
Ryuga sudah di dalam mobil yang dikemudikan Miku. Tujuan mereka menara Insignius, walau tidak pantas disebut menara karena hanya berlantai lima.
Mereka akan melakukan kenaikan Divya secara masal dan diperuntukan untuk staff Universe Ruler yang memiliki Curse Archangel Demon. Di luar itu tidak diperbolehkan, termasuk bawahan geng Night Blue. Jika mereka ingin mendapatkan Evolution secara gratis, mereka harus membuktikan kontribusi dan mendapatkan segel kutukan malaikat iblis.
Ryuga sedang menyaring orang-orang Night Blue yang berpotensi berkhianat. Makanya ia membentuk pasukan sendiri.
Sesampainya di menara Insignius lantai 4, sudah ada 100 orang yang duduk di atas kursi seperti bangku kuliah, kursi disertai meja. Di kumpulan 100 Divya tersebut juga ada Zaka, Zaki, dan Gladys.
Mereka berdua, Zaka dan Zaki dipanggil pulang oleh Kiyu, meski dalam tugas penting memata-matai Belucci dan anggota penting geng Imperial Black.
Suasana sangat hening dan tegang, bahkan beberapa Divya mengeluarkan keringat dingin dan meneguk salivanya karena takut akan pemimpin besar mereka, Vergil Wong.
Ryuga melipat tangan dengan tatapan tajam lalu mengangkat tangan dan menunjuk ke arah kumpulan kotak besi yang bertumpuk rapi berwarna jingga, "Buka dan mulai!" teriaknya.
Kiyu dan beberapa anggota geng Night Blue mulai menurunkan kotak-kotak besar itu dan membagi-bagikannya pada 100 Divya. Setiap Divya memiliki level rata-rata 7 dan level 8 hanya beberapa puluh saja.
Mereka semua diberi untuk 1 orang, 10 botol Evolution potion dan langsung menenggaknya dengan sangat kalap. 80 orang yang berlevel 7 naik ke level 8, dunia memang berubah sejak 3 tahun terakhir.
Dahulu level 7 itu sangat langka, tapi sejak terbukanya portal Memory Of Heaven, hal itu sudah banyak diketemukan akibat penjualan kapsul kristal yang dimonopoli klan Rosala, klan Smith, dan klan Kismoyo di sektor Siliwangi.
Ryuga mendekati Zaka, dan Zaki lalu menepuk pundaknya satu persatu, lalu berlalu pergi. 100 Divya semuanya dalam sekejap naik ke level 9 dan menghabiskan 1 orang yang dari level 7, 110 botol Evolution potion dan 100 botol untuk level 8.
80 Divya yang naik level 9 diminta keluar oleh Kiyu, 20 sisanya diperkenankan untuk meminum 1000 botol lagi termasuk Gladys, Zaka, dan Zaki.
Untung saja cairan jingga itu mudah diserap oleh lambung dan menjadikannya energi, kalau tidak, perut mereka bisa kembung.
20 suara ledakan teredam, terdengar cukup pelan dan setiap Divya mengeluarkan asap dari mulut mereka lalu bersendawa keras.
"Tuan muda memang hebat."
"Ya, aku merasa bersyukur."
"Aku juga jadi lebih kuat sekarang."
__ADS_1
"Tentulah, tuan muda!"
Mereka terus berkata-kata sangat riang dengan mata berbinar-binar apalagi puluhan milyar yen sudah digelontorkan untuk gaji, tunjangan dan pembelian Evolution Potion demi mereka.
Hanya Gladys seorang diri yang matanya bergerak sangat cepat seperti mesin slot, lalu berhenti di manik mata berwarna hitam pekat dengan motif sigil merah, itu adalah Ancient Eye.
