
Ryuga mengeluarkan stamina potion dan heal potion dari inventori sistem. Mereka menganggap Ryuga mengeluarkan ruang penyimpanan dari jam tangan akademi yang terpasang di tangan kirinya.
"Silahkan di minum, untuk teman-teman healer minum stamina potion untuk mengembalikan energi Veda dan tak perlu lagi menyembuhkan teman-teman yang terluka."
Ryuga mengelus dagunya, matanya menatap ke atas memikirkan sesuatu. "Bagaimana mengobati mereka dengan skill regeneration cyborg, padahal itu skill yang aku rahasiakan."
Kira masuk dari pintu utama aula akademi, bersama jendral Atmojoyo, matanya berkeliling mengamati keadaan. Kira mengerti keadaan Ryuga yang bingung untuk mengobati, teman-temannya. Kira paham Ryuga tak ingin skill rahasianya diketahui banyak orang.
"Ryu! Kamu bantu teman yang lain saja, masalah penyembuhan. Biar aku saja yang melakukan," titah Kira. "Mode Yokto, Multi healing regeneration!"
Blackball berubah menjadi redblackball dan menggandakan diri, menjadi ratusan bola merah hitam transparan, berdiameter 5 meter. Lalu menelan 100 kadet level 4 dan level 5 yang terluka, energi veda Kira cepat terkuras. Untung saja, dia masih mempunyai stok stamina healing yang diberikan Ryuga dan langsung menenggaknya.
Kira melanjutkan, mengalirkan energi vedanya yang telah penuh, untuk menyembuhkan para kadet. "Terima kasih Kira, berkatmu para kadet masih bisa terselamatkan," ucap Jendral Atmojoyo yang berada di samping Kira. "Saya khawatir, akademi ini akan hancur. Jika para muridnya tewas oleh monster."
Kira diam tidak membalas perkataan Jendral Aymojoyo, karena masih fokus menyembuhkan para kadet. "Ah! Selesai juga, akhirnya!" Kira menyeka keringat di dahinya. "Maaf Jendral, saya terlalu fokus. Sama-sama Jendral, itu sudah menjadi tugas saya sebagai mentor untuk melindungi mereka."
Bola redblackball mengeluarkan 100 kadet yang terluka secara perlahan. Semua kadet dalam keadaan pingsan. "Tim healer segera pindahkan para kadet, ke kamar perawatan akademi!" titah Jendral Atmojoyo.
"Siap Jendral!" ucap serentak tim healer akademi dari para mentor dan kadet. Mereka membawa semua kadet ke ruangan perawatan akademi.
Vanya sebagai healer, sibuk bolak-balik menghantarkan para kadet dengan trolley. "Lelah sekali hari ini, tapi aku harus kuat. Demi membuat mereka sembuh!" ucap Vanya menyeka keringat di dahinya.
"Sis! Semangat!" ucap Rany mengepalkan tangan, sebagai tanda menyemangati Vanya.
__ADS_1
"Makasih sis!" balas Vanya dengan membawa kadet yang luka fisiknya sudah sembuh, tapi masih pingsan.
___
___
___
Di ruangan rahasia direktur militer Jendral Atmojoyo.
Kira, Ferdi, Zaleem, Miranka, dan Arsyana sebagai mentor veteran dengan pangkat khusus dikumpulkan dan juga wakil direktur dalam berbagai bagian. "Maaf! Saya mengganggu waktu kalian. Saya ada berita penting yan harus sekarang juga saya sampaikan,"
"Siap Jendral! Kami mendengarnya!" ucap serentak Draco Army. Mereka berlima dahulu di kesatuan yang sama dan Kira yang menjadi kaptennya, tentu saja tugas mereka memberantas monster yang muncul dari portal.
Namun setelah misi terakhir selesai, Kira kembali ke sektor Majapahit. Secara otomatis Draco Army dibubarkan, namun setelah Kira ditempatkan di Maung School, Ferdi, Zaleem, Miranka dan Arsyana meraza nostalgia denga masa lalu mereka.
"Apa?! Bisa mengancurkan portal?! Bukankah hanya para Lord dan Quen Sangakama saja yang bisa melakukan itu?!" Ferdi, Zaleem, Miranka, dan Arsyana berkata serentak, mata mereka membulat kecuali Kira yang sudah mengetahui fakta sebenarnya.
"Siap Jendral!" jawab Kira singkat.
