Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 154


__ADS_3

Tuan Daniel melepas setbealnya, lantas ia membuka pintu mobil dan turun menghampiri Khumairoh yang masih berdiri di pinggir mobil tuan Daniel.


''Kenapa sich dia harus mau di ajak mampir? aku kan cuma basa basi aja,'' Gumam Khumairoh pelan sehingga hanya di dengar sendiri.


''Ayo masuk!'' ajak tuan Daniel yang mengagetkan Khumairoh.


''Ii...Iya tuan?'' jawab Khumairoh gugup.


Khumairoh berjalan lebih dulu dan diapun mengetuk pintu rumah nya.


Tok tok tok


'' Assalamu'alaikum,'' Ucap Khumairoh dari luar.


''Waalaikum salam?'' jawab seseorang dari dalam, pintu pun terbuka dan terlihat lah sosok wanita paruh baya yang membuka pintu tersebut.


''Nona, baru pulang?'' tanya sang Bibi lembut. ''Oiya mari masuk Nona, tuan,'' lanjutnya lagi yang tersadar kalau dirinya banyak omong.


''Makasih Bi? Mama sama Papa ada nggak?'' tanya Khumairoh, lalu menatap ke arah tuan Daniel.


''Tuan sama nyonya ada di dalam nona?'' jawabnya terus mengikuti anak sang majikan.


''Ya sudah Bibi panggilin Papa saja kalau gitu, bilang kalau ada tamu,'' bisik Khumairoh pelan.


''Baik Nona?'' balasnya dan melangkah pergi menuju ke lantai 2, di man sang tuan sedang berada di kamarnya.


''Silahkan duduk tuan, maaf saya tinggal dulu sebentar?'' pamit Khumairoh.


''Hemm,'' jawabnya dingin, tuan Daniel menyandarkan bahunya ke sandaran sofa yang ia duduki sekarang ini.


Khumairoh menaiki anak tangga satu persatu tanpa melihat ke belakang lagi.

__ADS_1


''Kalau dia anak orang kaya, kenapa dia harus bekerja di perusahaan ku sekarang, apa ada hal yang dia sembunyikan, atau dia sengaja menjadi mata mata di perusahaan,'' Gumam tuan Daniel sepeninggal Khumairoh. Tak lama kemudian pria setengah tua terlihat menuruni tangga, tuan Daniel mengangkat satu alisnya ternyata yang datang menghampiri nya, adalah tak lain kolega Papa nya.


''Pantas saja aku merasa pernah datang ke sini, ternyata dia adalah kolega Papa,'' Gumamnya pelan.


''Selamat malam tuan?'' sapa tuan Daniel saat Papa Khumairoh berada di dekatnya.


''Malam juga anak muda,'' balasnya membalas uluran tangan dari tuan Daniel.


''Anak muda, kamu cari siapa malam malam begini?'' tanya Papa Khumairoh yang belum mengetahui kalau tuan Daniel mengantarkan puteri nya pulang.


''Och maaf tuan, say ke sini mengantarkan karyawan saya, karena tadi sempat mampir di rumah adik saya?!'' jelas tuan Daniel.


''Maksud anak muda, kamu mengantarkan Khumairoh?'' tanya nya bingung.


''Benar tuan? tadi pulang dari kantor dia menjenguk adik saya yang sedang sakit di rumah, jadi saya antar pulang karena hari sudah malam? takutnya terjadi sesuatu sama dia,'' jawabnya menjelaskan.


''Maaf tuan? ini minuman nya dan silakan di minum,'' kata Bibi pelayan yang bekerja di rumah besar Khumairoh.


''Kenapa bisa githu tuan, bukannya lebih enak bekerja di perusahaan orang tuanya,'' tanya Daniel yang mulai mengorek informasi tentang Khumairoh.


''Dia pernah bilang ingin mandiri dan tak bergantung pada saya anak muda, dia juga sempat beberapa kali di pecat karena memakai hijab ke kantor nya, tapi dia tak pernah putus asa. Katanya dengan usaha bersungguh sungguh pasti akan indah pada waktunya, entah di perusahaan kali ini dia akan di pecat lagi atau enggak, karena dia yang berhijab,''


''Khumairoh emang beda sama saudara nya yang lain, sejak kecil dia sangat suka dengan baju gamis dan berhijab, sedangkan teman temannya yang lain lebih memilih memakai pakaian mini, dan tren di,'' lanjut nya, Papa Khumairoh bercerita tentang puteri satu satunya di keluarga Bagaskara.