[Selamat, Gladys kusuma berhasil naik level 10 Emperor. Berhasil menaikan level kuasa Primordial level 7 kuasa Primordial Eye ke level maksimal kuasa Ancient Eye]
[Ancient Eye adalah kemampuan mata meningkatkan semua kemampuan kuasa Primordial dari level 1 sampai level 8]
[Pandangan jarak jauh Eagle Eye meningkat sampai 2 km]
[Pandangan tembus White Eye meningkat dalam radius 500 meter]
[Penggunaan Devastation Eye, mampu memanggil 10 titan terkuat]
[Pemanggilan Iblis kelas atas menggunakan Evil Eye mampu memanggil Guardian Evil Dragon]
[Dapat memanggil 7 ras Ancient Vistamp menggunakan Immortal Eye]
[Dapat memanggil 7 Fallen Angel, 7 Holy Throne Angel, dan Angel Army menggunakan Primordial Eye]
Setelah 20 Divya naik ke level 10, Zaka, Zaki, dan Gladys keluar ruangan, menuju ruangan Ryuga.
"Apa yang kamu temukan?" tanya Ryuga menyelidik pada Zaka dan Zaki.
"Banyak, tuan muda." Zaka memberikan flashdisk berisikan video dari kamera robot lalat yang sengaja di sebar pada tempat-tempat penting milik Belucci beserta kroni-kroninya.
"Kerja bagus. Ternyata Elixir potion dengan Floux masih diproduksi, wanita sialan itu masih terus bersliweran bagai hantu." Ryuga nengacungkan jempol pada Zaka dan Zaki, lalu membanting pandangannya ke bawah mengingat Fayfreya yang belum berhasil dilumpuhkan.
"Tuan muda, apakah laporan kami sudah cukup?" tany Zaki.
"Cukup, kalian boleh kembali bertugas." Ryuga mengibaskan tangan, lalu Zaka dan Zaki menunduk hormat serta hilang dari pandangan.
__ADS_1
"Tuan muda, apa yang akan kita lakukan?" tanya Gladys melihat Ryuga melihat semua tempat di dalam video yang diputar pada laptop Ryuga.
"Ikut aku dan pakai ini!"
Ryuga mengeluarkan Mask Of Universe yang sudah diubah warnanya menjadi warna putih dengan dua garis hitam di kanan dan kiri. Lalu memberikan replika Mask Of Universe dengan warna yang sama.
Ryuga dan Gladys melesat sangat cepat keluar dari jendela ruangan Ryuga. Lalu berlari melompati satu gedung ke gedung lain, arahnya adalah wilayah Barat.
Ryuga dan Gladys secepat kilat sampai di sebuah bar, cukup ramai. Menurut informasi dari video Zaka dan Zaki, bar bernama Starlix tersebut merupakan tempat asosiasi para pembunuh bayaran Titania, salah satu agen pembunuh bayaran dari asosiasi Rinbo.
Untuk masuk dan menjadi anggota tidak mudah harus menerima ujian. Ryuga dan Gladys masuk ke dalam ruangan bar, disana sudah banyak pembunuh bayaran yang sedang minum-minum.
Ryuga dan Gladys hanya memakai jas hitam dan mini dres hitam dengan blazer hitam, untuk Gladys memakai sepatu boot selutut.
Semua pembunuh bayaran menatap sinis dengan menyunggingkan senyum, Ryuga dan Gladys langsung memesan minuman di bartender, "Titania Shadow!" kata Ryuga.
Bartender langsung mengernyit dan menekan tombol darurat di bawah mejanya. Kata yang Ryuga sebutkan adalah kata kunci untuk mendaftar keanggotan Titania.
"Berani juga kau pemuda bertopeng putih, aku yakin kalian memang masih muda," balas BlackQorn nama bartender tersebut.
Kursi yang di duduki Ryuga dan Gladys langsung ambles mereka masuk ke dalam lorong yang menurun.
"Siaal! Kenapa ujiannya malah seperti ini!" Ryuga berteriak kencang dan Gladys di belakangnya.
"Sebenarnya tempat apa ini, tuan muda?" Gladys terus meluncur sambil bertanya dengan berteriak pada Ryuga.
"Sudah, ikuti saja!" jawab Ryuga berteriak dan muncul di ruangan cukup luas dengan seorang berkacamata, berkulit putih duduk menaruh kedua kakinya di atas meja.
Pria berkacamata itu menatap tajam Ryuga dan Gladys, dalam sekejap mata kunai sudah ia lemparkan.
Dalam sekejap mata juga Ryuga sudah memukul perut pria berkacamata tersebut hingga memuntahkan darah segar.
"Su-sungguh ce-ce-cepat," lirihnya kesakitan.
__ADS_1