
Dua orang melayang membawa scythe ke arah Angelina dan Raras, Erwin melayang ke arah Verel.
"Infinity Slash!"
"Rage of thunder!"
Trang!
Trang!
Verel mengeluarkan yellow flash sword dan langsung menyambut tebasan scythe Erwin. Keduanya beradu tebasan, percikan api muncul dimana, bunyi dentingan suara senjata beradu memekakan telinga. Pepohonan sekitarnya terpotong oleh adu senjata antara Verel dan Erwin.
Swush!
"Dragon burst!"
"Divine protection!"
Swush!
Angelina mengarahkan F.G.D. untuk memyerang Jackal dan Pedro, Raras memperkuat kubahnya menjadi 3 lapis agar tidak bisa di tembus oleh mereka berdua. Keduanya sulit mendekati Raras dan Angelina, F.G.D. terus mengitari mereka, menembakan semburan elemen.
"Death slash!"
Jackal melemparkan siluet tebasan berbentuk sabit ke arah kubah, ia melakukannya 10 kali ulangan. Kubah berwarna kuning keemasan itu bergetar hebat. "Raras bertahanlah, aku sedang mengempulkan energi. Setelah ini aku akan mengakhirinya, energy power up!" Tubuh Angelina di selimuti aura ungu kehitaman, menyerap energi veda di sekelilingnya. "Infinity eye, tear drop!"
Swung!
"Verel mundur!" Angelina berteriak, dalam radius 30 meter muncul banyak mata berdiameter 1 meter dari magic seal berwarna ungu kehitaman. Verel pun segera mundur, ia sangat tahu skill yang dilancarkan oleh Angelina adalah skill yang sangat berbahaya. Mata-mata itu menembakan laser berwarna merah kehitaman, dan memantul ketika mengenai mata lain.
Cwush!
"Akh!" Erwin, Jackal dan Pedro memekik, mereka terkena serangan laser dari ratusan mata yang dilancarkan secara acak. Angelina mengarahkan Zedra untuk menembakan tanah ke tim 22 yang tersisa. Mereka terkunci oleh semburan tanah Zedra, "Kami menyerah, lepaskan kami! Ini koinnya!"
Erwin melemparkan koin dengan tangan kanannya yang masih bisa bergerak dan tidak terkunci oleh semburan tanah Zedra.
__ADS_1
[Pengumuman tim 17 telah tereliminasi]
[Pengumuman tim 6 telah tereliminasi]
[Pengumuman tim 16 telah tereliminasi]
"Masih tersisa 4 tim, tapi tim siapa yang akan tereliminasi terakhir?" Ryuga berpikir sambil mandi di bawah air terjun menemani Vanya yang membersihkan rambutnya. "Segar sekali air ini, tahu begini aku mandi setiap hari disini."
"Hei! Kamu itu sedang ujian malah mandi lagi. Kalau mandi itu bajunya dilepas nanti basah dan masuk angin." Vanya membersihkan rambutnya, menatap lekat Ryuga yang semakin tampan ketika wajahnya keluar dari air.
"Cih bilang saja kau perhatian padaku, dan suka padaku, iya kan?" Ryuga mendekat Vanya dan menyeret kakinya ke air terjun.
Byur!
"Hei! Bajuku jadi basah sial! Apa yang ingin kau lakukan?" Vanya memberontak tapi hatinya sangat senang, Ryuga memperlakukannya seperti itu.
Greb!
"Tentu saja ingin memelukmu dan mandi bersamamu di air terjun sesegar ini. Segar bukan airnya? Tenang saja aku akan memelukmu dan menjagamu supaya jangan tenggelam." Ryuga membawa Vanya ke tengah, tangan kanannya memeluk perutnya yang sangat kecil. Vanya tidak menolak, malah semakin senang.
Cup!
Tapi Rany ...," ucap Vanya Terpotong.
"Sudahlah biar waktu yang menjawab, belum tentu Rany juga benar-benar menyukaiku kan. Aku sakit karena kamu pukul bukan karena sakit fisik, tapi hatiku sakit orang yang kusukai tega melakukannya padaku." Ryuga membawa Vanya ke pinggir lalu membantunya membersihkan rambutnya.
"Jadi kamu menyukaiku?" tanya Vanya dengan pipi memerah.
