
Selama di dalam Gua, Lei Tian terus beristirahat dengan tenang. Setiap hari kemajuan tubuhnya semakin baik, ia berkembang sangat pesat di bawah bantuan ramuan herbal yang mampu mengobati luka dalam yang telah merusak jaringan meridiannya.
Tujuh hari pun berlalu dengan cepat, kondisi tubuh Lei Tian semakin membaik dan ia sudah mulai merasakan aliran Qi di dalam tubuhnya. Ramuan yang diberikan oleh lelaki sepuh tersebut sangat ampuh, jaringan meridian yang sebelumnya tersumbat kini terbuka kembali. Dalam waktu berikutnya, semburan Qi yang sebelumnya tertahan kini menyembur dengan ganas menuju pusat energi Lei Tian. Pusaran energi yang sangat besar membangkitkan Naga Petir yang berada di lautan kesadarannya, sebelumnya energi Naga Petir sangat redup setelah kehabisan energi. Kini matanya kembali terbuka dan aura kekuatannya kembali bangkit menembakkan energi internal ke seluruh tubuh Lei Tian.
Setelah merasakan energinya cukup stabil, ia kembali membuka matanya dan dapat merasakan kehadiran orang lain selain dirinya.
"Nah, sekarang kau sudah boleh mencoba menggunakan Qi, ramuan ini seharusnya sudah bisa menyembuhkan sekaligus menjadi antibodi di masa depan. Jika kau terkena pukulan itu lagi, maka sudah tidak akan berpengaruh terhadap efek sampingnya" ucap lelaki sepuh tersebut.
Lei Tian yang sudah sembuh secara fisik tersebut, kini bisa tersenyum cerah. Ia tidak terburu-buru ingin menggunakan tenaga dalamnya terlebih dahulu, rasa lengket dan bau badan yang tidak sedap lebih ia pentingkan pada saat ini.
"Leluhur, nama saya adalah Lei Tian. Terimakasih atas pertolongan dan perawatan dari leluhur" ucap Lei Tian sambil bangkit dari tempat pembaringannya.
"Kau tidak usah sungkan, namaku adalah Akong dan aku juga tidak memiliki nama depan" ucap lelaki sepuh tersebut.
"Baik leluhur Akong" ucap Lei Tian dengan sopan.
"Hmm.. Sepertinya tidak enak didengar, kau panggil saja aku dengan sebutan kakek saja" ucap lelaki sepuh tersebut.
"Baik Kakek" ucap Lei Tian.
__ADS_1
"Nah, seperti itu lebih baik.. Tampaknya kau ingin membersihkan diri, keluar dari tempat ini ada sebuah sungai yang cukup jernih airnya, kau bisa mandi dan berendam sepuasnya" ucap Akong yang memahami kondisi Lei Tian.
"Iya betul..." jawab Lei Tian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah mengatakan hal tersebut, Lei Tian segera keluar dari Gua untuk mencari sungai yang dimaksud. Rasa lengket serta bau yang tidak sedap membuatnya tidak nyaman, selama beberapa hari ia terus mengoptimalkan dirinya untuk memulihkan diri. Sedikit pun ia tidak membuang kesempatan untuk menyembuhkan dirinya, kini hasil yang ia rasakan tidak sia-sia.
Lei Tian tidak mengalami kesulitan untuk menemukan sungai yang dimaksud, rasa dahaga yang begitu besar hinggap di dalam dirinya saat melihat kejernihan air yang begitu mempesona.
"Byuurr"
Ia melompat dengan penuh sukacita, pemandangan alam yang begitu indah menemani dirinya yang kini sedang membersihkan diri. Pakaian kotornya segera ia pisahkan dan ia kembali membersihkan tubuhnya dengan air yang begitu murni dan sejuk.
Pada saat ini Lei Tian tidak memikirkan tentang apa yang terjadi di Klan Lei maupun lainnya, setelah peristiwa pembunuhan atas dirinya ia hanya memikirkan Jenderal Shio Mei seorang. Rasa dendamnya begitu terukir kuat, tekadnya untuk membunuh wanita keji itu kini terukir hingga ke dalam tulangnya.
