
Erlan tidak mengira akan kedatangan orang tuanya yang berada di luar Jawa. Pak Enggar dan Bu Ristie datang dari jauh hanya untuk melihat sang putera beserta menantu nya di Jakarta.
Erlan nampak tersenyum dan berjalan menghampiri kedua orang yang sudah tak muda lagi itu, ''Ayah sama Ibu kok nggak ngasih tau Erlan kalau mau ke Jakarta,'' sapa Erlan pada keduanya, dan tak lupa Erlan mencium punggung tangan Ayah dan juga Ibu nya.
''Kan Ibu mau ngasih suprese?'' Ucap Bu Ristie belepotan saat mengatakan kata suprise.
''Suprise Bu?'' ralat di sertai kekehan renyah.
''Sudah? ayo masuk ke dalam,'' ajak Erlan pada Ayah dan Ibu nya.
Erlan mengambil alih koper orang tuanya dari tangan sang sopir taksi. ''Biar Erlan saja yang membawa Pak,'' Ucap nya ramah. ''Bapak juga masuk yuk?'' ajak Erlan pada sang sopir.
''Tidak usah Mas? saya langsung balik saja,'' tolak nya lembut.
''Sebentar saja kok Pak, hanya sekedar nge teh atau ngopi saja di dalam,'' paksa Erlan, akhirnya sang sopir taksi mengangguk dan mengikuti langkah kaki Erlan dari belakang.
''Istrimu kemana le?'' tanya Pak Enggar ketika tidak melihat Putri sang menantu.
''Ada Yah? dia lagi tiduran di dalam,'' jawab Erlan terus masuk membawa koper orang tuanya.
''Siapa Mas?'' tanya Putri melongo menatap suami nya yang sedang menyeret koper.
''Lho Mas? itu koper siapa,'' tanya nya lagi.
''Ini punya Ibu dan Ayah nya Mas sayang?'' jawab Erlan dengan santai.
''Haaaa....!!'' kata Putri kaget dan bangun dari tiduran nya. ''Kok Mas Erlan nggak bilang sich kalau ada Ibu sama Ayah,'' lanjutnya membenarkan jilbabnya yang awut awutan.
''Sudah kamu tiduran saja sayang? Ibu sudah ada di sini,'' cegah Bu Ristie saat melihat sang menantu beranjak dari duduk nya.
''Ibu? Ayah?'' kata Putri mengulurkan tangannya kepada kedua mertua nya, dia pun mencium punggung tangan mertua nya dengan hikmat.
__ADS_1
''Ibu sama Ayah kok nggak ngasih tau kami kalau mau ke Jakarta?'' tanya Putri melepaskan pelukan sang mertua perempuan.
''Ibu ingin memberikan suprese pada kalian berdua,'' Ujar nya yang langsung di tertawakan menantu nya.
''Kok ketawa githu sich ndok? nggak suka ya dengan suprese yang Ibu berikan!'' ketusnya karena di tertawakan oleh sang menantu.
''Bukannya nggak suka githu Bun, tapi waktu Bunda ngucapin kata suprise nya aja yang bikin Putri geli,'' sahutnya memeluk sang mertua yang merajuk gara-gara di ketawain oleh menantu nya.
''Ya sudah Ibu duduk dulu ya? Putri bikinin teh dulu,'' Ujar Putri seraya ingin melangkah kan kakinya ke dapur, namun langkah Putri terhenti saat melihat suami nya sudah membawa nampan yang berisi beberapa minuman beserta camilan.
''Sayang? kamu mau kemana?'' tanya Erlan ketika melihat istri nya yang sudah berdiri.
''Putri tadi ingin bikinin teh buat Ibu dan Ayah, dan juga Bapak itu,'' sahutnya cemberut. ''Oiya Bun, Bapak itu siapa ya, kok Putri kayak pernah lihat? tapi di mana ya Putri lihat nya??'' pikir Putri sembari mengetuk ngetukkan jari ke keningnya.
''Emang muka Bapak pasaran Nona, makanya banyak orang yang mengenali Bapak,'' sahutnya yang di selingi dengan kekehan kecil.
''Jangan terlalu banyak berpikir dulu sayang? kamu saja baru sembuh,'' sambung Erlan menghampiri istri kecilnya, ketika sudah selesai menaruh minuman di atas meja.
