
Bu Widya tersenyum menatap suami-nya yang sudah tak muda lagi, namun dirinya masih seperti dulu yang perhatian dan juga sangat menyayangi nya.
''Mama terlihat begitu cantik kan Pa? kalau pakai gamis dan hijab itu,'' kata Sandra yang menoleh ke belakang, dimana sang Mama dan Papa nya duduk.
''Iya sayang? adek juga terlihat sangat cantik dengan gamis yang kamu pakai sekarang,'' jawab Pak Aries pada sang puteri.
''Masak sich Pa, tapi Sandra belum siap memakai hijab seperti ini sekarang, takutnya nggak ada orang yang mau sama Sandra Pa?'' Ucap Sandra pelan.
''Mana ada kayak begitu sayang? buktinya Putri di kasih jodoh yang baik dan perhatian seperti Erlan, kamu lihat sendiri kan seperti apa kehidupan Putri dan Erlan sebelum nya, bahkan Putri juga banyak di sukai oleh pria pria lain sebelum nya, tapi Putri lebih memilih setia pada satu orang saja yaitu Erlan,'' sahut Pak Aries pada Sandra sang puteri.
Sandra hanya menghela nafasnya dan menghembuskan secara perlahan, dia menatap ke kaca spion mobilnya, yang menampakkan keanggunan di dirinya.
''Yang Papa katakan emang benar, tapi Sandra belum siap lahir maupun secara bathin, takutnya Sandra malah melepaskan hijab yang sudah Sandra pakai,'' batin Sandra.
''Ya Allah? mungkin suami ku mengharap kan hamba mengenakan hijab dan memakai baju gamis seperti ini, semoga engkau memberi hamba hidayah dan juga mukjizat yang tanpa hamba duga, dan tanpa hamba sangka sangka, untuk niat baik ku ini, semoga hamba selalu istiqomah, kalau sudah saat nya mengenakan hijab. Amien,'' Ucap Bu Widya di dalam hati, diapun sesekali melirik Pak Aries dengan ekor matanya. Pak Aries masih setia memandangi Bu Widya, sesekali Pak Aries mengembangkan senyum manisnya, di kala bertemu tatap dengan Bu Widya, sang istri yang begitu di cintai nya.
Tepat jam 9 malam mereka bertiga sampai di rumah besarnya, sang satpam begitu gesit membuka pintu pagar dan menyapa tuan beserta nyonya nya yang baru tiba.
''Selamat malam tuan, nyonya dan juga nona Sandra,'' sapa sang satpam yang di ketahui bernama Pak Isman.
''Malam juga Pak,'' jawab Sandra ramah pada Pak Isman yang sudah begitu lama bekerja di rumah besar Aditama.
__ADS_1
Setelah berbasa-basi dengan sang satpam, sang sopir pun melajukan kembali kendara'an nya, menuju ke teras rumah keluarga Aditama, dan yang terakhir sang sopir langsung memasukkan mobilnya ke garasi.
''Malam tuan?'' sapa sang kepala asisten rumah tersebut.
''Malam Bi? Daniel sudah pulang belum,'' tanya Bu Widya melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu.
''Tuan Daniel, sudah dari tadi sampai di rumah nyonya, seperti nya tuan sedang sedangk berada di ruang kerja-nya sekarang,'' Jelas Bi Siti pada Bu Widya.
Bu Widya dan Pak Aries hanya mengangguk pelan, Bi Siti bertanya kembali pada sang majikan, ''Apa tuan dan nyonya membutuhkan sesuatu, biar saya ambilkan tuan, nyonya?''
''Tidak usah Bi? aku bisa ambil sendiri nanti, aku hanya ingin beristirahat saja di sini sebentar sebelum pergi ke kamar,'' jawab Bu Widya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa panjang nan empuk itu.
''Papa liatin Mama terus, kayak Mama mau pergi jauh saja yang harus di tatap terus terusan seperti itu?'' gumam Bu Widya pelan namun masih di dengar oleh Pak Aries sang suami.
''Papa mau minum teh? Mama buatkan sekarang,'' tanya Bu Widya beranjak dari tempat duduk nya.
''Boleh juga Ma, asal tidak merepotkan Mama saja,'' jawab Pak Aries lembut dan dengan senyuman manis di bibir tipisnya.
''Mama sama Papa pergi kemana saja, tidak memberitahu Daniel?'' Tiba-tiba Daniel bersuara dari anak tangga yang baru ia pijak. ''Papa juga tadi siang langsung pergi begitu saja, meninggalkan kantor yang masih kacau karena kelakuan ponakan kesayangan Papa!'' lanjut Daniel yang terus menuruni anak tangga dan menghampiri Mama dan Papa nya di ruang tamunya.
''Mama dan adek kamu Sandra pergi ke rumah Putri tadi , soalnya di kompleks perumahan Putri mengadakan acara 10 Muharram, jadi Mama ikut serta di dalamnya,'' jelas Bu Widya pada putera sulung nya yakni Daniel.
__ADS_1
''Tadi kamu bilang ponakan kesayangan Papa, siapa dia?'' tanya Bu Widya lagi pada putera-nya.
''Siapa lagi kalau bukan Agnes Ma,'' jawab Daniel mendudukkan diri di depan sang Papa.
Sedangkan Pak Aries menghembuskan nafas nya dengan kasar mendengar penuturan putera-nya pada sang istri tercinta.
''Agnes? Papa masih membela wanita culas itu,'' tanya Bu Widya menatap Pak Aries.
''Dia nggak ada niat untuk bekerja di perusahaan Papa, dia hanya mau uang Papa saja, dengan dalih bekerja, padahal dia cuma main main di sana, semua pekerjaan nya di limpahkan kepada rekan kerja-nya, yang sama-sama bekerja untuk mendapatkan uang di perusahaan itu Pa?'' lanjut Bu Widya masih menatap sang suami yang tak mengatakan sepatah katapun.
Pak Aries akhirnya membuka suara nya, ketika sang istri berhenti dari semua pertanya'an pertanya'an yang ia limpahkan pada Pak Aries.
''Papa sudah memecatnya kok Ma? Papa kemarin nggak sadar telah membela orang yang salah, namun Mama tenang saja, mulai sekarang Papa akan bertindak keras pada semua pekerja di perusahaan Papa?!'' Pak Aries terlihat begitu menyesal telah memasukkan Agnes ke kantor Aditama grub, yang membuat sebagian karyawan nya mengundurkan diri karena tidak tahan dengan bulah Agnes.
''Bagus kalau wanita sombong itu di pecat dari perusahaan, dan Papa harus ingat satu hal lagi, dia bukan siapa-siapa kita? jadi Papa jangan pernah bertindak sok baik lagi pada dia, kalau tidak dia akan berfikiran yang tidak tidak seperti sekarang ini. Sebenarnya Mama sudah tidak suka pada dia sejak dia masuk ke Aditama grub, namun karena Papa selalu membela nya, Mama tidak bisa berbuat apa-apa?'' jelas Bu Widya panjang lebar mengingat kan suaminya yang sedari setahun lalu selalu membela Agnes.
''Papa tau, kalau Papa salah? jadi maafkan Papa ya Ma?'' mohon Pak Aries pda Bu Widya, sembari menangkup kan kedua tangan di depan wajahnya.
Bu Widya memegy tangan suaminya lembut seraya berkata, ''Sudahlah Pa? Papa tidak seharusnya meminta maaf pada Mama, tapi jangan di ulangi kembali itu saja pesan Mama pada Papa,'' Ujar Bu Widya membalikkan badan dan ingin melangkah pergi.
BERSAMBUNG
__ADS_1