Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Lei Tian Turun Gunung


__ADS_3

Sementara itu Penatua Song Gui dan Patriark Sekte masih asyik berbincang, sambil menyesap teh keduanya kembali membicarakan sosok Lei Tian.


"Tampaknya kau sangat menyukai anak itu?" ucap Penatua Song Gui kepada Patriark Sekte.


"Aku bukanlah orang bodoh yang membiarkan ia terlepas begitu saja, di kemudian hari aku bisa beristirahat dengan tenang saat dirinya mengambil alih Sekte ini" ucap Fang Yuan.


"Ku rasa Sekte Belati Merah akan berkembang sangat pesat di tangan anak itu, aku tidak mengerti entah sampai dimana potensi anak tersebut di kemudian hari" balas Penatua Song Gui.


"Aku pun berpikir demikian, kekuatan anak itu terlalu menakutkan. Aku malah berpikir jika akademi kekaisaran pun akan kewalahan menghadapi bakat jenius anak itu"


"Setelah ia pergi, jangan lupa ukir namanya di prasasti Sekte. Ia adalah penerus Patriark Sekte berikutnya, biarkan ia mengetahuinya sendiri saat ia kembali ke Sekte suatu hari nanti" ucap Patriark Fang Yuan kepada Penatua Song Gui.


"Baiklah, aku akan mengurusnya" jawab Penatua Song Gui dengan santai.


Sebagai seorang guru tentu ia sangat senang jika muridnya akan menjadi orang nomor satu di Sekte. Meskipun Lei Tian tidak mengetahuinya, lambat laun ia akan tahu juga dan pada akhirnya akan kembali ke Sekte.


Lei Tian yang merasa semua urusannya sudah selesai di Sekte Belati Merah memutuskan tidak kembali ke kediamannya, setelah dipastikan namanya lolos dari kualifikasi Akademi Kekaisaran, Lei Tian bisa bernapas dengan lega. Token Akademi Kekaisaran ia genggam dengan erat sambil berjalan menuju bagian luar Paviliun murid dalam.


"Mohon izin senior" ucap Lei Tian saat melewati gerbang Paviliun murid dalam.


"Owh.. Kamu murid luar biasa itu. Tolong jangan panggil saya senior" ucap murid jaga yang mengenal Lei Tian.


"Baiklah, aku permisi mau melintas" ucap Lei Tian dengan sopan.

__ADS_1


"Silahkan, berhati-hatilah" ucap murid jaga tersebut dengan sopan.


Ketenaran Lei Tian setelah menghancurkan Kang Tao Gwe berkembang dengan sangat cepat, sehingga dengan mudah ia dikenali. Seragam murid Aula pengembangan bakat memiliki ciri khusus, jadi sebagai murid jaga ia tidak mengalami kesulitan.


Dengan kekuatannya, Lei Tian segera menuju kota Jianxi dengan kecepatan angin. Tubuhnya terus dipacu dalam semangat yang tak kunjung padam. Di dalam hatinya ia sudah tidak sabar untuk ke Kota Jianxi untuk menjemput Gong Dun yang merupakan saksi kunci sejarah hidupnya.


Dengan kekuatannya yang baru, Lei Tian melompat dan melayang dengan sangat cepat. Bagaikan peluru, tubuhnya melesat diantara kegelapan malam. Hanya dalam satu tarikan napas ia sudah berada di gerbang terluar Sekte yang dijaga oleh beberapa orang murid jaga. Sebagai murid luar, mereka semua mengenali sosok Lei Tian yang melintas.


"Saudara Lei Tian, aku tidak menyangka bisa berjumpa dengan dirimu lagi. Tampaknya malam ini adalah malam keberuntungan ku" ucap salah seorang murid jaga.


Ada sekitar lima orang murid jaga dengan kekuatan Pendekar Praja, mereka berjaga sekaligus di gerbang utama pintu masuk Sekte.


"Bagaimana kabar kalian? Apakah kelompok Tao Ming masih mengganggu kalian?" tanya Lei Tian yang mengingat jelas tindakan murid berperingkat.


"Baiklah, sampaikan salam ku kepada yang lain" ucap Lei Tian sambil mengeluarkan sekantong Batu Roh.


"Terimalah untuk penambah kekuatan kalian" ucap Lei Tian melanjutkan perkataan yang sebelumnya.


