
Kini Erlan sudah sampai di Bandar Udara Melbourne, Erlan dan Agus menggeret kopernya keluar Bandara, Pak kepsek sendiri hanya membawa tas ransel.
Diluar sudah ada orang yang menunggu kedatangan mereka bertiga.
Author tak bisa bahasa Inggris, pakek bahasa Indonesia aja ya kak 🙏🙏.
''Sudah lama nunggunya Pak?'' tanya Pak kepsek pada orang yang menunggunya.
''Belum lama kok Pak?'' Jawab sang sopir yang sedari tadi sudah menunggu nya.
''Mari kita langsung ke Asrama saja.'' pungkas sang sopir mengajak ketiganya masuk kedalam mobilnya.
Selama menuju ke Asrama yang di maksud sopir barusan, Erlan mengambil ponselnya di saku jaketnya, ia melihat layar ponselnya siapa tau gadis kecilnya mengirimi dia pesan, namun lagi lagi Erlan harus kecewa karena gadis kecilnya tak mengirimi dia pesan.
Erlan menghembuskan nafas kasarnya dan melihat keluar jendela, pemandangan di Australia memang sangatlah indah.
Sedangkan Agus gembul selalu menyunggingkan senyumnya, ''Indah sekali ya Bro pemandangan nya.'' Ujar Agus gembul namun tak di tanggapi oleh Erlan.
Tak berselang lama, mereka sudah sampai di Asrama universiti yang akan ditempati oleh keduanya.
keduanya pun keluar dari mobilnya dan menuju meja resepsionis guna mengambil kunci kamarnya.
''Maaf mbak, kami mau ambil kunci kamar untuk 2 orang.'' tanya Erlan pada sang resepsionis.
''Ini kuncinya, 217 dan 218.'' jawab sang resepsionis dan memberikan kunci kamar untuk mereka berdua.
Erlan dan Agus gembul menuju ke kamar nya setelah menerima kunci dari sang resepsionis.
Erlan membuka pintu kamar nya dengan kunci yang ia pegang, Erlan langsung merebahkan merebahkan tubuhnya di kasur yang sudah tersedia didalam Asrama.
Erlan mengambil ponselnya kembali namun ia meletakkan lagi ponselnya di atas nakas, dan Erlan memilih untuk tidur sejenak menghilang kan rasa lelah di tubuhnya.
*-*-*-*-*-*-*-*
Di dalam negeri Putri sudah mulai tersenyum lagi, setelah kepergian tunangannya untuk menyelesaikan studinya di sana.
__ADS_1
Kini Putri sudah memasuki kelas 2.
''Kalian senang nggak ada di kelas yang sekarang.'' Tanya Davin yang memilih duduk di belakang Putri dan Dewi.
Sedangkan Wulan malah memilih duduk di samping Davin, karena mereka sudah jadian hari minggu kemarin.
''Kenapa kamu nanya githu Vin, harusnya kamu sekarang senang, bukannya kamu dan Wulan sudah menjadi sejoli.'' Ujar Dewi melirik ke arah Wulan yang sedang cengengesan.
''Nggak apa apa, aku lagi senang saja makanya kayak gini.'' sahut Wulan masih dengan cengengesan nya.
''Sudah jangan senyum senyum terus, jelek kalau kayak gitu.'' tukas Davin pada Wulan sang Do'i.
Wulan cemberut dan menghentakkan kakinya ke lantai, pada saat itu Reno memasuki kelas dengan menyunggingkan senyum tak biasanya.
Putri mengerutkan keningnya melihat temannya yang tiba-tiba tersenyum begitu saja.
''Kenapa lho Reno, senyum senyum nggak jelas githu.'' tukas Putri yang emang selalu bercanda dengan Reno, teman dari SD nya.
''Nggak kenapa napa kok, cuma lagi seneng saja? emang nggak boleh githu Put.'' sahut Reno menghampiri bangku Putri dan Dewi.
''Kirain lho lagi menang togel, makanya senyum senyum kayak githu.'' Ujar Putri lagi, Reno langsung melotot ke arah Putri yang lagi cengengesan karena di pelototi oleh Reno.
''Bukan muhrim, jangan pegang pegang, nanti adanya lho malah naksir lagi tunangan orang.'' Ucap Dewi mencebikkan bibirnya.
