
Sebuah gerbang bertuliskan dormitori level 4 di atas gapuranya. Ryuga membawa Vanya kembali ke akademi, setelah perhelatan panjang dengan kapsul kristal.
Ryuga melepaskan genggaman tangannya, tanpa sepatah kata pun langsung menghilang dari pandangan Vanya. "Pasti, Ryuga sangat marah padaku," lirih Vanya, tangannya menyeka cairan bening di sudut kelopak matanya.
___
___
___
Ryuga muncul di kantor senjata Branz dengan skill trickster, dengan raut muka dingin.
"Hai Ryu! Kamu kembali. Apa yang perlu kami bantu?" tanya Gemusha.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berkunjung saja." Mata Ryuga berkeliling mengamati Inusha dan Ronald yang terlihat murung, terduduk lesu. "Kenapa dengan Ronald dan Inusha?"
"Aku meminta maaf padamu Ryu, kita punya masalah terkait pengiriman senjata ke Mesir. Pemerintah telah menutup semua akses jalan menuju kesana, kami butuh solusi darimu. Jika kita tidak mengirimnya hari ini, tuan Basilisk meminta ganti rugi 10 kali lipat."
Gemusha berdiri dan memperlihatkan map digital yang tertera di tablet 3 dimensi berisikan peta jalan yang diblokade oleh pemerintah Sangakama sektor Majapahit.
"Serahkan saja padaku! Aku yang akan pergi," usul Ryuga lalu mengganti seragam ASSAT miliknya menjadi street style. "Aku akan pergi sendiri."
Ryuga mengganti seragamnya, karena tidak ingin ketahuan oleh tentara dari pemerintah Sangakama, bahwa ia seorang ASSAT sektor Siliwangi.
"Jangan! Itu Sangat berbahaya." Gemusha menggelengkan kepala dengan lantang. "Lebih baik kau bawa aku dan Inu sebagai pemandumu. Inu! Kita berangkat sekarang bersama Ryuga!"
Ryuga tidak mengangguk dan tidak juga menggeleng terhadap usulan Gemusha, hanya diam seribu bahasa. Lalu keluar dari kantor Branz menuju bagian depan toko, untuk menyimpan semua kotak berisikan senjata pada inventori sistem.
"Tunjukan saja arahnya!" pinta Ryuga. "Aku tidak bisa berteleportasi langsung ke Mesir, karena aku belum pernah ke sana!"
"Baik, ayo cepat!" Gemusha menyetir mobil jeep milik Branz yang ia beli dari uang laba toko, sebagai alat transportasi pengiriman senjata. Inusha duduk di samping Gemusha dan Ryuga duduk di belakang. "Kita tidak bisa sampai tepat waktu, jika kita masih disini."
___
___
___
Mobil Gemusha sampai di perbatasan Zambia, banyak tentara berseragam soldier pemerintah Sangakama sektor Majapahit dengan lencana Garuda. Mereka berjaga sangat ketat, menjaga perbatasan.
"Hei kalian bertiga! Pulang saja, kalian tidak boleh masuk melewati perbatasan ini!" seru kapten tentara berpangkat soldier elite.
"Maaf tuan, Kenapa kami tidak boleh melewati perbatasan ini?" tanya Ryuga dengan berakting wajah memelas, ia langsung memeluk kepala tentara berkumis tebal itu. "Tolong tuan! Ayah kami di Sudan sedang sakit parah, dan membutuhkan kami bertiga untuk merawatnya."
__ADS_1
Kapten tentara mendorong Ryuga hingga membuat Ryuga terjatuh, "Apa peduliku?! Ini perintah dari tuan Alfonso, siapapun tidak di perkenankan menuju Jalan ke arah Mesir, paham!" bentak kepala tentara sorot matanya sinis.
"Benar-benar Alfonso sangat keterlaluan," batin Inusha, raut mukanya merah padam. "Aku yang akan membunuhnya sendiri."
Inusha yang sudah tidak bisa menahan emosi mendekati kapten tentara, lalu mencengkram leher dan mengangkatnya, topeng di wajahnya ia buka. "Apa kalian tidak tahu dengan wajah ini? Cepat buka jalannya!" teriak Inusha dengan lantang.
"Itu Queen! Mereka telah membelot, tangkap mereka!" seru wakil kapten tentara. Dua puluh tentara mengepung Ryuga dan Geminu, mereka menodongkan senjata AK-47 untuk menyergap mereka. "Berlutut! Atau kami tembak!"