"Terimakasih banyak atas pemberian mu" ucap salah seorang murid yang bertugas jaga dengan penuh semangat.


Setelah memberikan benda tersebut, Lei Tian kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju Kota Jianxi. Meskipun hari sudah malam, ia yakin bisa sampai sebelum dini hari. Ia sudah tidak tahan bertemu dengan Gong Dun untuk menuju kota Chengdu.


Lei Tian akhirnya tiba di pusat Kota Jianxi, ia memesan kamar di penginapan yang sama saat ia pertama kali tiba di Kota ini.

__ADS_1


"Apa kabarnya bibi Jian dan paman Gong Dun ya?" ucap Lei Tian di dalam hatinya.


Setelah membayar dan mendapatkan kunci, ia segera menuju lantai dua dengan ditemani oleh seorang pelayan. Lei Tian segera memasuki kamarnya dan berniat untuk segera membaringkan tubuhnya. Ia merasakan kehidupan lagi setelah berada di Sekte selama beberapa tahun.


Dengan identitas seragam Sekte yang dipakai oleh Lei Tian membuat dirinya tidak kesulitan untuk memasuki Kota Jianxi, sebagai wilayah yang menjadi tanggungjawab Sekte dalam mengawasi keamanan keberadaan Lei Tian disambut dengan hormat.


Di dalam kamarnya, Lei Tian terbawa suasana dengan langsung berbaring di atas ranjang. Ia menarik selimut dan beristirahat layaknya orang biasa, ia melakukannya dengan tenang. Meskipun demikian kewaspadaannya tidak ia kendurkan, di dalam lautan kesadarannya Naga Petir masih terjaga sambil mengekstraksi esensi Qi. Lei Tian selalu menerapkan pernapasan Naga Petir setiap saat, apalagi ia pernah berkultivasi dua tahun lamanya tanpa henti sehingga kebiasaannya sudah berjalan secara otomatis.


Lei Tian beristirahat dengan tenang, hingga pagi menjelang ia merasakan kesejukan dan ketenangan layaknya tuan muda yang baru terbangun dari tidurnya. Ia bangun pagi-pagi sekali, karena sebelum pulang ke Ibukota Sichuan ia ingin mempelajari kitab beladiri peninggalan ayahnya.


"Sepertinya cukup menyenangkan bisa beristirahat seperti dulu" gumamnya pelan.


Lei Tian segera membersihkan diri di dalam kamar mandi yang sudah disiapkan pihak penginapan, dengan harga satu tael emas ia sudah mendapatkan layanan terbaik. Di dalam cincin penyimpanan barunya, selain harta pribadi dari Klan Lei Ia juga kini memiliki emas dan perak yang ia dapatkan dari pemilik cincin sebelumnya.


Bagi seorang kultivator hal yang paling berharga adalah batu roh, sedangkan emas dan perak hanyalah pelengkap saja. Tidak heran jika Penatua Mu Chen memiliki harta yang sangat banyak, dilihat dari jenis cincin penyimpanannya maka bisa dipastikan jika ia memiliki latar belakang yang tidak sederhana.


Lei Tian kemudian mengeluarkan kitab beladiri peninggalan ayahnya, selama di Sekte Belati Merah ia tidak sempat mempelajarinya karena adanya perbedaan teknik pedang dengan teknik belati. Jika teknik belati lebih kepada serangan jarak dekat, teknik berpedang bisa digunakan untuk jarak jauh.


"Sepertinya aku harus mencari pedang yang cocok untuk teknik tebasan kematian" gumam Lei Tian setelah membaca kitab warisan Klan Lei.


Selama satu jam Lei Tian serius membaca dan menghafal gerakan yang terdapat dalam kitab beladiri tersebut, Lei Tian sedikit merasa senang karena teknik yang digunakan ada kemiripan dengan teknik serangan cepat pada tebasan belati. Hanya alatnya saja yang berbeda, sedangkan pemahamannya hampir sama.


Setelah selesai mempelajari kitab tersebut Lei Tian kembali memasukkannya ke dalam cincin penyimpanannya, sejenak ia memeriksa kembali kontrak pernikahannya dengan keluarga Liu. Lei Tian hanya menggelengkan kepala tanda tak berdaya, meskipun demikian ia tidak ingin mengecewakan wasiat dari ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2