
"Ya itu aku." Ryuga menundukan wajahnya. "Aku akan menerima konsekuensinya, tapi orang-orang yang menerima properti dariku juga harus ikut keluar plus pihak akademi harus mengganti rugi padaku."
"Maksudmu?" raut wajah jendral Atmojoyo tampak kebingungan dengan pernyataan Ryuga.
"Silahkan datangkan Rany, Josephine, Vanya dan Raras. Mereka telah naik level dengan properti miliku dan kubuat dengan tanganku sendiri. Bukannya pak jendral sudah melihatnya? Bagaimana Raras yang level 0 bisa menjadi level 5? Itu semua adalah karena alat yang aku ciptakan." Ryuga menyeringai licik.
Jendral Atmojoyo terdiam, mengelus dagunya, ia bimbang dengan keputusan yang akan diambil pada Ryuga, di satu sisi Ryuga sudah banyak berjasa pada pemerintah. Namun disisi lain ia menjadi contoh yang tidak baik untuk akademi, menurut Jendral Atmojoyo sebagai ketua kadet Ryuga harus menjadi contoh yang baik di akademi bukan berbuat asusila.
"Jika kami tidak mau mengganti rugi, bagaimana?" tantang Jendral Atmojoyo.
"Mudah saja, aku jamin seluruh sektor Siliwangi dan akademinya rata dengan tanah. Jendral pikir aku tak punya kekuatan? Aku punya kekuatan militer di sektor Majapahit, dan anda tahu bukan tentang kabar guild storm gravity?" Ryuga menatap lekat Jendral Atmojoyo dengan tersenyum jahat.
"Ya aku mendengar rumor itu. Guild itu menjadi ancaman di sektor Majapahit karena mampu menguasai 95% wilayah di sektor Majapahit hanya dalam waktu 2 bulan, lalu hubungannya denganmu apa? Jangan bilang kau ...." Jendral Atmojoyo membulatkan mata.
Ryuga mengeluarkan lencana guild leader storm gravity, "Ya, guild itu adalah milikku dan aku pemimpin tertingginya. Hari ini aku baru saja membuka cabang guild di sektor Martapura. Dan Jendral tahu vice guild leadernya siapa? ... Ya pemimpin tertinggi Sangakama sektor Majapahit Queen Gemusha dan Inusha."
Ryuga mengeluarkan Glove of god water and fire milik Geminu dari eternal gear. "Tentu guru dan Jendral sangat paham terhadap kedua senjata dewa ini." Ryuga kembali menyimpannya.
"Jadi kamu yang ...." Jendral Atmojoyo dan Kira menjatuhkan rahangnya.
"Aku hanya ingin ganti rugi dan meminta propertiku harus ikut keluar dari akademi. Jika kalian tidak ingin membayarnya, tak masalah." Ryuga mengeluarkan dua bola ancient beast god dari eternal gear dan melemparnya. "Sumoner! Azula dan Kazedogh!"
Brak!
Groaaar!
__ADS_1
Muncul serigala putih berkepala tiga di lapangan akademi dengan tinggi 20 meter, panjang 30 meter, dan naga bermulut dua berwarna merah tubuhnya mengitari akademi dengan 4 sayapnya.
Semua kadet panik dan ricuh mereka berlari ke segala arah. Bahkan sampai ada yang terkencing-kencing begitu mendengar raungan keras mereka berdua. "Ada yang bisa kami bantu, tuan?" tanya Azula dan Kazedogh dengan suara berat dan menggelegar.
"Monster! Ada Monster!" Semua kadet ketakutan, karena mereka belum pernah melihat monster sebesar ini.
Josephine, Rany, Vanya, dan Raras segera pergi ke ruangan Jendral Atmojoyo yang atapnya sudah berlubang gara-gara ancaman Ryuga.
"Hei Ryu kenapa kau diam saja? Ayo habisi monster itu, kan lumayan bisa jadi uang." Rany menunjuk ke arah Azula dan Kazedogh.
"Ya bos, biar nambah uang sakuku nih!" timpal Raras.
"Minggir monster itu milikku." Vanya menyela Raras dan Rany yang sedsng berdiri di samping Ryuga.
"Enak saja, monster itu milikku, minggir kalian. Haunted ...." Josephine mengarahkan tangannya ke arah Azula dan Kazedogh namun ucapannya terpotong.
