Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Keputusasaan Klan Lei


__ADS_3

Mendengar informasi yang disampaikan oleh beberapa orang Penatua Klan tersebut, membuat tubuh Lei Dong gemetar ketakutan. Perjalanan Lei Tian benar-benar luput dari perhatian dan juga pencariannya, selama belasan tahun ia benar-benar tidak dapat menemukan jejak yang ditinggalkan oleh Lei Yun Xi di masa itu.


Bahkan identitas Bibi Jian tidak kalah misteriusnya, sehingga Lei Dong benar-benar mati obor dalam mencari jejak orang-orang terdekat Lei Yun Xi. Namun ia kini sudah tidak dapat mengelak, keberadaan Lei Tian yang mengerikan sudah tidak dapat ia hindari lagi. Dalam benaknya hanya keinginan melarikan diri sejauh mungkin, melawan pun percuma karena hanya akan menyerahkan nyawa.


"Patriark, gawat.." teriak seorang penjaga yang berjaga di pintu masuk.


"Ada apa?" tanya Patriark Lei Dong dengan terkejut.


"Orang-orang Sekte Pedang Emas mengepung kediaman Klan Lei" jawab penjaga tersebut.


"Apa?"


Lei Dong bertambah panik, sebelumnya masih ada Sekte Serigala Hitam yang menjadi andalan namun kini Sekte Pedang Emas bergerak sangat cepat tanpa bisa ia melakukan persiapan untuk melarikan diri. Sebagai orang yang bertanggungjawab atas hubungan kerjasama Klan Lei dengan Sekte Serigala Hitam, Lei Dong tentu mengetahui konsekuensi yang akan ia terima pada saat ini.


Baru saja Lei Dong berdiri hendak mengklarifikasi berita tersebut, namun seorang Penatua Sekte Pedang Emas sudah berada di dalam aula pertemuan Klan Lei dengan aura membunuh yang pekat.


"Kamu tidak perlu repot-repot untuk keluar ruangan, setiap orang tidak diperbolehkan meninggalkan ruangan ini. Jika ada yang melanggarnya maka aku tidak segan-segan akan membunuh kalian" ucap pria yang mengenakan jubah Sekte Pedang Emas tersebut.

__ADS_1


Mendengar ancaman dari Penatua tersebut seluruh orang-orang Klan Lei yang berada di ruang pertemuan gemetar ketakutan. Mereka benar-benar tidak menduga jika pergerakan orang-orang Sekte Pedang Emas telah sampai pada titik seperti ini.


Memikirkan nyawa sendiri dan juga anggota keluarganya, mereka hanya pasrah dihadapan pendekar yang sudah berada di tingkat dewa tersebut. Bagai domba yang siap disembelih kini mereka menunggu penghakiman atas dosa-dosa mereka di masa lalu, dukungan mereka terhadap Sekte Serigala Hitam bukanlah dosa yang bisa dimaafkan begitu saja.


"Apa yang Penatua inginkan?" tanya Lei Dong berpura-pura tidak mengerti.


"Aku tidak suka berbasa-basi, silahkan ikuti ucapanku atau kalian semua akan mati" jawab Penatua tersebut dengan tatapan mematikan.


Semua orang yang berasal dari Klan Lei tampak pasrah, berhadapan dengan seorang Penatua bukanlah perkara yang bisa mereka hadapi. Mereka semua hanya berada di Pendekar Bumi, mustahil bisa berhadapan dengan pendekar tingkat Dewa.


Sementara itu Lei Dong tidak bisa berkutik lagi, kursi Patriark yang selama belasan tahun ia duduki kini terancam sirna dan nyawanya pun tidak akan terampuni. Bayangan kematian mulai menyeruak di dalam dirinya, rasa putus asa berkepanjangan sudah mulai menghantui dirinya pada saat ini.


Lei Jun dan Gong Dun hanya terpaku melihat perubahan keadaan ini, bahkan Gong Dun yang sudah lama mengikuti Patriark Lei Yun Xi tidak bisa menahan keterkejutan atas prestasi yang diraih oleh Lei Tian. Belum tiga hari ia menginjakkan kakinya di Kota Chengdu, namun sudah menggemparkan seisi Kota.


