KSATRIA SYSTEM : KOKOBOT

KSATRIA SYSTEM : KOKOBOT
Chapter 246


__ADS_3

1 tahun kemudian.


Setelah pemerintahan Sangakama di seluruh dunia hancur. Hanya menyisakan Lord Gardosen saja dan itu pun melakukan tindakan sewenang-wenang. Akibat Lord Gardosen menggunakan 3 senjata dewa sekaligus, sehingga kehilangan akal sehatnya.


Bumi dibagi empat wilayah, Agito yang dirasuki Bayanaka memimpin wilayah sektor Trunyan dan Nagana menamakan wilayahnya Hun Dun.


Ryuga memimpin wilayah sektor Majapahit dan menamakan wilayahnya Tao Tie.


Akira memimpin wilayah sektor Giwa Pranala dan Martapura, serta menamakan wilayahnya Taou Wu.


Gardosen memimpin wilayah sektor Siliwangi dan Sriwijaya, serta menamakan wilayahnya Qiong Qi.


Hari ini pertama kalinya melakukan gencatan senjata untuk perdamaian empat wilayah Emperor, karena selama 1 tahun empat wilayah berperang satu sama lain memperebutkan Ancient Blood dan Ancient Of Weapon God.


Tujuan Agito atau Bayanaka ingin mengumpulkan Ancient Blood dan Ancient Of Weapon God adalah ingin menutup portal gunung padang yang hari ini adalah puncak energi portal. Ketika sembilan planet sejajar dengan matahari juga bulan.


Tujuan Ryuga jelas ingin mengembalikan Yosep dan juga Rany dari portal situs gunung.


Tujuan Gardosen lain lagi, ia percaya di dalam portal situs gunung padang ada kekuatan dewa yang sangat hebat dan ingin mendapatkannya.


Tujuan Akira hampir sama dengan Ryuga yang ingin mengembalikan Yosep dan Rany sebagai ayah juga ibunya. Tapi karena hasutan Bayanaka tentang ketidak mampuan Yosep menjaga Akira dan akhirnya membenci Yosep. Kebencian sementara ini, Akira memutuskan hanya mengeluarkan Rany dan tidak mengeluarkan Yosep dari portal situs gunung Padang.


Mereka berempat duduk memutari meja di dekat tangga menuju bagian dalam situs gunung padang.


"Kenapa kita harus bertemu kalau hanya akan berperang lagi?" Gardosen yang duduk dan didampingi Zayd di belakangnya menatap dengan sinis, Agito, Akira, dan Ryuga yang sudah berbeda kubu tersebut.


"Kita disini untuk berdamai dan tidak ingin berperang. Percuma saja jika berperang, sudah banyak korban berjatuhan. Jadi jangan memprovokasi lagi, Emperor Gardosen." Ryuga mencoba menengahi agar tidak terjadi perang lagi.

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak basa-basi. Serahkan Ancient Blood dan Ancient Of Weapon God padaku! Maka masalah selesai." Akira menggebrak meja dengan tatapan mengancam.


"Kamu terlalu berterus terang adikku. Begini saja, kita berempat bertarung sampai mati dan yang berdiri terakhir maka itu yang mendapatkan Ancient Blood dan Ancient Of Weapon God," usul Agito dengan tersenyum licik.


"Apa tidak salah? Bagaimana jika aku menggunakan kekuatanku untuk menetralkan energi kalian semua?" Ryuga tersenyum licik dengan tatapan mengancam dan melanjutkan, "Apa kalian lupa tragedi satu bulan yang lalu ketika aku turun tangan?"


Tragedi itu terjadi di sektor Trunyan, Ryuga menetralkan semua orang di sektor Trunyan menjadi manusia biasa.


"Aku tidak takut sama sekali. Aku yakin skill itu punya batas waktu untuk menggunakannya kembali. Jika kau mampu lakukan sekarang!" tantang Gardosen yang sudah mengamati dan menyelidiki tentang skill Divine Deity Absorption.


"Sial, ancamanku tidak digubris. Padahal jika mereka takut maka aku akan menang. Nampaknya skill ini terlalu banyak aku menggunakannya dan mengalami masa tenang penggunaan satu bulan dan beberapa jam lagi bisa digunakan," batin Ryuga khawatir.


"Kenapa? Tidak bisa? Sungguh menggelikan. Sudah lebih baik kita setujui saja usulku dan menurutku itu adil." Agito kembali mengusulkan dan sengaja memprovokasi mereka.


