
Tim 11 dan tim 15 bertemu di training field hijau. Tim 11 dikapteni oleh Risma sekaligus coin keeper, bersama Ringgo, Alesine dan Ambar. Tim 11 ini terdiri atas 4 perempuan dengan julukan 4 Dewi Yunani, mereka juga sama seperti klan Sugriwa yang meminta satu tim dengan klannya. Tim 11 berasal dari klan Zeustra, klan yang memiliki skil khusus dewa-dewa Yunani kuno.
"Athena bles!"
Risma mengangkat tangan kanan ke atas dan menembakan cahaya ke Ringgo, Alesine dan Ambar. Tubuh mereka berempat diselimuti aura berwarna kuning, semunya memakai senjata pedang dan perisai.
"Cih hahya buff seperti itu, Roy berikan buff padaku!" Zanra memanggil Roy, salah satu healer dan support di tim 15.
"Buff, strengh!"
Roy mengarahkan tangannya ke arah Zanra, muncul magic circle di bawah kakinya lalu menelan tubuh Zanra dan tubuh itu terselimuti aura berwarna merah pekat.
Zanra menarik tombak berbilah ganda dari punggungnya dan membelahnya menjadi dua. Tombak ganda itu Zanra pegang di tangan kanan dan kirinya.
"Xenocider strike!"
Zanra melompat dan menghantamkan kedua tombaknya ke arah tim 15 yang membentuk posisi saling memunggungi, tujuannya membuat mereka terpecah.
Boom!
Risma, Ringgo, Alesine, dan Ambar berguling menghindari serangan Zanra. Hantaman tombak itu hanya membuat cekungan kawah sedalam 3 meter. Di saat mereka berempat lengah, Ziki dari tim 15 memanfaatkan kesempatan.
Wind bullet!
Ziki menembakan ratusan peluru angin dari dalam mulutnya ke arah Ringgo. Perisai itu Ringg pasang untuk membelokan serangan peluru angin.
Shua!
Stang!
Peluru angin terus menyerang ke arah Ringgo, untung saja Risma memberikan buff athena bles, skill yang bisa meningkatkan 50% pertahanan terhadap semua jenis kuasa.
Jleb!
"Akh!" Alesine dan Ambar memekik kaki mereka terkena peluri angin meskipun hanya menggores betis mereka. "Ringgo hati-hati dalam membelokan serangan!"
"Maaf kak! Serangannya terlalu kuat, aku tak bisa menahannya lagi." Ringgo masih terus membelokan peluru angin. Risma berguling ke arah Ringgo dan membantunya membelokan peluru angin dengan pedangnya.
Stang!
"Watter bullet! Strings death!"
__ADS_1
Rina berkedip tubuhnya dan menembakan ratusan peluru air dari arah belakang tim 11. Rina menyeringai licik, mengekuarkan senar tajam dari kesepuluh jarinya, senar tajam itu ia gerakan untuk memotong pedang dan perisai tim 11.
Shua!
Krieet!
Slash!
Pedang Risma terpotong, dan berganti arah lalu membelokan peluru air dengan perisainya. Ambar dan Alesine bangkit, mereka berdua langsung membelokan peluru angin serta air. "Kita tak boleh kalah, ayo!" Alesine terus maju ke arah Ziki.
"Hera Slash!"
Alesine menebas secara horizontal, siluet sabit melesat ke arah Ziki. "Wind Burst!" Ziki menyemburkan angin kencang berbentuj siluet huruf x ke arah siluet sabit berwarna merah.
Boom!
Shua!
Siluet sabit terus lurus dan menabrak Ziki, hingga memuntahkan darah. "Guhak! Sangat sakit sekali!" Ziki memegangi dadanya yang sakit, lalu pingsan.
"Roy berikan buff agility untuk Rina!" Zanra berteriak dan mulai menyerang kembali. "Xenocider stab!"
Trang!
Trang!
Slurp!
Bola itu semakin membesar, tubub Alesine, Ringgo, dan Ambar terduduk lemas. Peluru air dan senar tajam terus mengenai tubuh Risma, namun tak bisa di gores. Zanra pun menusuk dan menebas tubuh Risma, tapi tubuh itu sekeras batu karang.