Ryuga memukul kepala Josephine, Vanya, Rany, dan Raras satu persatu. "Sembarangan! Mereka berdua itu petku alias monster peliharaanku. Jangan macam-macam, monster itu ada 7 didunia ini dan sangat langka namanya saja ancient beast god."
"Hah?! Ancient beast god?!" mereka yang berada di ruangan kepala sekolah menjatuhkan rahangnya dan membulatkan mata termasuk Kira dan Jendral Atmojoyo.
"Ya, bagaimana pak Jendral permintaanku? Jika aku keluar mereka berempat juga harus keluar, dan akademi harus membayar ganti rugi 20 milyar." Ryuga menyeringai licik. "Jika tidak mau ya kita perang saja, lagian seluruh kadet di akademi mau melawanku, aku jamin dalam sekejap pasti akan pingsan."
"Ryu jangan asal ngomong. Mau berperang konon, sudahlah berdamai saja," pinta Rany.
"Ya bos kalau berperang kan kasihan rakyat sektor Siliwangi," timpal Raras.
__ADS_1
"Maaf Ryu! Jika kamu dikeluarkan dari akademi, aku tidak ingin mengikuti kamu keluar. Ada janji yang harus aku jaga." Josephine membungkuk hormat dengan raut muka sedih.
"Ya aku juga. Aku berjanji pada orang tuaku untuk lulus, tapi jika aku dan Ryuga dikeluarkan atas kasus video asusila itu. Aku siap! Dan aku meminta maaf atas perbuatan kami berdua!" Vanya membungkuk hormat.
Jendral Atmojoyo tambah bingung untuk mengambil keputusan. "Hmm ... Baik Ryu, kami akan memberikan ganti rugi 20 milyar tapi kami tidak memperbolehkan Josephine, Vanya, Rany, dan Raras untuk mengikutimu. Dan mulai sekarang kamu dikeluarkan dari akademi." Jendral Atmojoyo menghela nafas panjang pandangannya tertunduk lesu.
Ryuga melepaskan seragam ASSAT kebanggannya di depan mereka yang hadir di ruangan kepala sekolah yang berlubang. Lalu menggantinya dengan pakaian street fashion style, kaos berwarna biru dan celana putih panjang.
"Raras berikan pedang Acolytemu padaku!" Ryuga menyodorkan tangannya pada Raras. "Aku akan memberikannya lagi setelah kau lulus!"
"Ba-baik bos!" Raras menyeka cairan bening di sudut kelopak matanya dan memberikan pedang Acolyte pada Ryuga.
"Ternyata kalian memang bukan sahabatku, aku menyesal telah membantu kalian naik level!" Ryuga menyeringai kesal lalu tubuhnya berkedip, menghilang dari pandangan.
"Ryu, tunggu!" Josephine, Vanya, Raras dan Rany serta Kira berteriak serentak. Azula dan Kazedogh juga menghilang dari akademi entah kemana, setelah Ryuga menghilang.
Ryuga muncul di depan Living mall alam sutra, dan menyusuri lantai demi lantai di Living mall alam sutra. Wajahnya tampak murung, Ryuga mendapatkan pukulan batin yang sangat kuat, keempat sahabatnya mengkhianatinya hanya sebuah nilai kelulusan di akademi.
"Ini kesalahanku sejak awal, terlalu percaya mereka sebagai sahabat." Ryuga membatin, dagunya ia taruh di punggung tangan kanannya. Sambil duduk di kursi samping balkon rooftop Mall Living World yang dibatasi oleh kaca pembatas setinggi 1 meter.
"Tolong! Tolong!" Suara teriakan dari arah belakang Ryuga, namun Ryuga tetap tak bergeming. Lalu terdengar suara teriakan minta tolong itu semakin keras. "Tolong! Tolong! Selamatkan aku!"
Banyak orang yang berkerumun namun tak ada yang berani mendekat. Ryuga membalikan badan, terlihat seorang gadis muda berambut silver lurus panjang sepinggang, kulitnya putih pucat, berpupil mata biru, bibir merah merekah alami, dan hidung agak mancung sedang memegang pembatas kaca yang sudah retak.
"Trickster!"
__ADS_1
Tubuh Ryuga berkedip, dan muncul disamping gadis muda lalu memeluknya erat. Ryuga menggunakan skill trickster untuk kembali ke tempat ia duduk semula.