
-'' Assalamu'alaikum.'' Ucap Erlan lembut, dia tersenyum kearah layar ponsel yang menampilkan wajah sang gadis.
-'' Waalaikum salam.'' jawab Anastasya juga tersenyum pada Erlan.
-'' Kemana saja sayang? dari tadi aku nelvon tapi nggak di terima.'' kata Erlan cemberut.
-'' Ma'af kak? tadi Anas ada di musholla waktu kakak nelvon Anas.'' sahut Anastasya menunduk karena merasa bersalah.
-'' Ya sudah nggak usah sedih githu, Oia sayang kamu sudah buka yang di bawa Ibu sama Bapak nya kakak semalam.'' tanya Erlan mengalihkan obrolan nya.
Anastasya menggeleng.
-'' Lho kenapa belum di buka.'' tanya Erlan lagi membuat Anastasya beranjak pergi mengambil seserahan yang di bawa Mertuanya semalam.
Erlan melihat Anastasya mulai membuka kotak yang berisi baju yang ia beli bersama Erlan kemarin, namun Anastasya kaget melihat formulir pendaftaran sekolah yang di selipkan di antara baju baju tersebut.
-'' Maksudnya ini apa kak? Anas tidak faham.'' tanyanya menunjukkan selembar kertas pada Erlan.
Erlan tersenyum melihat kertas yang diperlihatkan gadisnya.
Erlan menoleh kebelakang memperlihatkan sang Ibu yang duduk di jok belakang nya.
-'' Itu buat Menantuku tercinta, belajar yang rajin ya sayang? Ibu sudah mendaftarkan Tasya di sekolah itu.'' kata Bu Ristie tersenyum pada Anastasya sang menantu.
-'' Sekarang sudah faham kan sayang... ? itu Ibu sama Bapak yang daftarin kamu sekolah, mulai dari sekarang kamu harus belajar, Oke sayang?!'' ujar Erlan, sedangkan Anastasya menutup mulutnya dan menangis karena terharu.
-'' Lho... lho kenapa nangis githu sich sayang? jangan sedih ya, senyum dong.'' goda Erlan.
Anastasya menghapus air mata nya yang sempat mengalir di kedua pipinya.
-'' Makanya jangan lupa selalu do'ain keluarga kakak juga ya.'' ucap Erlan tanpa henti membuat Anastasya tersenyum.
-'' Nah senyum kayak githu kan lebih manis dan cantik pula sayangku ini?'' Ucapnya lagi.
Ponsel Erlan di rebut oleh kakak ipar nya.
-'' Adek Tasya... ? jangan dengerin tu gombalan adek ya, oia dek entar sore ada orang yang bakalan nganter motor ke rumah adek Tasya.'' ucap Felisha istri Kevin.
-'' Motor? mo...motor siapa mbak.'' tanya Anastasya kaget.
__ADS_1
-'' Motor yang ada di rumah mas kevin kemarin itu, kalau nggak di nyalain kan lama-lama rusak dek, jadi kalau adek ke sekolah kan bisa bawa motor itu.'' jawab Felisha panjar lebar.
Anastasya mengangguk mengerti.
-'' sudah dulu ya sayang? kakak sudah ada di pelabuhan nich, nanti kakak hubungi lagi Oke, babay sayangnya kak Erlan, Assalamu'alaikum.'' Ucap nya tersenyum dan mematikan ponselnya setelah mendapatkan jawaban dari Anastasya sang gadis.
Anastasya memeluk ponselnya, seakan-akan yang dia peluk adalah Erlan sang pujaan hati.
''Rasa-rasanya aku seperti orang gila dech, Ach..... !!'' teriaknya yang menenggelamkan sebagian wajahnya di bantal, karena takut para tetangganya berhamburan menghampiri dirinya.
''Ach... ! kak Erlan emang bikin orang penasaran terus, kemarin bilangnya bulan depan pulangnya, ech tiba-tiba dateng ke rumah membawa keluarga nya, dan sekarang malah masukin aku ke sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri.'' gumamnya dan dia baru teringat kalau dia tidak mempunyai seragam.
''Aduhh... ? bagaimana ini, masuk sekolahnya lusa tapi aku belum punya seragam dan alat tulis juga.'' ucapnya mondar-mandir dan terus berfikir.
''Sudahlah, Anas bilang Ibu sama Bapak aja dulu, pusing, pusing, pusing mikirnya?!'' mengacak-acak rambut nya yang panjang, namun Anastasya selalu mencepol rambutnya, tak sekalipun ia gerai sampai-sampai ia tak menyadari kalau rambutnya sudah sangat panjang.
