
"Itu masih belum seberapa." Ziya mengeratkan pegangan pada kedua pegangan Dagnas Fang. Efek skill Hyper Stealth miliknya sudah berakhir akibat ketahuan.
Di antara sesama ASSAT kecepatan Ziyalah yang paling mendominasi. Kemudian melanjutkan, "Guardian Final Strike!"
Tubuh Ziya dikelilingi bola berwarna-warni yang mempunyai efek khusus. Satu bola biru ditembakan ke arah Akira yang mempunyai efek membeku.
'Slash!' Akira tidak menghindar malah membelahnya menjadi dua bagian. Tapi itu adalah jebakan, bilah Samehada itu membeku sampai ke pegangan atau gagangnya. Buru-buru Akira melepaskannya agar tak membekukannya juga.
Bukan hanya itu belahan bola biru itu juga tak sengaja mengenai mayat hidup Dimitri dan membekukannya.
Ekspresi Akira yang semula dengan senyum yang mengambang berubah dengan wajah yang ditekuk.
"Bloodmoon Soul Seal!" Akira mencoba menarik kembali mayat hidup Dimitri, tapi tidak bisa. Malah mayat hidup itu hilang berubah menjadi partikel-partikel es, terserap ke dalam tubuh Ziya.
"Ha-ha ...." Ziya tertawa jahat dengan menyeringai dan melanjutkan, "Apa kau tidak tahu julukanku apa, anak bawang? Aku beritahu, julukanku adalah Queen Of Seven Death. Haa ...!"
Ziya berteriak keras dan melemparkan bola berwarna nila ke arah Akira. Secepat kilat Akira berlari, dan bola nila menghantam permukaan tanah.
Lalu merubah merubahnya menjadi danau beracun dengan cairan ungu yang meletup-letup seluas 500 meter.
"Benar-benar menyebalkan. Untung saja aku menghindar, kalau tidak tubuh sudah pasti mati, sial!" batin Akira kesal.
"Cih, dia masih bisa menghindar. Padahal biasanys cukup satu bola saja aku bisa membunuh Divya lain. Tapi tidak apalah, sebagai Queen Of Seven Death, aku akan memberikan kematian terbaik untuknya," gumam Ziya menyeringai menatap Akira yang sudah jauh 600 meter darinya.
"Evileya Divine Gear! Rising Dragon!"
Tubuh Akira secara otomatis terpasang Gauntlet dan Greaves pada kedua tangan juga kakinya. Lalu melepaskan pukulan ke arah Ziya yang memunculkan sepasang siluet naga merah darah yang meliuk-meliuk dan melesat secepat peluru.
Begitu mendekat dengan Ziya, sepasang siluet naga merah darah dilempari bola berwarna abu-abu olehnya. Seketika itu juga sepasang siluet naga merah darah menjadi batu dan terjatuh ke permukaan danau racun. Kemudian luruh terkena efek korosi.
Akira melebarkan mata, dan tak percaya serangan kuatnya mudah sekali dipatahkan. Ziya melihat dari jauh Akira syok dan tak menyia-nyiakan waktu, "Cross Place!" serunya.
__ADS_1
'Cwuszh!' Ziya sudah berada di belakang Akira dan menghantamkan bola berwarna ungu yang bisa mengakibatkan lumpuh bahkan kematian. Sebab memiliki efek petir bertegangan 10.000.000 volt.
'Zrrt! Boom!' Tubuh Akira tertelungkup menghantam permukaan tanah hingga mencetakan kawah sedalam 4 meter dan tanah di sekitarnya retak.
"Aaakh ... guhak!" Akira memekik keras, tubuhnya sama sekali tak bisa digerakan dan memuntahkan banyak darah dan berkata lirih, "Bloodmoon Regeneration!"
"Takan kubiarkan. Falling Dragon!" Ziya melompat secepat kilat dan mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi diselimuti aura siluet naga biru lalu dihantamkannya kuat-kuat pada punggung Akira.
'Boom!' Ledakan yang sangat keras disertai retakan tanah yang membesar membnetuk kawah menjalar sampai areal 300 meter. Bukan hanya itu serangan Ziya juga menimbulkan kepulan asap dan debu menjulang tinggi membentuk siluet jamur.