"Ya tentu saja, aku jujur mengatakannya. Untuk masalah harta aku selalu minder, tapi masalah cinta aku pasti jujur mengatakannya. Aku ini sering ditolak wanita meski wajahku sangat tampan, mereka menolaku karena miskin. Apa kau juga menolaku?" Ryuga membalikan badan Vanya dan menatap lekat matanya, bibirnya semakin dekat dengan bibir Vanya. "Aku mencintaimu."
Cup!
Mereka berdua hilang dari pandangan dan muncul di dalam gua air terjun. Vanya sudah kehilangan rasionalitas di dalam dirinya, pesona ketampanan Ryuga memabukan otaknya.
Ryuga melepaskan pakaiannya yang basah juga pakaian Vanya. Dan terus menciumi bibirnya dengan ganas, kata-kata ajaib itu membuat Vanya lupa bahwa dirinya sudah tak lagi memakai baju. Ryuga pun sama, entah setan apa yang merasuki mereka berdua, mereka melakukan pergumulan insan di dalam gua sepi dan tak pernah terjamah oleh murid-murid akademi.
__ADS_1
Sebagai darah muda Ryuga sudah kelepasan dan memasukan tiang tegaknya di dalam gua merah muda Vanya. Cairan merah keluar dari dalam gua merah milik Vanya. "Ryuga, aku juga mencintaimu." Vanya membalas kata-kata ajaib Ryuga, membuatnya semakin semangat melajukan tiang tegaknya.
Vanya mengerang dan meracau tidak jelas, Ryuga membekap mulut Vanya agar orang diluar tidak mendengar pergumulan dua insan di mabuk kepayang ini.
Tubuh Vanya menegang, bulatan kecil merah muda di gunung kembarnya menegang, ia merasakan final pertama kali di ikuti semburan cairan kental dari lubang tiang tegak Ryuga.
****!
Kedua nafas mereka terengah-engah, Ryuga mencium bibir Vanya, "Aku mencintaimu sayang, aku berjanji akan menjagamu dan bertanggung jawab atas perbuatanku ini."
Vanya hanya mengangguk pelan, ada perasaan menyesal di dalam hatinya, mahkota yangs seharusnya ia berikan pada pada suami sahnya, malah direnggut oleh Ryuga.
Empat botol Ryuga dan dua setel baju military fashion style kadet Maung School, Ryuga keluarkan dari dalam jam tangan penyimpanannya, "Minumlah! Dan pakailah baju ini!"
"Terima kasih. Aku harap kamu tidak meninggalkanku Ryu, aku sudah menekan bibitmu agar tidak masuk ke rahimku. Aku masih ingin mengejar karirku menjadi Divya yang sukses di masa depan." Vanya memeluk Ryuga dari belakang.
"Aku bilang sekalipun kamu hamil, aku akan tetap bertanggung jawab. Masalah keungan aku sudah punya tabungan banyak, aku mendapatkan proyek besar 200 milyar dari distrik Mesir. Aku juga akan membuat toko senjata disini dan membangun cabang guild storm gravity disini." Ryuga menatap tajam Vanya.
"Banyak sekali uang itu, kalau punya uang sebanyak itu bukankah kamu tidak perlu untuk bersekolah lagi." Vanya sumringah, wajahnya berseri-seri.
"Tetap penting, karena aku ingin menjadi Regalia king, dan itu butuh belajar di akademi." Ryuga menggelengkan kepala. "Ayo kembali, nanti mereka marah lagi jika kita datang terlalu lama."
Ryuga memegang pinggang Vanya dan berkedip, lalu muncul di hadapan Josephine dan Rany.
"Lama sekali kalian! Jangan-jangan kalian habis pacaran ya? Atau kalian berdua habis blaem-blaem ya?" Josephine mengendus-endus kepala Ryuga dan Vanya. "Wah-wah jelas ini bau sehabis pacaran."
Bletak!
"Jangan konyol Josephine! Maana ada bau sehabis pacaran dan blaem-blaem bisa dicium!" Rany memukul kepala Josephine.
"Aw sakit! Keras sekali pukulanmu itu, cemburu ya? Ayo cemburu, ayo cemburu!" Tangan Josephine digerak-gerakan tepat di depan gunung kembar Rany yang besar.
Bletak!
Bletak!
__ADS_1