenjak saat itu Ibu Yuni dan pak Amin sangat menyayangi Anastasya.


Anastasya tidak di anggap sebagai anak angkat.


pak Amin dan Ibu Yuni menganggap Anastasya sebagai anak kandung nya sendiri.


Beda dengan sang Ibu kandung yang sangat benci pada Anastasya, entah salah apa Anastasya pada sang ibu kandung sehingga dia sangat Membenci-nya, hanya ALLAH dan author yang tau.๐Ÿคญ๐Ÿคญ


"Pak makan dulu? nanti selesai makan di lanjut lagi.'' Teriak Bu' Yuni karena gubuk yang di tempati lumayan jauh dari pak Amin.


" Iya sebentar Bu', nanggung nich nyelesain yang ini dulu.'' pak Amin teriak balik.


"Sudahlah Pak, Bapak makan dulu biar Anas yang lanjutin ini semua.'' Ucap Anastasya yang menghampiri sang bapak angkat dan langsung mengganti Clurit nya.


" Ayo makan bareng-bareng sama Bapak Anas.'' Pintanya sembari mengulurkan tangan-Nya pada Anastasya.


Memegang tangan pak Amin dan berkata.


"Anas belum lapar pak?, Bapak saja yang makan duluan, keburu dingin nasi-nya pak".


" Ya sudah kalau githu, Bapak ke gubuk dulu ya Hati-hati pakek clurit Bapak, ithu sangat tajam tadi pagi Bapak mengasah nya ", Ucap nya mengingat kan Anastasya sang anak angkat.


Anastasya mengangkat jarinya๐Ÿ‘Œ.


" Oke Ayahku sayang.'' Ucap-nya sambil tertawa karena sang Bapak menyentil dahi Anastasya.


"Ich Bapak mah suka githu kalau Anas ngomong sayang.'' Gerutu-nya sambil mengelus elus dahinya yang masih sakit.


" Lagian kamu sendiri kayak githu sama Bapak ".


Anastasya tertawa menanggapi ucapan pak Amin. sedangkan Bu' Yuni sudah lama menunggu sang suami yang belum juga nyamperin diri-Nya, Lalu memanggil pak Amin lagi.


" Aduh Bapak mau makan nggak sich, Ibu sampek lumutan nungguin nya.'' Teriak Bu' Yuni yang langsung di samperin sama pak Amin.


" Nggak usah Keras-keras kayak githu Bu', entar Cantik nya kabur lagi.'' ledek nya


Bu' yuni bersedekap dan melotot pada sang suami yang sudah mengambil nasi dan juga lauknya.


๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰


Makasih kk yang sudah dukung karya receh Al-mahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya kk.


Makasih๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2