Kondisi Akira tidak diketahui keberadaannya, "Baguslah. Aku juga mendapatkan pedangnya. Kali ini kompetisi antar guild akan menjadi kompetisi berdarah, ha-ha .... Cross Place!" kata Ziya menarik jarak jauh Samehada dari kepulan asap ke tangannya.
Lalu hilang dari pandangan dengan membawa Samehada yang sudah berubah kembali menjadi Ryutaiga.
***
West Hokkaido.
Hutang bunganya pada Ryuga saja baru 100 yen ia lunasi. Masih tersisa 9900 yen lagi yang ia harus bayar pada Ryuga.
"Terima kasih tuan. Berkat tuan jualan hari ini laku semua bunganya." Vina tersenyum manis menghadap ke depan sambil menghitung uangnya yang berjumlah 5000 yen.
"Aku tak menyangka wanita secantik ini harus hidup dengan berat dan harus berjuang seorang diri dengan keadaannya yang buta," batin Ryuga menatap sendu Vina.
"Oh, ya. Apakah nona ingin bisa melihat lagi?" tanya Ryuga basa-basi.
"Tentu, tuan. Itu pasti, aku ingin membuka toko bunga suatu saat nanti," jawab Vina tersenyum manis dan tetap menatap kosong ke depan.
Maklum, Vina kan buta.
Kemudian Vina melanjutkan, sambil merapikan uang tersebut dan bersiap pulang, "Memang biayanya cukup mahal yaitu 50 juta yen. Tapi aku yakin bisa mengumpulkannya, tuan."
__ADS_1
"Mungkin aku bisa meminta bantuan si rambut helm untuk memberinya Evolution Potion dan juga Potion khusus untuk mengembalikan efek kebutaannya," gumam Ryuga suaranya sedikit terdengar oleh Vina.
"Siapa tuan rambut helm? Teman tuan kah? Apakah dokter yang hebat? Nampaknya tuan membicarakan tentang potion," kata Vina penasaran.
"Oh, ya. Dia itu .... Ya, dia itu dokter dan alkemis nomor satu di dunia saat ini. Apakah kau pernah mendengarnya? Dia juga anggota Guild Emperor," balas Ryuga.
"Nona Vanya Veriska, maksud tuan?" Vina wajahnya berubah sumringah tapi tiba-tiamba berubah kembali sendu, "Pasti potionnya mahal."
"Tenang saja, aku teman baiknya. Aku yakin nona pasti sembuh dan tak perlu operasi. Dia pasti memberikannya pada nona, nanti semuanya aku yang urus. Lebih baik aku hantar nona pulang ya?" pinta Ryuga memegang tangan Vina dan membuatnya tersipu malu.
"Ba-baik." Vina dibawa masuk ke dalam mobil Filza dan mengatakan, "Rumahku di jalan East Sider 77 tuan."
"Baiklah," balas Ryuga singkat dan mengemudikan mobil itu dengan sangat pelan ke arah rumah Vina atau tepatnya rumah Joe.
Setelah 15 menit berkendara mereka berdua sampai dan Joe serta Hilma memang sudah menunggu Vina di depan gerbang dengan raut muka geram.
Tapi raut muka mereka berdua berubah setelah melihat mobil Lambhorgini Aventador berhenti di depan rumahnya.
Ryuga keluar dari sebelah kiri, lalu membuka pintu sebelah kanan untuk menuntun Vina.
"Sangat tampan?! Sungguh beruntung banget Vina?!" gumam Hilma melebarkan mata.
"Tidak seperti suamiku ini, benar-benar suami sampah," batin Hilma menatap sinis Joe, suaminya.
Kalau saja tidak ada Vina yang mau di eksploitasi oleh Joe, Hilma sudah lama meninggalkan Joe, suami sampahnya itu.
"Maaf, tuan dan nona ...."
"Panggil saja Joe dan istriku Hilma. Kami kakak Vina," kata Joe tersenyum sambil mengenalkan Hilma dengan memeluk bahu kirinya.
"Ya, aku Hilma. Salam kenal," timpal Hilma, tanpa malu-malu menyodorkan tangan kanannya pada Ryuga untuk berkenalan.
__ADS_1
"Kenapa kak Joe dan kak Hilma sepertinya sangat ramah pada tuan ini. Aduh, aku malah lupa menanyakan siapa nama tuan ini?" batin Vina berpikiran aneh karena tidak tahu kondisi saat ini.