
Malam semakin larut, kak Rini dan juga Zein akhirnya berpamitan untuk pulang ke kontrakan nya, sebelum mereka naik ke atas motor nya, aku kembali mengingat kan mereka agar besok ikut serta mengunjungi Yayasan panti asuhan yang selalu ia datangi bersamaku.
''Jangan lupa besok jam 9 pagi, aku ke kontrakan, dan jangan lupa juga makanan nya kak Rini,'' pesanku agar kak Rini tak melupakan yang aku ucapkan tadi waktu makan malam.
''Iya, aku ingat kok, aku tunggu kalian di kontrakan,'' sahut kak Rini yang mulai naik ke atas motor sport suaminya.
''Besok besok ganti saja tu motor, bikin ribet apalagi pas gendong bayi, pasti susah,'' celetuk Putri sebelum kepergian Zein dan juga Rini.
Zein hanya mencebikkan bibir nya pada sang sahabat, membuatnya emosi nya naik, sebelum aku mengomelinya Zein keburu kabur, Rini hanya cekikikan dengan tingkah kami berdua.
''Ya sudah, ayo masuk sudah malam banget,'' ajak Erlan menggandeng tangan Putri sang istri.
Aku hanya mengikuti langkahnya dan duduk di sofa panjang, dengan kaki juga ada di sofa sambil selonjoran aku memijiti kakiku yang terasa pegal, entah kenapa hari ini aku merasakan capek yang nggak ketulungan. Erlan menghampiri ku setelah selesai mengunci semua pintu rumahnya.
''Kenapa sayang??'' tanya Erlan lembut lantas duduk di samping sang istri.
''Nggak apa apa, cuma pegel aja nie kaki Mas?'' jawabku manja dan terus memijiti kakiku.
Erlan mengangkat kaki sang istri dan menaruhnya di atas pangkuan nya, ''Mulai sekarang kamu nggak boleh terlalu capek ya, kan di sini sudah ada buah cinta kita berdua,'' Erlan mengelus perut sang istri yang masih rata.
Aku hanya mengangguk, karena tak tau harus menjawab apa pada suami ku sekarang.
''Oiya, tadi siang pergi ke dokter kan? terus dokter sendiri bilang apa sama kamu sayang??'' tambahnya lagi.
''Dokter bilang umur kehamilan ku sudah menginjak 6 minggu, yang berarti hampir 2 bulanan dia berada di rahim Putri Mas?'' Ucap nya sedih.
''Kenapa Putri nggak menyadari nya ya Mas,'' tanya nya sedih.
__ADS_1
''Sudah nggak apa apa, jangan sedih lagi ya, kasihan baby kita di dalam sini ikutan sedih,'' kata Erlan memeluk Putri sang istri.
'Berarti keanehan keanehan dari bulan lalu itu istri ku sudah mulai mengandung buah cinta kami berdua dong.' bathin Erlan yang terus mengelus punggung sang istri.
''Kamu ingat nggak sayang?'' tanya Erlan.
Aku menatap Erlan seraya berkata, ''Ingat apa Mas,'' Jawabnya mendongak.
''Bulan lalu di kampus, pada saat kamu nggak mau dekat dekat dengan Mas, namun keesokan harinya kamu malah nggak mau di tinggal pergi sama Mas,'' tanya nya mengingat kan sang istri.
Putri mengangguk pelan sembari mengingat kejadian bulan lalu, yang tak mau dekat dekat dengan suaminya.
''Apa sudah ingat?'' Tanya Erlan lagi.
''Iya, Putri ingat, emangnya kenapa dengan semua itu Mas,'' tanya balik Putri dengan rasa penasaran nya.
''Terus, akhir akhir ini kan kamu juga bersikap aneh banget sayang, mungkin ini semua kelakuan calon buah hati kita sayang?!'' tambah Erlan mengecup kening Putri istri nya.