Gemusha menyeringai jahat dari balik topengnya, "Oh jadi kalian sudah memihak pada Alfonso bukan padaku lagi. Apa kalian lupa meskipun aku tidak memiliki senjata dewa tapi aku tetap Divya level 7, fire bullet!"
Shua!
Jleb!
Peluru api melesat cepat menembus tangan kanan 10 tentara dan langsung menjatuhkan senjata AK-47 yang dipegangnya. "Aaaaakh!" 10 tentara yang terkena peluru api memekik.
"Fire Burst!"
Tap!
Swush!
Gemusha meloncat ke atas, mengeluarkan api dari mulutnya ke arah pintu perbatasan, untuk membakar para tentara yang tersisa.
"Dan ini untukmu! Ice Punch!" Tangan kiri Inusha diselimuti es dan menghantamkannya pada kepala perut tentara hingga membuatnya terpental.
Bang!
Brak!
Tubuh kepala tentara menabrak dinding perbatasan, "Ayo pergi! Sebelum mereka datang lagi!" seru Ryuga melambaikan tangannya, mereka bertiga segera berlari dan meninggalkan mobil jeepnya.
Ryuga dengan terpaksa memegang tangan mereka berdua lalu berteleportasi ke arah perbatasan republik Kongo. Ryuga sedikit hafal jalannya, karena sewaktu melewati ujian ASSAT pesawat yang ia tumpangi melewati terbang melewati perbatasan republik Kongo.
Mereka bertiga seolah menjadi buronan, setiap ada tentara Sangakama, mereka akan bersembunyi. "Bagaimana kita melewatinya, masa harus berdebat lagi dengan mereka lalu melumpuhkannya?" tanya Ryuga yang sudah kehabisan ide, rambutnya ia acak-acak.
***
Di kantor ASSAT bertempat di Sudan.
Fenrir sedang duduk di kursi kantornya, menaikan kedua kakinya ke atas meja dan menyandarkan kepala dipersilangan kedua tangannya.
Tok!
__ADS_1
Tok!
"Tuan Fenrir, ada kabar penting!" panggil komandan tentara dari luar ruangan Fenrir sambil mengetuk pintu.
"Masuk!" sahut Fenrir.
Tentara masuk dengan raut muka panik, "Gawat tuan Fenrir! Gawat! Tentara di perbatasan Zambia dan Kongo sudah dilumpuhkan, kami sedang mengejar mereka dan yang menyerang Queen bersama anak muda yang sangat tampan, rambutnya berwarna merah," jelas komandan tentara memberikan skesta wajah Ryuga. "Kita sedang mengejarnya, mungkin sekarang sudah di perbatasan Sudan."
"Bedebah! Kenapa Ryuga ikut campur masalah pengiriman senjata ini?!" Fenrir bangkit dari dudu santainya, matanya membulat, raut mukanya merah padam. "Daripada menjadi duri dalam daging, lebih baik aku akan membunuhnya sendiri bersama Geminu keparat itu. Hantarkan aku kesana!"
___
___
___
Mata Fenrir berkeliling melihat dari kejauhan, mencari keberadaan Geminu dan Ryuga dari menara pengawas di perbatasan Sudan.
Swush!
Boom!
Pintu gerbang perbatasan meledak terkena hantaman bola api yang ditembakan oleh Gemusha dari jarak jauh, untung saja tidak ada tentara yang berjaga di sana. Jadi tak adaa satu pun tentara yang terluka, Fenrir sudah memprediksi jika mereka bertiga akan menyerang bukan dengan jalur negosiasi untuk melewati perbatasan.
Fenrir melayang perlahan turun, dan mengeluarkan Gladius miliknya dari jam tamgan penyimpanan. Gladius adalah salah satu 7 pedang hellheaven sword yang dimiliki Fenrir.
Fenrir menyeringai licik lalu menjentikan jari, "Acid trap!" Permukaan tanah di selitar mereka meledak dan mengeluarkan cairan kental yang sangat lengket.
"Frozen area!"
Inusha merentangkan tangannya ke samping, muncul magic seal berwarna biru seluas 200 meter dan membekukan cairan karet. Ryuga segera mengeluarkan Yamato dari dalam inventori sistem, dan langsung menyerang Fenrir yang baru saja menapak ke tanah.
Trang!
Trang!
Gladius dan Yamato beradu, gerakan Ryuga serta Fenrir sangat cepat. Dalam sepersekian detik mereka berdua, sudah bertukar puluhan gerakan tebasan.
Bang!
Srak!
Mereka berdua beradu pukulan, keduanya terpundur 10 meter, telapak kaki mereka bergesekan dengan permukaan tanah.
__ADS_1