Dengan menghela nafas panjang, Akira, Ryuga dan Gardosen mengangguk tanda menyetujui usulan Agito, "Baiklah."


"Sialan, kau telah mengadu domba adikku, dan anakku untuk menjadi pionmu!" teriak Agito yang asli di dalam ruang batin tubuhnya sendiri, yang terpenjara dengan ikatan rantai Psycho Danger Seven. Rantai itu adalah rantai yang pernah menjerat Ryuga di dalam pikirannya sendiri.


Ryuga tidak membawa semua istrinya itu karena sudah memprediksi, ayahnya akan melakukan permintaan pertarungan hidup dan mati.


"Emperor Akira melawan Emperor Gardosen!" teriak Zayd mengumumkan pertandingan pertama.


Ryuga mengelurkan Ryutaiga dari Awakening Gear dan pedang merah darah itu mengambang di atas tangan kirinya. Lalu mendekati Akira, "Ini janjiku padamu paman. Aku sudah menepatinya," katanya datar.


"Terima kasih." Akira menerimanya dengan wajah datar.


"Kalau aku ada kesempatan siapapun yang menang, aku akan merebut kembali Ryutaiga, kedua Ancient Blood dan ketiga Ancient Of Weapon God dari siapapun yang menang dalam pertandingan ini. Semua ini demi kakek," batin Ryuga tersenyum licik.

__ADS_1


Tanpa aba-aba keduanya langsung berlari cepat menjauh dari situs gunung padang yang ada hanya mereka berlima.


Dalam gencatan senjata ini tidak ada satu pasukan pun yang ikut termasuk, pasukan Emperor milik Ryuga.


Sementara itu Ryuga memejamkan mata dan Agito duduk santai menikmati pertandingan antara Akira sert Gardosen yang sama-sama imbang. Mereka berempat semuanya telah berada di level 13 Eneru God.


Makanya, pertandingan hidup dan mati adalah solusi terbaik untuk menghentikan perang yang terus berkecamuk selama satu tahun antar empat kekaisaran.


Bayanaka sama sekali tidak menyadari jika jiwa Ryuga menghubungi ayahnya yang terjebak di dalam untuk merusak penjara yang mengurungnya di dalam ruang batinnya sendiri.


"Ayah, aku datang dan hanya ini yang bisa kuberikan padamu. Semoga ayah bisa menyelamatkan diri. Excalibur Soul Orb!" Jiwa Ryuga yang sudah masuk ke dalam ruang batin Agito melemparkan bola cahaya merah yang menembus dinding transparan penjara jiwa.


Jiwa Agito memegangi dinding transparan penjara jiwa dan menerima Excalibur Soul Orb, "Terima kasih anaku. Meski aku bisa bertemu dalam keadaan seperti ini," kata Agito menitikan air mata karena sangat merindukan Ryuga.


Setelah itu, jiwa Ryuga kembali ke raganya. Karena takut Bayanaka akan mengetahuinya.


Kembali ke Akira dan Gardosen yang sedang beradu pukulan. Keduanya terpundur di udara, "Ether Teritory!" seru Gardosen membuat kubah pelindung untuk menetralkan serangan yang dari energi Veda.


"Bloodfallen Barrage!" Akira langsung melesat melewati kubah pelindung yang bisa menetralkan serangan apapun. Lalu melepaskan tebasan cepat dan beruntun ke arah Gardosen.


"Tidak mungkin?! Bagaimana bisa?!" Gardosen melebarkan mata dan menangkis serangan tebasan yang menciptakan garis-garis merah bekas ayunan pedang Akira, hanya dengan kedua kaki secara bergantian.


'Trang-trang!' Kedua kaki Gardosen telah menggunakan Greaves Of God Wind dan Greaves Of Gof Thunder. Hanya percikan api yang terbentuk dari benturan bilah Ryutaiga dan kedua kaki Gardosen.


Itu artinya energi di dalam bilah Ryutaiga tidak bisa dinetralkan oleh skill Gardosen.


Kekuatan Akira meningkat tajam, tebasan beruntunnya memang berhasil ditangkis oleh kedua kaki Gardosen. Tapi gelombang kejut akibat pantulan tangkisan tersebut memotong pepohonan dan permukaan tanah dalam radius 300 meter.

__ADS_1


__ADS_2