
''Ya sudah, kalau githu kamu ikut aku pulang ke rumah Mama,'' lanjutnya lagi, sedangkan putri hanya bisa menghembuskan nafas, Putri juga bergumam pelan sehingga orang yang berada di ruangan Pak Daniel.
''Kalau Putri pulang sekarang, pasti kerjaan Putri makin menumpuk besok dech?''
''Ma? kalau Putri nggak mau jangan di paksa dong, kasian dia,'' tutur Pak Daniel saat Bu Widya ingin membawaku keluar dari ruangannya.
''Diam Daniel! kalau sampai terjadi sesuatu pada Putri, kamu mau bertanggung jawab?!'' pekik Bu Widya pada Pak Daniel putera nya.
''Erlan? boleh ya Mama bawa Putri pulang ke rumah, lagian Mama sudah minta ijin sama Papa kamu juga kok Daniel,'' tanya Bu Widya pada Erlan, tak lupa juga Bu Widya mengatakan kalau dirinya sudah minta izin pada Pak Aries, yang tak lain adalah Ayah dari Pak Daniel sendiri.
''Iya boleh kok Bu? Erlan juga sangat berterima kasih pada Bu Widya, karena sudah mau menjaga Putri istri Erlan,'' Ucap Mas Erlan sopan dan menundukkan kepalanya.
''Aiss, kamu ini ngomong apa sich Erlan, Putri juga anak Mama, sama seperti Daniel dan juga Sandra,'' jelas Bu Widya pada Mas Erlan.
''Ya sudah kalau githu, Mama dan Putri pamit dulu,'' Ucap Bu Widya merengkuh Putri sang puteri angkat.
''Tapi Bu? kerjaan Putri masih banyak, Putri harus segera menyelesaikan nya,'' Gumamku pelan, namun masih di dengar oleh Pak Daniel dan juga Mas Erlan.
'''Sudah, jangan mikirin kerjaan dulu. Nanti biar Daniel saja yang urus, atau nggak? suami kamu saja yang meng-handle nya,'' jawab Bu Widya yang langsung di angguki oleh keduanya.
Putri menarik nafas lega mendengar ucapan Bu Widya barusan. Sebelum Putri keluar dari ruangan sang CEO, tak lupa dia menciun tangan suaminya dan juga CEO itu sendiri, yang lain adalah kakak angkat nya.
Bu Widya dan Putri melangkah keluar ruangan menuju ke lift yang di khususkan untuk para petinggi, ''Bu? tas Putri masih ada di ruangan Putri,'' gummnya pelan.
''Iya, kita pergi ke ruangan kamu dulu untuk mengambil tas nya, bagaimana,'' tanya Bu Widya menatap wajah sang Puteri angkat nya.
__ADS_1
Putri mengangguk dan tersenyum pada Bu Widya yang sedari tadi menatapnya.
Sesampai di lantai 15 Bu Widya mengantarkan Putri ke ruangan nya, untuk mengambil tas nya.
Semua para karyawan menunduk hormat saat melihat Bu Widya, sedangkan Putri merasa canggung karena melihat tatapan dari para teman teman nya yang juga bekerja di sana.
''Putri kamu sudah baikan?'' sapa mbak Sisil padaku.
''Alhamdulillah mbak, saya baik baik saja,'' jawabku tersenyum.
''Sudah, ambil tas nya habis itu langsung ke rumah Ibu,'' Ujar Bu Widya yang berdiri di depan pintu, Bu Widya sengaja menunggu nya di depan pintu.
''Nyonya?'' sapa mbak Sisil dan juga kak Anjas, sedangkan mbak Agnes hanya diam saja di kursi nya, dia pura-pura menyibukkan dirinya di depan komputer nya, padahal kalau nggak ada orang lain dia cuma bermain ponsel, dan selalu menyuruh para junior nya untuk menyelesaikan kerjaan dia. Seperti yang tadi dia lakukan padaku, memberikan semua berkas yang seharusnya dia kerjaan sendiri, ech malah di limpahkan pada junior junior nya yang baru saja masuk ke dalam kantor tersebut. Tapi untung lah semua itu di ketahui oleh Mas Erlan suami Putri sendiri.
