
''Ich si Bapak? sudah tua juga masih ngegombalin Ibu?!'' Ucap Bu Yuni menepuk bahu sang suami.
''Ya ndak apa apalah Bu? biar awet muda kita.'' Ujar nya bercanda sembari cengengesan.
''Ya sudah nggak usah ngomong terus Pak kalau lagi makan, entar nasi 1 baki ini malah di habisin lagi sama Bapak, karena makannya sambil ngobrol.'' seru Bu Yuni.
''Githu banget Ibu sama Bapak?'' Gumamnya.
''Yasudah Ibu mau nyamperin Anas dulu ya pak?!'' ucap-nya.
Bu Yuni menghampiri sang putri yang lagi asik memanen padinya, Anastasya sangat lihai memainkan clurit yang buat memanen padi padinya?
''Hati-hati ndok? clurit Bapak thu tajam banget lho.'' Ucap Bu Yuni saat sudah berada tak jauh dari Anastasya.
''Iya Bu? Ibu tenang saja ini Anas sudah sangat berhati-hati.'' jawabnya tanpa menoleh pada sang Ibu dia terus memanen padinya. .
''Mbok yo kalau ada orang ngomong thu ya di lihat siapa orangnya githu Anas.'' ucap Bu Yuni karena Anas masih tetap tak memandang ke arah sang Ibu.
''Kalau Anas nengok ke arah Ibu? tangan Anas bisa kena clurit Ibuku sayang.''Ujar Anas yang sudah menegakkan tubuhnya dan mulai menghampiri Bu Yuni sang Ibu.
''Ibu? Anas ke saung dulu ya, capek nich.'' ucapnya dan di angguki oleh sang Ibu.
Anastasya tersenyum dan berkata '' makasih banyak Bu?'' Anas pun mencium pipi sang Ibu.
Dan tak lama kemudian Anas berteduh di bawah Saung yang Pak Amin bikin.
Anastasya memainkan HP pemberian Erlan, dan kini? keduanya sudah hampir 2 tahun Erlan dan Anastasya berhubungan lewat ponsel yang dia kasih.
Sedangkan akhir akhir ini kegiatan Erlan di perantauan lumayan padat, tapi ia sempatkan untuk menghubungi pujaan hati-Nya, walau lagi sibuk seperti apa dia tetap menghubungi Anastasya hanya untuk bertanya keadaannya saja.
Kini tak ada lagi air mata yang menetes di kedua pipi Anastasya.
Walau Ibu kandung nya masih memperlakukan Anastasya secara tidak adil, baginya sekarang itu hanyalah sebuah tantangan yang mana harus selalu ia lewati dengan keberanian dan kesabaran.
Hampir 2 tahun ini Anastasya berhubungan dengan Erlan secara jarak jauh, walaupun hubungan mereka jauh saat ini, namun Erlan berjanji akan membahagiakan Anastasya, gadis yang ia panggil cebol kini sudah menjadi kekasih nya.
''Benar kata Pak Rudi, benci jadi cinta.'' Gumam erlan di dalam kelasnya, iapun tersenyum mengingat dulu di mana dia selalu membully kekasih nya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Kini Anastasya berusia 18 tahun, angka yang sudah matang untuk segera menikah, bagi anak gadis yang berada di Kampung.
Tepat di ulang tahun nya, Erlan beserta keluarga nya mendatangi rumah Anastasya secara tiba-tiba.
Tak ada pemberitahuan dari Erlan kalau dia dan keluarga nya bakalan ke rumah Anastasya.
Erlan hanya bilang bakalan pulang bulan ini pada Anastasya.
Anastasya sendiri tidak menyangka kalau erlan bakalan ke rumahnya.
__ADS_1
Karena Anastasya sendiri tidak yakin dengan semua omongan Erlan, Anastasya tak menganggap serius semua perkataan Erlan selama hampir 3 tahun belakangan ini.
Tapi Erlan menepati perkataan nya yang bilang akan menemuinya di rumah pada suatu saat nanti.
tapi dia tidak bilang akan membawa keluarga nya juga ke rumah.
Tok...tok...tok...
''Assalamu'alaikum.'' Ucap Erlan dari luar.
''Waalaikum salam.'' jawab Anastasya dan bergegas membuka pintu, setelah pintu terbuka Anastasya kaget bukan kepalang.
karena yang ada di depan pintu adalah Erlan beserta keluarga besarnya.
Anastasya dan keluarga nya di buat kaget dengan kedatangan Erlan dan keluarga nya.
''Er...erlan.'' ucap Anastasya gugup.
''Ndak di suruh masuk nich? berdiri saja di depan pintu.'' Ujar Erlan pelan dan dia mendapatkan tonyoran dari sang kakak.
''Maaf, maaf mari silahkan masuk.'' ucap Anastasya mengulurkan tangan-Nya mencium tangan keluarga dari Erlan.
Tak berselang lama Ibu Yuni dan Pak Amin menghampiri Erlan beserta keluarga nya.
''Assalamu'alaikum.'' ucap Pak Amin sopan. karena ini adalah pertama kalinya mereka bertemu walaupun mereka berada di satu kampung.