Dang!
Dang!
"Rage of extinction!"
"Kapten jangan lalukan skill itu, sangat berbahaya!" Alesine, Ringgo, dan Ambar di tempat berbeda berteriak. Namun tubuhnya sudah tak mampu lagi digerakan, mereka bertiga sudah tidak bisa mencegah Risma menggunakan skill rage of extinction.
Boom!
Swush!
__ADS_1
Bola berwarna emas menghitam, lalu meledak ke atas, gelombang kejutnya mementalkan Rina, Zanra, dan Roy. Mereka bertiga terpental hingga 200 meter secara terpisah. Roy ke utara, Rina ke selatan dan Zanra ke barat.
Bekas ledakan juga membuat cekungan kawah sedalam 10 meter. "Aphrodite bless!"
Tubuh Ambar, Alesine, dan Ringgo diselimuti aura hijau. Stamina mereka pulih dan energi veda di dalam wadah energu veda mereka juga kembali penuh. "Cepat! Cari coin keeper di antara mereka!" Risma bergerak ke tubuh Ziki, Ringgo ke tubuh Rina, Alesine ke tubuh Roy, dan Ambar mencari ke tubuh Zanra.
Mereka masing-masing menemukan 2 koin di jam tangan penyimpanan tim 15. Mereka berhasil mengumpulkan 9 koin dengan koin mereka sendiri.
[Pengumuman tim 15 telah tereliminasi]
[Pengumuman juara satu battle academy dengan perolehan koin terbanyak tim 11 mendapatkan 9 koin, tim 7 mendapatkan 7 koin dan tim 9 mendapatkan 6 koin]
[Selamat kepada tim 11 mendapatkan senjata berlogam platinum dan uang 30 juta]
[Selamat kepada tim 7 mendapatkan senjata berlogam diamond dan uang 25 juta]
[Selamat kepada tim 9 mendapatkan senjata berlogam gold dan uang 15 juta]
[Mereka bertiga akan menjadi wakil Maung School akademi pada battle arena yang diadakan 29 hari lagi]
Semua murid yang terluka sedang di rawat di rumah sakit akademi. 3 tim yang berhasil lolos, telah diberikan hadiah oleh Jendral Atmojoyo di aula akademi.
Di dalam dormitori Ryuga.
Josephine mengerucutkan bibirnya, "Hei Ryu! Gara-gara kamu pacaran kita tidak jadi juara satu, menyebalkan!"
"Sudah tidak perlu di bahas. Ini kan masig tahap kualifikasi, kita masih bisa jadi juara di battle arena," balas Rany menenangkan Josephine.
"Ya, ya tapi aku ingin levelku naik sebelum battle arena. Hai Ryu! Kamu harus melakukannya sebagai penebus kesalahnmu, tau!" Josephine menyeringai kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Beres, asal kau mau membayarku. Semua pasti rebes beres, ya kan Vanya?" Ryuga melirik Vanya. "Kamu juga harus membayarnya juga, tidak ada yang gratis jika berbisnis denganku."
"Ya, tapi kalau uang aku tak bisa. Kalau itu bisa, hehehe." Vanya tertawa ringan.
"Dasar! Bukan uang bukan itu. Kalian cukuo membayarku dengan mayat monster level gold ke atas, bisa?" Ryuga menaik-turunkan alisnya.
Bletak!
"Mayat monster level gold ke atas. Kamu pikir kami orang gila, bisa membunuh monster level gold ke atas? Jangan gila donk!" Josephine memukul kepala Ryuga. "Kau pikir berburu monster itu mudah?"
"Aku juga mau Ryu!" Rany hatinya terbakar cemburu karena melihat Ryuga sering bergandengan tangan dengan Vanya. Apalagi setelah mereka berdua pulang dari air terjun mereka berdua tambah mesra.
__ADS_1
"Ya tentu saja. Aku pasti akan membuat kalian berada di level 6 seperti Vanya. Dan aku sudah merencanakan semua ini, aku berjanji!" Ryuga tersenyum dan menatap lekat mata Rany.