''Ya nggak apa apalah Wi, aku sama Putri cuma temenan kok, nggak lebih, iya kan Put?!'' seru Reno pada Dewi teman kelasnya sambil cemungut.
Putri tertawa renyah melihat Dewi dan dan juga Reno berdebat, akhirnya Putri menjadi penengah mereka berdua yang sedang berdebat.
''Sudah sudah, kalian ini ada ada saja?!'' celetuk Putri memegang lengan Dewi sahabat nya.
''Tapi Put? dia thu cuma mau pegang pegang lho aja.'' sahut Dewi ketus.
''Nggak apa apa lah Wi, kita kan cuma teman nggak lebih, iya kan Ren.'' Ucap Putri menepuk bahu sahabat nya.
Reno tersenyum mendengar ucapan Putri. ''Tu kan? Putri saja tak melarang nya, kenapa kamu yang ngelarang Wi!'' Ujar Reno memandang ke arah Dewi, sedangkan Dewi membuang muka ke lain arah.
__ADS_1
Pintu kelas terbuka dan Guru killer memasuki kelas yang di tempati Putri dan teman-temannya.
Semua Siswa langsung terdiam tanpa suara sepatah katapun, cuma keheningan dan suara Guru lainnya yang terdengar di kelas sebelah.
Pak Yanto di sebut Guru killer karena dia sangat garang dalam mengajar semua siswanya, kalau sampai ada suara di dalam kelas saat mata pelajaran nya, apapun bisa melayang ke arah siswa yang bersuara tersebut.
''Buka buku kalian sekarang juga, buka halaman 35 pelajari dari sekarang, dan kerjakan tugas di halaman sebelah nya.'' Ujar Pak killer memberi perintah pada semua siswanya.
Putri mengacungkan tangan dan berkata.
''Maaf Pak? jawaban nya tulis di buku tulis atau Bapak menyediakan kertas ulangannya Pak?'' Tanya Putri pada Pak Yanto Guru killer.
Pak Yanto mengangkat kedua alisnya dan menyunggingkan senyum miring nya.
''Ini anak dari dulu emang punya nyali ngadepin aku yang terkenal garang dalam mengajar, tapi Putri sama sekali tidak merasa takut sama aku.'' gumam Pak Yanto pelan.
''Pak, bagaimana?'' tanya Putri lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Pak Yanto, sedangkan Pak Yanto yang sedang melamun kaget dengan pertanyaan siswanya.
Dewi memegang tangan Putri agar tidak bertanya lagi, namun sudah terlambat.
Dewi takut Putri kena marah, karena itu Dewi memegang tangan sahabat nya.
''Sudah Put, nanti kena omel Pak Yanto.'' bisik Dewi pelan.
''Kalian tulis di buku kalian, setelah itu segera kumpulin ke Bapak.'' jawab Pak Yanto. Dewi membelalakkan matanya karena dugaan yang salah, Pak Yanto sama sekali tak marah pada Putri, semua temannya juga saling memandang karena Pak Yanto biasa biasa saja menanggapi pertanyaan Putri.
''Sudah saling pandangnya, sekarang kalian pelajari dan tulis ulangan kalian hari ini di buku tulis kalian, mengerti!'' Ucap Pak Yanto tegas, akhirnya mereka mulai mempelajari buku pelajaran nya masing-masing, setelah itu mereka sibuk mengerjakan tugas ulangan yang di berikan Pak Yanto sang Guru killer.
Tak ada yang berani mengeluarkan suara sepatah katapun, walau di dalam hatinya sedang komat kamit nyumpahin sang Guru.
-Dikit-dikit ulangan, dikit-dikit PR, padahal Pak killer tak pernah memberi materi walau cuma sekali dong.'' Batin Wulan.
-Guru killer benar-benar nggak adil nich, masak kita pagi pagi sudah di kasih ulangan kayak gini, mana susah lagi.'' Abil juga menggerutu di hatinya.
Kesal pasti, namun mau demo juga percuma, apa yang akan di jadikan materi demonstrasi, sedangkan Guru killer tak punya kesalahan apapun pada semua siswa ataupun siswinya.
__ADS_1
👉👉👉👉
Jangan bosan baca karya Almahyra ya kak, Makasih 🙏🙏😘💕💕