''Waalaikum salam.''keluarga Erlan menjawab.
''Iya nggak apa apa Pak? mohon maaf juga karena tak ada hidangan di meja.'' ucap Pak Amin sopan.
''Iya nggak apa apa Pak, ini semua bukan salah Bapak kok? kami yang datangnya dadakan, karena kebetulan kami baru pulang kemarin jadi baru sekarang bisa mampir ke rumah Pak Amin.'' ucap Pak Angga ayah dari Erlan.
Tak lama kemudian Anastasya keluar dari dalam dengan membawa nampan dan beberapa gelas yang berisi teh hangat.
Sedangkan Bu Yuni membawa beberapa piring yang berisi gorengan.
''Silahkan Bu? Pak di minum teh nya dan monggo gorengannya di sambi.'' Ucap Bu Yuni mempersilahkan sang tamunya untuk memunum teh nya.
''Anastasya bolehkah duduk di sini.'' pinta Bu Ristie ibunya Erlan.
Anastasya menatap sang Ibu, Bu Yuni yang di tatap oleh sang putri mengerti akan pertanyaan sang putri,dan diapun mengangguk kepalanya.
Anastasya beranjak dari tempat duduk nya dan melangkah menuju ke tempat Bu Ristie berada, perasaan Anastasya saat ini campur aduk, antara senang, bingung, atau bahkan bahagia.
(pasti lah bahagia Anastasya, positif thinking ajalahπ€π€)
Anastasya mulai mendudukkan dirinya di samping Ibu-Nya Erlan, dengan menundukkan kepalanya.
''Maaf ya nak Anastasya? kami datangnya tiba-tiba, dan kami tidak membawa apa apa untuk kamu?!'' kata Bu Ristie memulai obrolan nya dengan Anastasya.
__ADS_1
Bu Ristie memegang tangan Anastasya dengan erat dan beberapa kali menepuk-nepuk tangan-Nya.
''Nggak apa apa kok tante? Anas tidak mengharapkan oleh-oleh, asal tante dan sekeluarga sehat Anas sudah senang kok.'' ucapnya dengan sangat hati hati karena takut akan menyinggung perasaan keluarga Erlan.
''Makasih ya nak Anas?'' ucap Bu Ristie lagi.
Kini giliran kakek Erlan yang berbicara pada Bapak nya Anastasya. beliau berbicara langsung ke intinya kenapa dia sekeluarga bisa datang ke rumah Pak Amin.
''Gini Nak Amin? kedatangan kami sekeluarga ke sini untuk melamar Anastasya untuk Erlan.''ucap kakek Iwan tho the poin.
Anastasya hanya bisa menutup mulut dengan tangan-Nya.
Karena Anastasya tak percaya yang di dengar barusan.
Anastasya menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya yang sudah yang sudah panas dingin.
''Nak Anas gimana? mau nggak jadi pendamping Erlan untuk seumur hidupnya.'' Tanya Bu Ristie , Bu Ristie masih setia memegang tangan Anastasya yang mulai basah dengan keringat dingin di telapak tangan nya.
''Gimana Pak Amin?, apa Bapak setuju Anastasya dengan Erlan.'' tanya Pak Angga karena melihat Pak Amin yang kaget dengan ucapan sang mertua barusan.
''Kalau saya terserah sama anaknya Pak Angga.'' jawabnya.
''Gimana ndok?'' tanya sang ibu.
Anastasya mengangkat kepalanya melihat pada sang Ibu, lalu dia menunduk kembali.
''Mau nggak sama Erlan yang nakal ini?'' tanya sang Nenek Erlan yang juga ikut serta.
Nenek Erlan mendongakkan wajah Anastasya dengan hati-hati agar sang Nenek bisa melihat dengan jelas wajah sang calon cucu mantu.
Anastasya melihat wajah Nenek Erlan yang sudah di penuhi keriput, serta dengan harapan untuk di terimanya sang cucu. Anastasya sempat melirik kearah Erlan untuk memastikan kalau ini bukan mimpi tapi kenyataan.
Erlan yang di lihat Anastasya menganggukkan kepalanya.
''Mau ya jadi mantu cucu Nenek.''ucap sang Nenek lagi karena Anastasya hanya bengong tanpa menjawab pertanyaan dari keluarga dari Erlan.
''Iya Anas mau Nek?'' ucapnya pelan tapi masih di dengar oleh sang Nenek.
''Alhamdulillah.... ? akhirnya Nenek punya cucu mantu juga.'' Ujarnya yang langsung kena semprot oleh cucu mantu pertama nya.
''Ich Nenek mah githu? giliran dah dapat cucu mantu yang kedua yang pertama di lupain?'' Ujar Felisha istri dari sang kakak.
Celetukan Felisha membuat suasana yang tegang menjadi riuh dengan suara tawa'an dari orang-orang yang berada di rumah Anastasya.
ππππ
Maaf baru up lagi Kemarin sibuk lagi bantuin tetangga 1000hari meninggal anaknya.
jadi sibuk bangetπππ
__ADS_1
makasih buat yang selalu dukung karya receh Al-mahyra. ππ
makasih πππ