''Terima kasih banyak ya Mas, selama ini kamu selalu sabar menghadapi kelakuan ku yang aneh aneh, Putri ingat betul waktu itu Putri juga membentak kamu Mas, Putri banyak salah sama Mas Erlan,'' keluh Putri mulai menangis lagi di pelukan Erlan suaminya.
''Hey?! kenapa malah jadi nangis lagi sich sayang? harusnya kita berbahagia dengan kehadiran buah hati kita ini, nanti di kira Ayah nya jahat lagi sama si buah hati yang kamu kandung sekarang,'' Ucap Erlan yang setengah meledek sang istri.
''Padahal kan yang jahat tu Mama nya, iya kan sayang?!'' Ucap Erlan membisikkan di depan perut Putri seraya mencium perut Putri sang istri.
''Apa'an sich Mas,'' jawabnya mulai tertawa. Dan mencubit perut Erlan sang suami.
''Ya sudah, kita tidur sekarang, sudah malam juga nggak baik untuk kesehatan kamu dan baby nya. Ok?!'' Erlan langsung menggendong Putri ke kamarnya.
__ADS_1
''Mas... ? turunin Putri, Putri bisa jalan sendiri Mas,'' Ucap Putri, namun Erlan tak menghiraukan ucapan Putri yang meminta untuk di turunkan.
Sesampainya di kamar Erlan menaruh Putri dibatas kasur dengan perlahan, dan dia juga menyelimuti Putri, Erlan pun mengecup kening Putri dengan mesra.
''Selamat istirahat ya sayang,'' tak lupa juga Erlan mencium perut rata sang istri sebelum mematikan lampu kamar nya.
Aku memejamkan mataku agar bisa berkeliling di alam nirwana, cukup lama juga aku tidur dalam pelukan suami ku, hingga Adzan subuh pun berkumandang di seluruh penjuru masjid-masjid yang ada di Jakarta.
Erlan sendiri sudah bangun sedari tadi, tapi Erlan sendiri tak tega untuk membangun kan sang istri, yang sedang tertidur sangat pulas nya.
Putri mengerjapkan mata indahnya dan memandang ke arah sang suami yang sedang memandangnya sedari tadi. ''Mas sudah bangun, kok nggak bangunin Putri sich,'' tanya Putri mengucek kedua matanya.
''Mas nggak tega bangunin kamu sayang, habisnya kamu pules banget boboknya, lagian Mas juga nggak mau ngagetin baby kita yang di sini,'' elus Erlan lembut pada perut Putri.
Putri tersenyum melihat suaminya selalu mengelus perutnya, ''Mas senang banget bakalan punya baby,'' tanya Putri pada Erlan suami kesayangan nya.
''Kenapa malah bertanya kayak githu sich sayang? Mas bukan hanya senang, tapi bahagia banget ketika mendengar kabar tentang kehamilan kamu kemarin,'' jawab Erlan mengecup kening Putri mesra.
''Terima kasih banyak ya Mas,''
''Terima kasih buat apa coba, kita ini suami istri, sudah sewajarnya Mas memperlakukan kamu dengan baik, menjaganya dan akan selalu membahagiakan kamu, selama nafas ini masih berada di ragaku sayang?'' Gumam Erlan mengelus kepala Putri istri nya.
''Udah ach, bangun yuk, nanti waktu Subuh nya habis lho,'' Ucap Erlan mengajak Putri untuk sholat berjamaah.
Aku mengangguk dan menyibak selimut tebal ku, sedangkan suamiku sudah berada di dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu, cukup lama aku di pembaringan, mengatur nafas yang serasa sesak di dada, ketika suamiku keluar dari kamar mandi dia berkata, ''Sayang? kok belum bangun sich, mau sholat berjamaah nggak nich,'' tanya nya lembut. Akupun mulai duduk dan ingin turun dari tempat tidur, namun ketika aku mau berdiri rasa pusing mulai menderaku, Mas Erlan yang sudah siap dengan baju koko beserta sarung nya langsung menghambur menahan bobot berat tubuhku, agar tak jatuh ke lantai.
BERSAMBUNG
__ADS_1