KSATRIA SYSTEM : KOKOBOT

KSATRIA SYSTEM : KOKOBOT
New Chapter 163


__ADS_3

Keesokan pagi, Apartemen Hokkaido.


Neo Japan heboh karena kemunculan Four White Shadow yang membantai tiga Asosiasi Assasin peringkat tiga atas.


Gejolak Asosiasi Assasin yang lain mulai menampakan diri, untuk menunjukan siapa organisasi Assasin yang terkuat.


Ini juga berdampak besar pada Asosiasi Rinbo yang menaungi semua organisasi pembunuh bayaran seantero dunia.


Pembantaian Ryuga, Zaka, Zaki, dan Gladys memberikan dampak efek yang besar. Mereka telah menciptakan ketidakseimbangan di dunia bawah tanah.


Para agensi lain menyimpulkan jika pembataian tersebut karena salah satu pihak ingin menunjukan kekuatannya. Mau tak mau prinsip siapa yang kuat berkuasa kembali di anut dan mengundang perpecahan.


"Hoaaam!" Ryuga bangun dengan merentangkan kedua tangannya ke atas dan melanjutkan bergumam, "Capek sekali kemarin. Ini sudah menjadi resikoku sendiri mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus, pembunuh bayaran, mahasiswa dan juga penguasa."


Ryuga bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu memakai seragam mahasiswa dan melihat isi pesan dalam aplikasi chatting, apakah ada yang penting atau tidak.


Ya, walau banyak pesan penting, Ryuga tak menggubrisnya. Apalagi berkenaan dengan Bloodgallen City yang masih dalam proses pembangunan.


Seperti biasa, setiap pagi Ryuga mendapatkan nasi kotak bento dari Filza untuk sarapan. Lalu sesegera mungkin pergi ke kampus.


Ryuga hari ini sangat senang, ia berjalan sambil bersiul lantang. Bahkan teman-temannya sudah menganggap Ryuga agak gila.


Hampir seluruh mahasiswa dan mahasiswi masih menatapnya dengan tatapan sinis dan benci. Fitnah anak buah Bill masih belum sepenuhnya hilang, walau pihak Univiersitas sudah memberikan informasi yang sebenarnya.


Seperti biasa Gladys dudu di meja samping Ryuga. Tiba-tiba tatapannya tajam dan memberikan smartphon miliknya pada Ryuga membuat teman-teman sekelasnya curiga, jika Ryuga dan Gladys ada main.


Padahal itu adalah pesan dari Vouge agar Four White Shadow tidak beroperasi sementara ini menunggu suasana bawah tanah kembali tenang.


Ryuga hanya tersenyum lebar dan menaruh smartphone Gladys ke mejanya, "Katakan ada Vouge, kami adalah kami," lirihnya pada Gladys hanya menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Baguslah, dengan begini permainan akan jauh lebih seru," batin Ryuga tersenyum simpul.


Niseki pun datang dan mulai memberikan pelajaran dengan berdiskusi. Setelah selesai jam mata pelajaran, Ryuga seperti biasa ke perpustakaan untuk membaca setiap buku dan menghafalnya.


Dari balik bayangan Zaki muncul dan membisikan sesuatu pada Ryuga membuatnya tersenyum lebar dan mengangguk.


Setelah selesai Ryuga pergi menaiki LRT untuk pergi ke Gorce Steel. Hari ini ia ingin sedikit santai, setelah setiap detik ia lalui dengan detak jantung yang berdebar kencang menjadi pembunuh bayaran.


Di dalam gerbong LRT, Ryuga melihat wanita paruh baya bersama anak perempuannya yang berumur sekitar 6 tahun sangat imut dan lucu, membuat Ryuga gemas ingin mencubit pipinya.


Sesekali pandangan Ryuga melirik ke arah anak kecil tersebut. Sang ibu pun menjadi gelisah dan takut, langsung memeluk anak perempuan itu dengan erat.


Di stasiun Mukaku, gerombolan preman yang sedang mabuk masuk. Ada 7 orang, berbadan kekar dan garang.


Ryuga yang sedang duduk di kursi tengah di apit 4 orang preman, 2 preman lagi duduk di depannya, satu lagi berdiri di dekat wanita paruh baya yang memeluk anak perempuan itu.


