Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Pendaftaran Peserta Pertandingan


__ADS_3

"Baik senior, saya mohon undur diri" ucap Lei Tian sambil berjalan menuju arah luar.


Ketika keluar dari mulut Gua, matanya sedikit menyipit selama beberapa saat. Setelah satu bulan kini ia baru melihat sinar matahari pagi. Selama satu bulan juga ia berada di ruang yang pengab dan gelap gulita, melihat sinar matahari ia merasa seperti memiliki kehidupan lagi.


Saat ini Lei Tian sudah berada di tingkatan Pendekar Menengah, untuk ukuran seperti dirinya sudah termasuk sangat jenius. Baru satu bulan lebih ia di Sekte namun ia sudah mengambil manfaat seperti murid senior, bahkan teknik kultivasi rahasianya dapat berjalan dengan baik.


Tidak lama berselang ia tiba di sungai, dengan lincah dan gesit ia melompat dari batu ke batu dengan mengabaikan bau keringat dari badannya.


"Tingkat Kaisar.. Sungguh bakat menentang langit" gumam seorang lelaki tua yang melihat pergerakan Lei Tian dari kejauhan.


Namun senyum cerah tampak jelas terukir di wajah lelaki tua tersebut. Setelah melihat kemajuan Lei Tian ia segera menghilang dan menuju ke suatu tempat. Penatua Song akan mendaftarkan Lei Tian ke dalam ajang pertandingan antar murid luar yang akan digelar lusa.


Sebagai kultivator pendekar dewa, Penatua Song Gui dapat merasakan kekuatan sebenarnya dari Lei Tian. Meskipun saat ini Lei Tian menyembunyikan kekuatannya, di mata seorang pendekar dewa kemampuan tersebut tidak berarti karena jauhnya rentang kekuatan.


Namun berbeda jika Lei Tian sudah berada di tingkat lebih tinggi, ia tentu tidak akan terdeteksi oleh beberapa tingkat kultivator di atasnya.


"Huh.. Segar sekali" ucap Lei Tian yang saat ini sudah berendam di dalam air.


Sambil membenamkan tubuhnya, ia juga melakukan beberapa gerakan dasar beladiri di dalam air. Selama satu bulan ia hanya duduk sila sambil berkultivasi, sehingga ia membutuhkan peregangan untuk mengendorkan otot-ototnya.


Hampir satu jam lebih Lei Tian membersihkan dirinya, ia berulang kali menggosok anggota tubuhnya hingga benar-benar bersih dan wangi. Dari dalam cincin penyimpanannya ia mengeluarkan beberapa barang pribadinya untuk menunjang penampilannya.


"Ayah, Ibu.. Kini usiaku sudah bertambah. Andai saja aku bisa menunjukkan pencapaian ku kepada kalian, maka aku akan bahagia sekali" ucap Lei Tian pelan.


Berbarengan dengan berlalunya waktu, Lei Tian masih mengingat jika hari ini ia genap berusia enam belas tahun. Di masa remaja seperti ini ia sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya, membuat dirinya merasa sedih dan seolah dunia bersikap tidak adil padanya.


Sambil terus membersihkan diri ia juga mengingat beberapa gerakan dari dua teknik bela diri yang sebelumnya ia kuasai. Selama satu bulan ini ia terlarut dalam peningkatan kekuatan, meski bukan hal yang buruk namun ia juga memikirkan teknik yang lebih baik untuk terus berkembang.


"Sepertinya aku harus banyak berlatih secara langsung agar teknik yang aku pelajari benar-benar berguna" gumamnya dalam hati.


Setelah menggunakan pakaian barunya, Lei Tian bergegas menuju kediamannya. Dengan kekuatan barunya ia kini bisa dikatakan sebagai murid luar yang terkuat, bahkan sudah bisa mendaftarkan diri untuk menjadi murid dalam.


Setelah memperhatikan sekitarnya, Lei Tian lalu mengeluarkan belati dari dalam cincin penyimpanannya.

__ADS_1


"Mulai sekarang kau tidak lagi selalu berada dalam cincin penyimpanan ku, mulai saat ini juga kau akan selalu menemaniku dalam bertarung" ucap Lei Tian berbicara pada belatinya.


Setelah berbicara demikian Lei Tian mengaitkan belati di pinggangnya, detik berikutnya ia melompat ke udara dengan sangat cepat.


"Slash"


"Dhhuuaarr"


Sebongkah batu terbelah menjadi beberapa bagian.


