Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 45 pujian buat Anastasya Putri


__ADS_3

Semester 2 sudah ia lewati dengan perasaan dag did dug, Anastasya sendiri tak yakin akan mendapatkan nilai yang begitu memuaskan, walaupun ia berada di urutan ke 2 dari teman temannya.


Ia cukup bersyukur karena sudah di kasih IQ yang lumayan buat mengejar cita-cita nya yang selama ini hanya jadi impian semata.


''Wich.... ? selamat ya Putri, kamu hebat baru masuk beberapa bulan saja sudah dapat nilai bagus kayak gini.'' ucap Wulan menjabat tangan Anastasya yang selalu di panggil Putri oleh semua teman sekolahnya.


''Alhamdulillah sudah di kasih rezeki seperti ini.'' sahut Anastasya pada Wulan dengan nada lembut.


''Iya Lan, Putri hebat banget IQ nya di atas rata-rata.'' celetuk Rian menghampiri Wulan dan juga Putri.


Semua temannya memuji Anastasya, pujian teman temannya tidak lantas membuat nya besar kepala, rendah hati yang ada di diri Anastasya terlalu tinggi, sehingga membuat semua temannya menyukai Anastasya karena sifat rendah hatinya.


''Tidak usah terlalu memujiku, nanti aku besar kepala lho?'' ucap Anastasya tersenyum.


''Kalian semua juga hebat kok, ini semua berkat bantuan dari kalian semua, karena sudah meminjamkan buku catatan nya untukku.'' ujar Anastasya lembut di selingi dengan senyuman.


''Kamu emang selalu merendah Putri.'' sahut Samuel yang duduk berhadapan dengan Anastasya.


Anastasya tertawa renyah, '' Kalian ini bisa saja kalau soal memuji orang, kalian semua juga pintar kok.'' celoteh Anastasya, membuat Wulan dan juga Samuel menjatuhkan kepalanya ke meja di depannya.


''Sudahlah, Putri tak mau di puji, kalau githu kalian harus memujiku?!'' ucap Wulan tiba-tiba, semua yang masih ada di dalam kelas tercengang mendengar celotehan nya.


Berapa detik kemudian suara tawaan mulai bermunculan, mendengar ucapan dari Wulan.


''Udahlah ayo kita pulang? dah siang juga nich.'' celetuk Samuel yang dia angguki oleh semuanya.


Wulan memanyunkan bibirnya, karena ucapan nya tidak di gubris oleh teman temannya.


Anastasya menepuk-nepuk pundak Wulan dan berkata, '' Kamu juga hebat kok Lan?'' yang sukses membuat senyuman Wulan mengembang.


''Ini baru teman aku.'' ucap Wulan ambigu, sedangkan yang lain lebih memilih kabur dari hadapan Wulan.


Wulan emang orang nya percaya diri banget, meskipun kadang kadang Anastasya di buat geleng-geleng kepalanya.


Namun dia juga baik pada Anastasya, kadang kala ia juga membuat seluruh teman sekelasnya kesal, karena tingkah laku Wulan yang sangat konyol.


''Ayo pulang put? kamu bawa motor nggak?!'' tanya Wulan menenteng tas sekolahnya.

__ADS_1


Anastasya menggeleng, ''Motor ku masih ada di bengkel Lan, nggak tau apanya yang rusak, kemarin tiba-tiba mati githu saja?'' ujarnya sok sedih, sedangkan dalam hatinya tersenyum melihat kebingungan sang teman.


''Yasudah kalau githu aku antarkan kamu ke rumahnya ya?!'' tawar Wulan namun di depan pintu sudah ada Sidul sepupu Erlan yang sudah menunggunya.


''Adik sudah selesai belum?'' tanya Sidul.


''Kalau sudah selesai ayo pulang, tadi Erlan nelfon suruh antar kamu pulang.'' tambahnya lagi.


''Kak Erlan kok bisa nelfon kak Sidul?'' tanyanya bingung karena meminta sang sepupu mengantarkan tunangannya kerumah.


Sidul mendekat dan duduk di depan Anastasya yang emang tak ada orang, sedangkan Wulan menjadi pendengar yang baik.