Sesekali mata mesumnya mengintip gundukan gunung kembar wanita paruh baya itu yang cukup sintal dan kencang.


Preman yang memiliki codet di pipi kiri itu memberikan kode pada teman-temannya dengan menaikan alisnya lalu melirik ke arah kanan, menunjuk pada wanita paruh baya yang berada di sebelah kanannya.


Anak perempuan itu mempunyai intuisi yang kuat, ia ketakutan dan mulai menangis. Preman yang memiliki codet di pipi kiri itu berpura-pura bersiul dan mendongakan kepalanya ke atas.


"Dasar para preman kecoa," batin Ryuga mengerucutkan bibirnya.


Ryuga bangkit karena sebentar lagi masuk terowongan yang cukup gelap berjarak 500 meter. Takut ketujuh preman tersebut melakukan perbuatan tidak senonoh.


Dan benar saja, preman bercodet itu langsung membekap wanita paruh baya, ketika kereta masuk dalam terowongan gelap. Anak perempuan tersebut juga ditendang hingga menabrak pintu yang menuju gerbong lain hingga pingsan.


Ryuga geram dan langsung berlari, tapi kakinya tersandung salah satu preman yang sengaja menghalanginya hingga ia terjatuh. Mereka bertujuh menertawakan Ryuga, tanpa basa-basi Ryuga mengeluarkan aura primordial dan sudah dipastikan mereka menjadi bubur darah, hancur berkeping.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu ketakutan karena bermandikan darah. "Sial, aku keceplosan. Gawat kalau mereka tahu, lebih baik aku kabur," gumamnya.


Begitu kereta keluar terowongan Ryuga berakting, berpura-berpura pingsan. Agar tak membuat wanita paruh baya itu curiga.


Wanita paruh baya yang bernama Inke itu bergetar hebat tubuhnya dan sangat ketakutan. Melihat semua orang yang hendak berbuat tak senonoh padanya mati mengenaskan.


"I-ini ku-kutukan." Inke memeluk Jill erat dan sangat ketakutan, sampai-sampai tidak bisa menggerakan tubuhnya setelah memeluk Jill.


Ia tak menyadari jika Ryuga sudah berpura-pura pingsan karena saking takutnya. "Sa-sayang ba-bangun," katanya menitikan air mata.


Ryuga tak tega dan berpura-pura kepalanya sakit, "Uugh, ada apa ini?" lalu ekspresinya berpura-pura terkejut.


Ryuga berjalan perlahan, supaya insting Inke tidak mencurigai dan menolak khadirannya agar tidak mendekat.


"Ma-maaf, nyonya. Sebenarnya a-apa yang terjadi? Kenapa banyak darah?" Ryuga bertanya berpura-pura ketakutan.


"A-ada kutukan, kutukan, kutukan ...!" Inke menjadi histeris.


"Su-sudah. Lebih baik kita berpindah gerbong, ny-nyonya, ayo. Kasihan putrimu pingsan." Ryuga menggendong Jill dan menarik tangan Inke untuk menegakan badannya.


Ryuga mendorong pintu LRT yang terhubung ke gerbong nomor 7, karena ia sekarang berada di gerbong 8.


Lalu menidurkan tubuh Jill ke salah satu kursi kosong. Jill diminumkan satu botol hijau, untuk nenyembuhkan lukanya.


Ryuga yang masih memegang tangan Inke langsung menyalurkan energi Vedanya, "Regeneration Cyborg!"


Mental Inke kembali normal, "Te-terima kasih, tuan. Ketakutanku sudah mereda. Apakah tuan seorang Divya?" tanyanya menunduk hormat.


"Ya, aku mau ke Gorce Steel. Lain kali hati-hati ya, di dalam kereta banyak orang jahat. Untuk hal itu tidak perlu diceritakan pada orang lain, kita langsung kabur jika sudah sampai di stasiun selanjutnya. Nanti aku hantar pulang, memangnya nyonya mau pulang kemana?" tanya Ryuga.

__ADS_1


"Jangan panggil nyonya tuan. Panggil saja Inke, aku tidak punya tempat tinggal, suamiku menceraikanku dan mengusir kami. Aku tidak tahu mau pulang kemana, aku pergi dengan putriku Jill tanpa tujuan," jawab Inke sendu.


__ADS_2