Gong Dun dan istrinya yang merupakan pengasuh Lei Tian sejak kecil secara tidak sengaja meneteskan air mata. Bibi Jian adalah orang yang paling merasakan segala penderitaan serta penindasan yang diterima oleh Lei Tian selama belasan tahun. Apa yang didapatkan hari ini semua berkat perjuangan yang diiringi darah dan air mata, bahkan kedua orang tua Lei Tian sudah tidak berada di dunia fana ini.


Pada saat yang bersamaan Lei Tian yang kini sudah tiba di Sekte Serigala Hitam, segera memeriksa sisa-sisa murid Sekte yang berada di dalam Sekte. Mereka semua dibebaskan dengan syarat dilumpuhkan kultivasi mereka, hal ini serupa dengan nasib kawan-kawan mereka yang berada di Sekte Pedang Emas sebelumnya.

__ADS_1


Setelah memastikan tidak ada yang tersisa, tiga orang Penatua Sekte Pedang Emas dan juga kelompok dari Paviliun Ungu menyisir bangunan yang kini menjadi bekas Sekte Serigala Hitam. Raut wajah mereka tampak ceria menjalani aksi pembersihan ini, mereka tidak menyangka jika hari ini akan menjadi kemusnahan Sekte sesat tersebut.


"Tuan muda, apa yang harus kita lakukan dengan tempat ini?" tanya Mu Xianji dengan hormat.


"Sebaiknya dimusnahkan saja, ratakan dengan tanah. Adapun sumberdaya yang ada silahkan Paviliun Ungu dan juga Sekte Pedang Emas membaginya dengan adil" jawab Lei Tian dengan tegas.


"Baik Tuan muda.. Satu hal lagi, saya tidak menjumpai Fei Hung salah seorang Tetua yang pernah menyamar menjadi petinggi di Sekte Pedang Emas, ia juga orang yang bertanggungjawab secara langsung atas kejadian yang menimpa keluarga Tuan muda" ungkap Mu Xianji.


"Setelah urusanku selesai di wilayah perbatasan maka aku akan mencari orang itu" ucap Lei Tian sambil menahan amarah.


Sebelumnya Lei Tian pernah bertekad akan menghabisi orang-orang yang sudah menghancurkan keluarganya. Meninggalkan satu orang musuh hanya akan menimbulkan masalah yang tidak perlu di masa depan.


Setelah memisahkan sumberdaya Sekte, Mu Xianji dan kelompoknya membagi rata harta tersebut bersama Penatua Sekte Pedang Emas. Sambil aksi tersebut berlangsung, beberapa bangunan utama Sekte Serigala Hitam mulai dilahap oleh si jago merah yang mulai mengganas.


Orang-orang mulai berdatangan menyaksikan hal ini dengan antusias, mereka semua ingin melihat sejarah berakhirnya Sekte yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh masyarakat biasa. Kegiatan mereka yang menyimpang serta aksi mereka yang tidak tersentuh oleh penguasa Kota, kini sudah berakhir.


Selain melihat keadaan terbaru, mereka juga penasaran dengan sosok Lei Tian yang beberapa saat lalu mengalahkan orang-orang dari Sekte Serigala Hitam. Mereka berlomba-lomba ingin menjalin hubungan baik bahkan beberapa orang sudah siap menawarkan kontrak pernikahan dengan sosok pemuda yang sudah menggemparkan Kita Chengdu tersebut.

__ADS_1


Namun keinginan mereka yang ingin melihat Lei Tian secara langsung tidak dapat terwujud, hal itu dikarenakan Lei Tian sendiri yang menghindari orang-orang yang hanya memanfaatkan kepentingan sesaat. Sebagai orang yang mementingkan ketulusan, Lei Tian tidak tertarik sama sekali dengan bujuk rayu orang-orang yang datang dan pergi sesuka hati mereka.


__ADS_2