Selama beberapa jam Lei Tian berendam untuk membersihkan diri, rambutnya yang semula terlihat kusut kini mulai ia tata kembali. Wajah tampannya pun kembali terlihat dengan bentuk rahang yang simetris. Setelah selesai membersihkan diri, ia kembali menuju Gua dengan pakaian yang sudah bersih dan rapi.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya kakek Akong.
"Seperti mendapatkan kehidupan yang baru" jawab Lei Tian apa adanya.
__ADS_1
"Sepertinya kau baru saja mengalami permasalahan yang cukup pelik" ujar kakek Akong dengan santai.
"Ceritakan saja apa yang kau rasakan, dengan melepaskannya maka pikiran mu akan lebih terbuka dan lebih santai. Rahasia hidup tidak selamanya bisa kau tanggung sendiri, meskipun tubuh kamu kuat adakalanya pikiran tidak bisa menanggungnya, jika itu terjadi maka akan menjadi bahaya laten bagi seorang kultivator. Apalagi untuk memasuki ranah Keabadian, seorang kultivator tidak akan sanggup tanpa menyingkirkan gangguan pikiran yang berujung pada munculnya iblis hati. Jika hal itu sudah mendarah daging, maka kau tidak akan bisa meraih tingkat keabadian" ungkap kakek Akong yang berubah menjadi serius.
Setelah mendengarkan penjelasan dari pria sepuh tersebut, Lei Tian tampak berpikir sejenak lalu kemudian menceritakan tentang dirinya.
Tanpa sungkan akhirnya ia mulai menceritakan pengalaman hidupnya, dimulai saat ia ditinggal mati oleh ibunya dan juga sejarah tentang asal usul dirinya yang membuatnya bertekad untuk menjadi kuat demi membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
Bahkan Lei Tian tidak segan bercerita tentang proses dirinya menjadi kuat ketika ia berada di Sekte Belati Merah, bertemu dengan gurunya serta kepergiannya menjadi utusan Sekte sebagai bagian dari Akademi Kekaisaran. Lei Tian juga menceritakan hal terakhir dirinya dikhianati, tanpa ia ketahui sebabnya oleh Jenderal Shio Mei yang merupakan petinggi Akademi Kekaisaran.
Kakek Akong yang mendengar cerita dari Lei Tian tersebut semakin tertarik dengan perjalanan hidupnya, apalagi ketika Lei Tian menyebutkan jika ia adalah bagian dari Sekte Belati Merah dan juga Akademi Kekaisaran.
"Menarik.. Benar-benar menarik, setelah ratusan tahun aku meninggalkan kehidupan duniawi, kini aku bisa mendengar kembali sejarah masa lalu yang pernah aku ukir" cetus pria sepuh yang bernama Akong itu.
Lei Tian hanya terdiam mendengar perkataan dari kakek Akong, namun ia juga merasa penasaran dengan jati diri pria sepuh yang sudah menolongnya itu. Sampai saat ini Lei Tian tidak bisa merasakan fluktuasi Qi yang terdapat di dalam tubuh lelaki sepuh tersebut, hal ini mengingatkan Lei Tian saat pertama kali bertemu dengan Penatua Song Gui yang kemudian menjadi gurunya.
Seolah mengerti dengan rasa keingintahuan Lei Tian, lelaki sepuh itu tersenyum ringan lalu ia mulai bercerita.
"Anak muda, perlu kau ketahui aku adalah pendiri Sekte Belati Merah. Adapun Akademi Kekaisaran yang kau sebutkan tadi adalah bentukan dari rekan-rekan ku di masa lalu, mereka berempat mendirikan tempat itu untuk menciptakan bakat menentang langit, namun hingga hari ini aku belum merasakan hal seperti itu terjadi. Lahirnya kekuatan baru yang dapat mengguncang alam tersebut sangat mudah dideteksi, karena di alam ini tidak banyak kultivator yang bisa meraih kekuatan tersebut. Bisa dikatakan tidak lebih dari sepuluh orang yang berhasil meraih ranah tersebut, sehingga dengan bertambahnya satu kekuatan saja bisa mempengaruhi kekuatan alam ini" ucap Akong dengan ekspresi serius.
__ADS_1