Tuan Daniel mengangguk pelan seraya mencerna setiap yang di ucapkan Papa Khumairoh, 'Jadi dia mempunyai pribadi yang baik, dan inilah yang aku cari selama ini, semoga yang aku do'akan selama ini di kabulkan sang Khalik,' batin tuan Daniel dalam hati.


Khumairoh berlari dari atas dengan masih memakai mukenah nya, dia menghampiri Papa nya yang sedang asik mengobrol dengan tuan Daniel.


''Maaf tuan, saya lupa kalau anda masih berada di sini,'' Ucap nya seraya mengatur nafas nya yang masih ngos ngosan karena dia berlari dari kamar nya, menuju ruang tamu di lantai bawah.


''Nggak apa apa kok, saya sedang mengobrol dengan Papa kamu di sini, kamu lanjutkan saja kegiatan kamu sekarang,'' sahut tuan Daniel menatap Khumairoh yang memakai mukenah nya, dengan wajah tanpa polesan make up sama sekali.

__ADS_1


''Cantik?'' satu kata yang lolos begitu saja dari bibir tipis tuan Daniel.


''Maksud tuan apa?'' tanya Khumairoh yang mendengar sayup-sayup gumaman tuan Daniel.


''Nggak apa apa kok, kalau begitu saya pamit pulang dulu tuan,'' pamit tuan Daniel, seraya mengulurkan tangan nya pada Papa Khumairoh.


''Iya, hati hati di jalan anak muda?'' Ucap Papa Khumairoh.


Tuan Daniel melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir didepan rumah Khumairoh, Khumairoh mengikuti tuan Daniel dari belakang nya.


''Terima kasih tuan? sudah mengantar ku pulang,'' Ucap Khumairoh sebelum tuan Daniel masuk ke dalam mobilnya.


''Hemm....!'' jawab nya singkat, tuan Daniel menyala kan mobil nya keluar dari halaman rumah besar Khumairoh.


Tuan Daniel membelah jalanan kota Jakarta, yang semakin menarik perhatian orang orang sehingga berbondong- bondong untuk mendatangi kota metropolitan tersebut.


Tuan Daniel melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata rata, karena kebetulan jalanan mulai lengang, sehingga tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah nya.


Di rumah besarnya, sudah nampak terlihat berkumpul semua penghuni rumah tersebut, suara gelak tawa mulai terdengar di kediaman keluarga Aditama.


tuan Daniel memarkirkan mobil nya di garasi, yang kebetulan belum tertutup karena masih menunggu kedatangan tuan Daniel yang sedang mengantarkan Khumairoh pulang.


''Yang lain sudah pulang belum pak?'' tanya tuan Daniel pada batang enjaga rumahnya.


''Sudah tuan muda, tuan besar dan yang lainnya sudah pulang? baru saja sampai,'' jelas kang Zul pada sang tuan nya.


''Baiklah, terima kasih? Bapak beristirahat lah,'' titah tuan Daniel yang di angguki kang Zul.


Zulkarnain adalah seorang pria paruh baya yang bertugas menjaga rumahnya, Zulkarnain sendiri sudah sangat lama bekerja di sana, sejak tuan Daniel berumur 7 tahun beliau sudah mulai bekerja di rumah tuan Aditama, tuan Daniel biasa memanggilnya dengan kang Zul, karena tuan Daniel lebih suka memanggil kang dari pada bapak.


Tuan Daniel sayup-sayup mendengar kekehan dari adik perempuan nya, yang sedang merasa bahagia, mungkin dengan kehadiran Anggia di rumah nya sehingga sang adik bisa mempunyai teman sesama wanita, tuan Daniel tak keberatan dengan keberadaan Anggia di rumahnya, asal tidak membawa aura negatif saja pada keluarga nya, yang sekarang sudah lebih baik setelah pertemuan nya dengan Putri, yang kini sudah menjadi adik angkat nya.

__ADS_1


__ADS_2