''Maaf kak Anjas, Putri harus pulang sekarang, Pak Bos yang nyuruh Putri pulang,'' ucapku berpamitan pada mbak Sisil dan juga kak Anjas, tak lupa juga Putri menghampiri mbak Agnes dan berpamitan juga pada mbak Agnes, walaupun tidak mendapatkan respon dari mbak Agnes itu sendiri.
''Mbak Agnes, Putri pamit pulang dan Putri juga sudah ijin ke Pak CEO,'' kataku sembari mengulurkan tangan pada mbak Agnes, namun tanganku masih mengambang, mbak Agnes tidak menerima uluran tangan dariku, dengan terpaksa aku menarik kembali tangan yang sempat aku ulurkan tadi.
Bu Widya melihat jelas tingkah laku mbak Agnes yang cuek padaku, namun beliau tidak mau ikut campur dan berpura-pura memanggilku dengan sebutan sayang?.
''Sayang? ayo cepat, takutnya Papa nunggu kita di rumah,'' Ucap nya yang emang sengaja di kerasin suaranya.
''Ya sudah kalau githu, Putri pamit ya mbak Sisil, kak Anjas?'' gumamku dan melangkah pergi ke arah Bu Widya yang sudah melipat kedua tangan ke dadanya.
Bu Widya langsung merangkul lengan ku, otomatis semua para karyawan yang sudah di kontrak kerja atau yang masih magang di kantor tersebut pada menatap ku nyalang.
__ADS_1
Setelah kepergian Putri dan juga Bu Widya, semuanya karyawan di sana mulai ngegibah kembali.
''Ech, kalian tau nggak hubungan CEO dan anak baru itu seperti apa, kok nyonya Aditama begitu baik padanya,'' tanya salah satu karyawan yang satu ruangan dengan ku.
''Mungkin, Putri calon nya CEO kali,'' lanjut lainnya yang juga menimpali pertanyaan karyawan tadi.
''Apa mungkin Putri sedang hamil anak Pak Daniel?''
''Mana ada, CEO kita belum nikah kok, masak iya sudah menghamili anak baru itu,''
''Huss...! jangan ngomong yang aneh aneh dech, bagaimana kalau CEO kita mendengar perkataan kalian yang tidak ada bukti sama sekali,'' kata mbak Sisil mencoba menghentikan pikiran buruk para karyawan terhadap Putri.
''Sudah nggak usah di dengerin omongan si Sisil, dia itu selalu membela si Putri anak baru itu, makanya dia bilang kayak githu,'' sahut mbak Agnes yang mengambil berkas berkas di meja kerja Putri.
''Palingan dia beneran hamil, masa iya dia makan buah mangga yang masih muda, dan kalian lihat sendiri kan? tadi di meja kerjanya ada rujak buah, kalu dia nggak hamil nggak bakalan tuh muntah muntah hanya karena membuka kotak nasi yang Sisil bawa tadi dari kantin,'' lanjut mbak Agnes panjang lebar, sehingga para karyawan membenci Putri di kantor Aditama Grub.
Sedangkan di depan pintu ruangan mbak Agnes sudah berdiri sang sekretaris Pak Daniel, dia sengaja menguping pembicara'an para Staf marketing nya sepeninggal Bu Widya dan juga Putri.
Bu Widya tadi memang mengirimkan chat pada sekretaris putera nya, yang mengatakan ada Staf marketing nya yang tidak menyukai kehadiran Putri di ruangan nya.
''Ternyata yang di katakan nyonya tadi benar,'' Gumamnya pelan dan melangkah masuk ke ruangan tersebut.
Sang sekretaris masih melihat mbak Agnes yang masih berkata buruk mengenai Putri, sampai akhirnya beliau berdeham, memberitahukan tentang keberada'an nya yang sudah ada di dalam ruangan itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1