
Ryuga duduk di kursinya yang berada di baris paling depan. Tentu saja moodnya lagi kurang baik, akibat perlakukan Bill.
Sepanjang pelajaran berlangsung, Ryuga hanya diam seribu bahasa. Dalam pikirannya hanya mencari cara untuk menemukan bukti keterlibatan Lord Viktor dan Lord Thanatos pada perdagangan obat terlarang.
Di dalam portal piramida Bajra, Ryuga sempat bertarung dengan Lord Viktor dan membuatnya babak belur. Tapi ia lengah, Lord Viktor berhasil kabur dan meninggalkan emperor bajra ball.
Mengingat kejadian itu, Ryuga mengeraskan rahang dan tak terasa mematahkan penanya.
Niseki tersentak dan menatap Ryuga bingung lalu bertanya, "Ada apa Vergil? Apakah kau bisa menjawab pertanyaan ini?" tunjuknya pada layar papan LCD sebagai papan tulis.
Ryuga mengernyit, tapi dengan skill ultimate reading dia langsung bisa menerka keadaan. Jari jemarinya sangat cepat menuliskan jawaban bu dosen Niseki, "Sudah, ibu dosen. Semoga jawabannya sesuai dengan harapan ibu," katanya sambi menekan tombol enter pada papan keyboard digital.
Lagi-lagi tindakan Ryuga membuat Bill geram dengan mengepalkan tinju, dan mengeraskan rahang, "Anak dungu itu, benar-benar membuatku jengkel. Sudah aku peringatkan, tapi tetap saja selalu merasa sok pintar," gumamnya.
Bel pulang kuliah berbunyi, Ryuga segera membereskan buku-bukunya. Lalu mencium punggung tangan Niseki, sebagai adat orang Indonesia atau adat ketimuran Ryuga selalu melakukan itu pada guru-gurunya, walau zaman sudah canggih. Baginya sopan santun dan akhlakul karimah itu lebih penting ketimbang apapun.
Tentu saja yang dilakukan Ryuga itu menurut mereka aneh. Tapi bagi yang hidup di sektor Siliwangi tepatnya Indonesia itu sudah lumrah.
Rencananya hari ini sebelum pulang ia mau membaca buku di perpustakaan. Ryuga langsung melangkahkan kakinya menuju perpustakaan, banyak hal yang ingin ia pelajari dan pahami.
Di saat sedang asyik-asyiknya membaca buku, Bill dan Kaligata serta Tomsky datang. Memang mereka bertiga sedari tadi mencari Ryuga untuk memberinya perhitungan.
Bill membentak sambil menggebrak meja, "Vergil! Apa otakmu itu kemasukan air, hah?!"
Ryuga menurunkan bukunya dan menatap tajam, tapi kali ini ia jengah pada Bill. Aura membunuh dan kematiannya ia keluarkan, "Ada apa bro Bill? Ada yang bisa dibantu?"
Ryuga menaruh buku dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Lalu menautkan tangan dan *******-***** jari-jemarinya hingga berbunyi 'krutuk-krutuk'.
__ADS_1
Kaligata dan Tomsky yang ditatap seperti itu langsung ketakutan, hingga celananya merasa hangat. Ternyata mereka berdua buang air kecil celana. Seketika itu juga mereka berlari keluar dari perpustakaan tunggang langgang.
Ryuga tertawa jahat di dalam batinnya, "Mampus kau! Siapa juga berani menggangguku?!"
Tapi tidak bagi Bill, amarah dan iri hatinya sudah sampai di puncak ubun-ubun. Ingin sekali Bill menghajar Ryuga, tapi entah kenapa kedua kakinya mematung dan bergetar, tak mampu berjalan.
Michelin yang memakai dres mini biru, celingak celinguk di depan perpustakaan mencari Ryuga yang lupa ada janji dengannya. Sudah 10 menit Michelin menunggunya di depan pintu gerbang kampus, tapi Ryuga tak kunjung datang. Jadi Michelin memutuskan untuk masuk ke dalam kampus dan mencari Ryuga.
"Vergil!" Panggilan Michelin membuyarkan tatapan tajam Ryuga pada Bill dan juga membuat tubuh Bill normal seperti semula.
Ryuga menatap datar Michelin dengan senyum ramah, sedangkan Bill menoleh dengan mata melebar. Tentu saja terkejut dengan Michelin Yo, cucu tunggal Ieyasu Tokugawa, anak dari Hana Tokugawa, pewaris tunggal kekayaan klan Tokugawa.