"Untuk sementara, waktu latihan dan mengajar diliburkan sampai semua kadet sembuh," jelas Jendral Atmojoyo. "Silahkan bubar!"
"Siap Jendral!" sahut mereka berlima serentak lalu membalikan badan meninggalkan ruangan rahasia Atmojoyo.
__ADS_1
[Diberitahukan kepada seluruh kadet, untuk sementara kegiatan latihan dan kegiatan belajar mengajar diliburkan sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Untuk informasi selanjutnya akan diberitahukan oleh kami secara berkala, terima kasih]
Ryuga yang berada di lorong akademi, mendengar informasi kegiatan akademi diliburkan sementara, dari seluruh sound system akademi yang terpasang di setiap sudut akademi merasa risau.
Sebagai ketua kadet, tentu Ryuga tak ingin berdiam diri saja, menghadapi masalah pelik di akademi. "Aku harus melakukan sesuatu." Ryuga terus berjalan ke ruangan misi, untuk memastikan pasti ada misi yang bisa membantu masalah pelik di akademi. "Mungkin aku bisa menemukan misi di sana."
Ruangan misi berguna memberikan misi untuk menopang keberlangsungan akademi. Seperti pengadaan logam, pengadaan daun herbal untuk membuat potion, atau misi yang bisa mendapatkan uang dari warga. Keuangan akademi selain ditopang oleh pemerintah, akademi juga mendapatkan uang dari membantu warga yang memberikan misi, misal mencari ayam atau kucing yang hilang atau menjaga anak konglemerat sampai di tujuan, jika di daerah yan akan dilewati banyak monster atau banyak perampok.
Ryuga sampai di ruangan misi, "Hai Ryu! Selamat ya! Kamu sudah jadi ketua kadet." Rinska penjaga ruangan misi menyodorkan tangan dan disambut oleh Ryuga untuk berjabat tangan. "Mencari misi?"
"Ya, sama-sama guru Rinska," jawab Ryuga. "Aku tidak bisa berdiam diri saja, aku harus menyelesaikan misi untuk membantu akademi."
"Mohon maaf Ryu! Namamu tertera di buku block misi satu minggu ke depan, dan tidak bisa menerima misi. Ini perintah dari tuan Atmojoyo," tegas Rinska, perempuan berambut pendek sebahu berwarna biru acak, pupil matanya berwarna hitam pekat, hidung agak mancung, kelopak mata agak bulat, kulitnya putih dan tinggi 165 cm, serta ada bekas luka sayatan huruf z di pungggung tangan sebelah kanan.
"Kenapa guru? Apa alasannya?" tanya Ryuga mengernyitkan dahi, ia tak percaya ketua kadet yang seharusnya memberikan sumbangsih lebih untuk akademi, malah tidak diperbolehkan melakukan misi.
"Kata Jendral, Lord Gardosen ingin mengundang ada di gedung Mexus sektor Siliwangi, karena ingin memberikan apresiasi atas kinerjamu Ryu! Sebagai satuan ASSAT yang baru, kamu memberikan kontribusi yang sangat besar. Karena telah berhasil menumpas ribuan monster dan berhasil menutup 5 portal," jelas Rinska.
"Ah Jendral dan guru, terlalu berlebihan. Bukankah sudah kewajibanku sebagai warga sektor Siliwangi, untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Aku juga kan sekarang sedang wajib militer untuk menanamkan rasa nasionalisme pada sektor kita. Jadi wajar saja aku berbuat seperti itu, ya kan guru?" ucap Ryuga.
"Ya kamu benar," Rinska mengelus lembut topeng semesta. Rinska adalah wanita yang lembut dan selalu mengekspresikan kelembutannya pada orang lain, entah dengan tutur kata yang sopan, atau sedikit belaian lembut. "Kamu bantu saja divisi logistik pergudangan, untuk memindahkan tanaman herbal ke ruangan para alkemis."
"Baik, guru!" Ryuga langsung menhilang dari pandangan dengan skill trickster dan muncul di depan gudang logistik.
__ADS_1
"Dasar anak itu, selalu saja membuat kejutan," gumam Rinska dengan bibir melengkung membentuk senyuman.
Ryuga mulai memindahkan box besar berukuran 1 meter x 1 meter x 1 meter, berisi tanaman daun telang untuk membuat stamina potion dan daun sirih untuk membuat heal potion. Penemu heal potion dan stamina potion, tentu saja dokter Yadna, dokter misterius yang tidak diketahuo keberadaanya sampai sekarang.