Menjelang siang Pak Amin dan juga Bu Yuni pulang dari sawah juragannya.
Bu Yuni memasuki rumahnya lewat pintu samping sehingga Anastasya tidak tau kedatangan sang Ibu.
Sedangkan Pak Amin masih duduk santai di samping rumahnya, sambil menikmati tiupan angin yang begitu menyejukkan, seakan-akan Pak Amin tak mau memasuki rumahnya, di kala ia baru pulang dari sawah.
Terkadang Pak Amin tidur di kursi yang ia buat sendiri dari bambu, kursi tersebut sedikit memanjang sehingga nyaman untuk ia tiduri, sambil merasakan semilir angin.
''Heeemm....!''
Anastasya terlonjak kaget melihat sang Ibu sudah melipat tangan di dadanya.
Anastasya mencoba tersenyum menanggapi tatapan sang Ibu yang amat sangat beda dari hari-hari kemarin.
''Ibu sudah pulang.'' tanya Anastasya mencoba tetap tenang.
''Iya, dari tadi malah nyampeknya? kamu kemana saja sampai-sampai Ibu pulang kamu tidak tau gitu.'' sahut Bu Yuni masih melipat tangannya dan terus menatap sang Putri.
''Anas nggak kemana-mana kok Bu? Anas di sini saja nonton itu.'' Ujar Anastasya menunjuk ke arah televisi nya.
''Terus! kenapa kaget githu lihat Ibu di sini.'' tanyanya dengan nada ketus.
''A... Anas tidak melihat Ibu pulang?'' jawabnya memainkan jemari tangannya.
__ADS_1
''Sudahlah Bu? jangan galak galak, Anas takut lihat Ibu yang seperti ini.'' celetuk Anastasya menghampiri Bu Yuni yang masih berdiri di sampingnya.
Dalam hati, Bu Yuni tertawa puas bisa ngerjain Putri nya.
''Lagian suruh siapa tadi pagi kamu acuh sama Ibu?'' batin Bu Yuni.
Anastasya mendudukkan sang Ibu dan ia memegang tangan Ibunya.
''Ibu... ? Ibu tau nggak kalau Anas di daftarin sekolah sama Ibu Ristie.'' tanyanya menggenggam tangan Ibu Yuni.
Ibu Yuni menggeleng karena sebetulnya sang Besan tidak mengatakan apa apa pada Bu Yuni.
''Anas bingung Bu? lusa harus masuk sekolah, sedangkan Anas tidak punya perlengkapan sekolah, seperti halnya seragam, sepatu dan lainnya.'' Ucap Anastasya mengeluarkan semua unek uneknya.
Bu Yuni menepuk-nepuk tangan sang Putri, ''Coba Ibu lihat.'' sahut Bu Yuni mengajak Anastasya ke kamarnya.
Anastasya mengikuti langkah sang IIbu menuju ke kamarnya.
Anastasya memberikan kertas putih pada sang Ibu.
''Tas itu berisi apa saja.'' tanya Bu Yuni menunjuk tas yang ada di atas nakas.
Anastasya menggeleng, ''Anas belum buka tas itu, jadi mana tau isinya apa'an.'' ucap Anastasya enteng.
Bu Yuni meraih tas tersebut, ia membuka dengan perlahan dan mengeluarkan semua isi di dalamnya.
Anastasya dan Bu Yuni tercengang melihat isi dari tas itu, yang ternyata adalah baju yang ia beli kemarin dan 2 seragam, putih dan coklat lengkap dengan jilbabnya.
''Ini lihat! di dalam sini sudah lengkap semuanya Ndok, tinggal beli buku saja.'' ujar Bu Yuni menghilangkan rasa kagetnya.
''Anastasya cuma ambil kertas ini saja dari tas itu?'' ucapnya menunduk.
''Sudahlah? jangan terlalu di pikirkan, biar Ibu dan Bapak yang memikirkan ini semua.'' kata Bu Yuni menepuk pelan pundak sang Putri.
(Akhirnya Anastasya sudah menemukan sebagian kebahagiaan nya).
👉👉👉👉
Makasih buat yang selalu dukung karya receh Al-mahyra.
__ADS_1
Dan jangan lupa like, komen, vote, dan juga hadiahnya kk🤭🤭🤭
Makasih🙏🙏🙏