"No-nona Michelin?!" Bill melebarkan mata.
"Kamu Bill?" Michelin menatap tajam Bill. Kemudian melanjutkan, "Jangan bilang kau membuat masalah dengan Vergil pacarku. Jika iya, awas saja kupatahkan kakimu!"
"Awas saja kalau berbohong, hmph!" Michelin mengacungkan pukulan pada Bill, membuatnya lari tunggang langgang meninggalkan Michelin dan Ryuga.
"Pacar?!" Ryuga mengernyit pada Michelin. "Maaf, nona. A-aku-"
"Tidak usah khawatir. Aku hanya bercanda pada Bill, dia itu pria nekat. Kalau aku tidak menggertaknya, dia pasti akan mengganggu targetnya sampai benar-benar targetnya menjadi budaknya. Aku melakukan ini, agar kamu tidak diganggu terus olehnya," jelas Michelin tersenyum tipis. "Ayo, kita ke bengkel Miku."
"Oh ...." Ryuga hanya membulatkan mulutnya. Bagaimana pun Ryuga harus menjaga jarak dengan setiap wanita demi melindungi cintanya pada Filza.
***
Bengkel Miku.
__ADS_1
Ryuga sedang memindai mesin mobil Michelin, sepanjang perjalan menuju bengkel, Ryuga terkesan dingin pada Michelin. Semakin Ryuga acuh dan dingin, Michelin semakin terkesan dan bertambah minatnya pada Ryuga.
"Lelaki yang seksi," gumam Miku dan Michelin melihat Ryuga hanya bertelanjang dada. Tubuhmya memang agak kecil dibanding tubuhnya yang asli, tapi otot-otot dada dan perutnya tetap seksi sebagai lelaki macho.
Mereka berdua pun berkhayal mesum. Ryuga hanya fokus pada mobil Lotus Exige milik Michelin dan tak menghiraukan khayalan mesum Miku serta Michelin.
"Aaaakh ...!" Michelin dan Miku melenguh keras, gua pink merah muda mereka basah, membayangkan Terong XXXXL milik Ryuga masuk ke dalam gua pink merah muda mereka berdua.
Ryuga hanya menoleh dan melirik meraka berdua yang terkesan aneh. Ia menganggap mereka berdua hilang akal melenguh keras dengan wajah yang mesum.
Ryuga sudah memperbaiki beberapa bagian mobil yang seharusnya diganti karena korosi (aus). Ryuga mencoba menyalakan mesin mobil Lotus Exige tersebut, dan coba mendengarkan suara mobilnya dengan seksama. Setelah beberapa saat Ryuga tersenyum puas dan mengacungkan jempol pada Michelin serta Miku bergantian.
"Sudah selesai, nona Michelin. Aku jamin mobil ini performa mesinnya sangat mantap. Coba saja!" Ryuga mengacungkan kedua jempol dengan tersenyum puas pada mobil Lotus Exige berwarna merah lalu beralih mengacungkan jempol pada Michelin.
Lalu melanjutkan perkataannya dengan serius tapi santai, "Bahkan bisa buat balapan."
"Miku berapa semuanya?" tanya Michelin dengan tersenyum tipis sambil menghimpit gua pink merah muda dengan kedua pahanya.
Miku pun melakukan yang sama seperti Michelin, dan menggeleng, "Entah. Aku serahkan semuanya pada Vergil. Bagian apa saja yang diganti dan baru aku kalkulasikan," jelasnya.
Michelin tanpa canggung mendekati Ryuga dan mengamati ujung kaki sampai kepala dengan tatapan penuh nafsu, tubuhnya mulai panas lagi, "Sial! Kenapa dia sangat menggoda," umpatnya dengan bergumam lalu merapikan bajunya.
"Berapa semuanya, Vergil?" tanya Miku membuyarkan lamunan mesum Michelin.
"Ah, sial, Miku. Mengganggu saja," batin Michelin menyeringai kesal.
Ryuga menuliskan catatan dan memberikannya pada Miku. Lalu melenggang acuh untuk mencuci tangannya dan membersihkan diri, setelah tubuhnya dipenuhi oli.
__ADS_1
Hari ini Miku begitu tenang, setelah gangster Night Blue berhasil dikalahkan oleh Ryuga. Jadi dia bisa membuka bengkel tanpa ada hambatan.