''Kata Erlan sich motor kamu rusak, jadi nyuruh aku mengantar kamu, sedangkan Bapak kamu lagi repot di sawah juga katanya?!'' jawab Sidul garuk garuk tengkuknya yang tak gatal, karena dia bakalan boncengan dengan tunangan dari sepupunya, yang kini berada di perantauan.


''Ayo aku antarkan pulang sekarang, soalnya nanti sore aku ada acara sama teman basketnya.


Anastasya mengangguk, diapun beranjak dari tempat duduknya. ''Aku duluan ya Lan? kapan kapan saja antarkan aku pulang.


Wulan hanya bisa mengangguk dan cemberut karena kecewa mungkin ya kak 🤭🤭.


''Ech, tungguin napa? aku juga mau pulang kali, kita bareng ngan keluarnya.'' ucapnya tiba-tiba mengejar langkah Anastasya yang sudah ada di pintu sekolahnya.


Perjalanan ke parkiran, Anastasya dan juga Wulan bercanda, Sidul hanya melihat interaksi mereka berdua.


''Seandainya dia belum punya tunangan, sudah aku embat.'' bathinnya, Sidul menggeleng geleng kan kepalanya, untuk mengusir hal yang tidak boleh ia lakukan.


''Wanita di depannya punya sang sepupu.'' gumamnya yang tak di dengar oleh keduanya.


Sidul mengambil motor sport nya, ''Ayo naik.'' ucap Sidul yang di angguki oleh Anastasya.


''Duluan ya Lan.'' ujarnya


Sidul menjalankan motor nya dengan perlahan tidak seperti biasanya yang hanya bawa motor sendirian, sekarang dia juga harus menjaga keselamatan tunangan dari sepupu nya.


********


''Makasih ya kak Dul?'' ucap Anastasya saat sudah turun dari motor sport nya.

__ADS_1


''Iya, sama-sama? kalau githu aku langsung pamit saja ya?!'' sahutnya di angguki Anastasya.


Sebelum ia memasuki rumahnya, Anastasya duduk di teras membuka sepasang sepatunya, lalu dia menenteng kedalam rumah, di taruh nya sepatu tersebut di rak sepatu.


Anastasya keluar dari kamarnya menuju kamar mandi yang letaknya sebelahan dengan dapur, dia mencuci muka untuk menyegarkan diri sebentar.


Diraihnya kursi dan diapun langsung mendudukinya, Anastasya membuka tudung saji di meja makan.


''Aku lapar? tapi aku kangen kak Erlan.'' lirih nya menghembuskan nafas dengan kasar.


''Aduhh... ? gini banget ya rasanya kalau LDR, waktu itu nggak kayak gini kok.'' mengacak-acak rambut panjang nya.


Anastasya menenggelamkan wajahnya di kedua sisi tangannya yang ia taruh di meja makan.


Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, ''Kalau mau makan ya langsung makan saja, kalau ngantuk ya tidur di kamarnya.'' ucap Bu Yuni yang baru pulang dari sawah.


''Ibu? ngagetin Anas saja, kapan datangnya kok sudah ada di belakang Anas.'' tanya Anastasya bingung karena tak melihat sang Ibu masuk ke rumah nya.


''Gimana mau lihat Ibu! kamu saja ngelamun gituu, kenapa... ? kangen berat ya.'' ujar Bu Yuni meledek sang anak.


''Apa'an sich Bu? sok tau gitu.'' sahut nya mengambil nasi beserta lauk pauknya.


''Kenapa? malu ya sama Ibu.'' tanya Bu Yuni, Anastasya menggelengkan kepala nya, dan mulai memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut nya.


''Sudahlah, Ibu mandi dulu gatel semua badan Ibu, ada yang kangen berat tapi tidak mau mengakui.'' gumam Bu Yuni yang masih terdengar oleh Anastasya.


Anastasya menepuk jidat nya, melihat kelakuan sang Ibu, ''nggak nyangka aku punya Ibu yang super duper keponya.'' celoteh Anastasya melanjutkan suapan nya


👉👉👉👉


Sudah up kakak? jangan lupa untuk mampir ya.


Dan makasih buat kakak yang selalu kasih bunga untuk karya receh Al-mahyra.


jangan lupa juga, like, komen, vote dan favorit kan ya.


Makasih kakak cantik dan akak ganteng 🙏🙏😘💕

__ADS_1


__ADS_2