''Bapak ini sopir taksi ndok? mungkin kamu pernah naik taksi Bapak ini,'' kata Pak Enggar menjelaskan pada menantu kecilnya.
''Diminum kopi nya Pak?'' Putri menyuruh sang sopir taksi, karena hanya di liatin terus thu kopi.
''Mau kemana sayang,'' tanya Erlan ketika Putri mau beranjak dari duduk nya.
''Mau ke dapur Mas, masak buat makan malam,'' jawabnya ringan, namun Erlan menarik tangan Putri sehingga kembali duduk di tempat nya.
''Sudah kamu jangan masak, biar mas pesan makan malam kita, lagian mas sudah masak nasi di megicom besar,'' titahnya dan nggak mau di bantah.
''Kenapa istri mu nggak boleh masak lhe?'' tanya Pak Enggar heran.
''Istri Erlan belum bisa masak Yah, kalau dia masuk ke dapur dan mencium bau bawang atau bumbu lainnya pasti muntah muntah, makanya Erlan umpetin semua bumbu dapur,'' jawab Erlan dengan jelas.
__ADS_1
''Ya sudah, kalau githu biar Ibu saja yang masak ya.'' kata Bu Ristie dan beranjak dari duduk nya.
''Nggak usah Bu? sebentar lagi datang kok pesanan nya, sekalian Pak sopir juga ikutan makan,'' kata Erlan, Pak sopir taksi menggeleng pelan karena tak enak hati juga pada semua nya, 'Masak iya harus ikutan makan di sini juga sich?' Gumam Pak sopir yang tak tau namanya siapa.
''Nggak usah terima kasih, Bapak pulang saja? takut nya istri Bapak nungguin buat makan malam,'' tolak nya dengan alasan yang masuk akal. Padahal dia kan cuma sendiri dianggap di kota ini, sedangkan istri dan juga anaknya baru pulang kampung guna menjenguk orang tuanya yang sedang sakit.
''Kalau githu Bapak pulang dulu, mungkin lain kali bisa makan bareng kalian,'' Gumamnya dan berpamitan pada Erlan dan keluarga nya.
Putri tak lupa mengucapkan terima kasih nya pada Bapak sopir yang sudah mengantarkan kedua mertua nya dengan selamat, tanpa kurang satu apapun.
''Sekali lagi terima kasih ya Pak?'' Ucapnya mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Bapak sopir sebelum pergi.
''Harusnya Bapak yang terima kasih neng? neng Putri sudah baik sama Bapak, beruntung sekali yang mendapatkan mu sebagai istri nya,'' jawabnya dan memuji Putri yang memiliki sifat yang rendah hati dan tidak membeda bedakan orang lain dengan pekerjaan nya.
''Bapak nggak usah berlebihan githu, justru Putri yang beruntung mendapatkan Mas Erlan sebagai suami Putri pak?'' balasnya, lalu memandang wajah suami nya yang sedang berdiri di dekatnya.
''Ya sudah, kalau githu Bapak pamit, assalamu'alaikum,'' Pak sopir tersebut mengucapkan salam seraya melangkah pergi.
''Waalaikum salam,'' jawab Erlan, Putri, Pak Enggar dan juga Bu Ristie.
Setelah kepergian Pak sopir taksi, mereka pun melangkah kan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya, namun langkah nya terhenti saat ada suara yang memanggil nya, ''Maaf dengan Pak Erlan?'' tanya kurir yang mengantarkan makanan.
''Iya,saya sendiri,'' jawabnya ramah, seraya memandang bungkusan di tangan sang kurir.
''Saya mau mengantarkan makanan ini Pak,'' lanjutnya lagi dan memberikan bungkusan yang ia pegang saat ini.
''Och iya terima kasih ya,'' Ucap Erlan, tak lupa Erlan juga memberikan uang tips pada sangat kurir.
''Terima kasih Pak,'' kemudian sang kurir pun pergi dari rumah Erlan setelah berpamitan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang selalu dukung karya receh Al-mahyra.
Jangan lupa like komen nya kakak. Terima kasih 🙏🙏😘😘😘😘💕💕💕💕