"Hmmph.. Lumayan" gumam Lei Tian pelan saat mempraktekkan jurus sabetan tunggal yang pernah diajarkan oleh Penatua Fan Guo sebelumnya.


Lei Tian tampak berpikir sejenak tentang teknik gabungan antara tubuh ilusi yang mengandalkan kekuatan serta tinju api yang mengutamakan kekuatan.


"Teknik Petir Membelah Langit" gumam Lei Tian pelan.


"Sebaiknya aku gunakan jurus tersebut sebagai jurus tangan kosong, karena kekuatan yang aku miliki sepertinya adalah karakteristik petir" pikir Lei Tian.


Andai saja para praktisi bela diri melihat apa yang dilakukan oleh Lei Tian saat ini maka mereka akan muntah darah karena tidak akan percaya dengan ide gila yang akan dilakukan oleh Lei Tian.


Sebuah energi karekteristik petir kini sedang bergolak di dalam tubuhnya, menyebar dengan cepat ke seluruh anggota tubuhnya. Di sekitarnya udara berfluktuasi menimbulkan suara desiran yang sangat menakutkan.


"Woosh"


"Woosh"


"Pukulan Petir Membelah Langit" ucap Lei Tian penuh semangat.


Tubuh Lei Tian segera bergerak dengan sangat cepat dengan kaki kanannya sebagai tumpuan, energi Qi yang mengandung karakteristik petir berpusat di kepalan tangan kirinya.


"Dhhuuaarr"


Sebuah tebing yang berada di depannya menjadi hancur dan menyebabkan reruntuhan.

__ADS_1


"Luar biasa" ucap Lei Tian puas.


"Sepertinya aku akan menggunakan teknik ini untuk jurus tangan kosong" ujar Lei Tian pelan.


Setelah mengatakan hal tersebut ia melompat dengan sangat cepat ke arah kediaman murid luar dimana ia tinggal.


Namun tanpa sepengetahuan dirinya dua orang Diaken yang berasal dari Aula Kedisiplinan mendengar suara ledakan dan longsoran sebuah tebing yang ditinggalkan oleh Lei Tian.


"Siapa yang berlatih di sini?" ucap salah satu Diaken yang sebelumnya membukakan kunci bilik perenungan di dalam Gua.


"Sepertinya ada murid dalam yang sedang berlatih, tetapi aku belum pernah menyaksikan salah seorang murid dalam memiliki kekuatan mengerikan seperti ini" timpal Diaken lainnya.


"Mungkin ia ingin merahasiakan kekuatannya hingga memilih berlatih di tempat seperti ini" ujar salah satunya.


"Kau benar, sebaiknya aku tidak akan pernah menyinggung orang seperti ini" ucap Diaken tersebut sambil melihat efek longsoran tebing dengan ekspresi ngeri.


Kedua Diaken tersebut juga memperhatikan beberapa serpihan batu yang hancur akibat sebuah teknik pukulan tangan kosong. Meskipun mereka berdua adalah bagian murid dalam juga namun melihat jejak kehancuran yang ditinggalkan tetap saja membuat mereka bergidik ngeri.


"Aneh kenapa sepi sekali" gumam Lei Tian saat ia sudah berada di Paviliun murid luar.


"Hei bukankah kau Lei Tian?" tanya seorang murid luar lainnya saat melihat Lei Tian.


"Benar, kenapa sepi sekali" ucap Lei Tian sambil bertanya.


"Para murid sedang ke Aula perbendaharaan untuk mengambil jatah Batu Roh" ucap murid tersebut dengan tergesa-gesa.


Murid tersebut melangkah mendahului Lei Tian menuju Aula perbendaharaan, sambil berjalan ia juga menyebarkan informasi jika Lei Tian sudah kembali dan dalam keadaan yang baik-baik saja.


Dengan demikian, ketenaran Lei Tian menyebar jauh dan luas di dalam Paviliun murid luar. Setiap murid yang melihat Lei Tian menganggukkan kepalanya, bahkan tidak sedikit yang hampir membungkukkan setengah badannya.


Lei Tian yang juga mengarah ke Aula Perbendaharaan sedikit tidak mengerti dengan perubahan ini. Namun tanpa Lei Tian ketahui di Aula misi sudah dibuka pendaftaran kompetisi siswa murid luar yang akan berlaga.


Nama Lei Tian berada di urutan pertama sebagai pendaftar, hal ini tentu tidak lepas dari pengaturan Penatua Song Gui yang sebelumnya sudah mendaftarkan nama Lei Tian.

__ADS_1


__ADS_2