
"Sudah kuduga, pasti ada Benua Lain selain Benua Timur. Tapi aku masih terkejut bahwa ayah bukan dari Benua Timur, apakah ayah yang mempunyai dan menyebarkan Kitab Dewa Abadi??". Wu Chen yang sudah memasuki rumahnya bergumam sendiri, dia sudah menduga jika ada Benua Lain, tapi dia juga masih terkejut ayah nya sendiri bukan dari Benua Timur.
Saat ini, ayah dan ibu Wu Chen masih ada di halaman belakang rumahnya, Wu Chen sendiri sedang membersihkan diri di kamarnya.
"Aku senang jika di kehidupan sebelumnya ayah dan ibu memang masih hidup, tapi yang membuatku kesal adalah mereka tak mengabariku, ah aku lupa.... Kan aku memang yang tak ingin mencari informasi dari Desa Petani setelah insiden itu". Gumam Wu Chen yang memikirkan tentang kehidupan sebelumnya, dia menepuk keningnya sendiri karena merasa bodoh dirinya lupa sebelumnya tak mencari informasi tentang Desa Petani setelah insiden penyerangan tersebut.
"Sekarang yang membuatku yakin bahwa ayah yang punya dan menyebarkan ke 3 Kitab Dewa Abadi adalah dia punya suatu teknik yang bisa menyembunyikan atau memanipulasi tingkat pendekar, kualitas tulang dan tenaga dalam". Wu Chen berpikir lebih keras.
"Mungkin aku akan mengikuti apa yang akan ayah ajarkan dulu, sebelum aku menyimpulkan lebih dalam. Lagian aku juga akan mempelajari Kitab Dewa Iblis yang ku ingat di kehidupan sebelumnya, untuk jaga jaga aku hanya akan mengingatnya saja dan tak akan ku tulis di buku. Jika ku tulis di buku, aku takut Kitab itu akan bocor dan tersebar luas, selama 2 hari ini aku masih ingat kejadian di kehidupan masa laluku. Mungkin aku menjadi pintar dan ingatanku jadi lebih baik dari kehidupanku yang lalu, sekarang aku tak perlu mencatat apapun di kehidupan sebelumnya aku hanya akan mengingat nya saja, itu akan muncul dalam ingatanku". Wu Chen telah bertekad tidak akan mencatat sesuatu di kehidupan sebelumnya, dia akan mengingatnya saja lalu ingatan itu akan muncul sendiri, dia sekarang jadi orang yang cerdas.
Saat Wu Chen masih bergumam dan berpikir soal kedepannya, dari arah luar dia di panggil oleh Ibunya.
"Chen'er, sampai kapan kau akan membersihkan badanmu terus? Cepatlah, kita akan makan bersama!". Teriak ibunya dari luar kamarnya.
"Baik Bu, aku akan keluar sebentar lagi". Jawab Wu Chen yang sedang memakai pakaiannya.
Setelah itu dia keluar kamarnya dan pergi ke meja makan untuk menyantap makanan di siang hari, mereka selalu makan bersama setiap harinya.
Mereka bertiga menyantap makanan dengan lahap, Wu Chen juga selalu memakan makanannya sampai habis dari kemarin, dia sebelumnya tak pernah memakan makanannya sampai habis.
"Chen'er, makan yang pelan, masih banyak makanannya". Wu Hui yang melihat anaknya yang selalu makan dengan cepat dan lahap hanya merasa bahagia karena anaknya telah berubah tak seperti anak manja yang dulu.
"Iya Bu, masakan ibu sangat enak". Jawab Wu Chen.
Setelah mendengar itu, ibunya hanya tersenyum karena melihat anaknya yang seperti itu, karena masih usia 8 tahun Wu Chen harus bertingkah seperti layaknya anak kecil yang berusia 8 tahun.
Selesai makan Wu Chen juga membantu ibunya untuk membereskan meja makan, setelah itu Wu Chen kembali ke halaman belakang rumahnya untuk melanjutkan rutinitasnya yaitu berlatih lagi.
~
__ADS_1
Di halaman belakang rumah, sudah ada Wu Shang yang sedang menunggu Wu Chen sambil duduk terdiam.
Tak lama pintu belakang rumahnya terbuka dan Wu Chen pun keluar, "Ayah, mari kita lanjutkan latihan kita yang tertunda". Wu Chen langsung menyebutkan kata latihan.
"Baiklah, ayah juga akan mengajarimu Teknik Pedang Penghancur Jiwa yang belum kau kuasai, masih tersisa 5 hari lagi untuk menguasainya walau hanya sedikit". Kata ayahnya yang memilih untuk melanjutkan berlatih Tekni Pedang Penghancur Jiwa pada anaknya.
Wu Chen hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia mengambil pedang kayu yang di buat sendiri oleh ayahnya, Wu Shang juga mengambil pedang kayunya yang dia buat.
Wu Shang mengajarkan anaknya tentang Teknik Pedang yang pernah dipelajari oleh Wu Chen di kehidupan yang lalu, Wu Chen tentu saja sangat ingat karena ketika dia mengingat kembali maka ingatan itu akan muncul sendiri, sekarang dia jadi anak yang tak akan lupa akan segalanya di masa lalu.
"Nak, ayah sebelumnya sudah menyarankan mu untuk tak memakai tenaga dalam karena memang kau belum punya tenaga dalam, namun dengan kualitas tulang mu yang sudah mencapai Tulang Naga Muda sebenarnya kau tak usah latihan pedang saja sudah unggul karena memiliki tulang tertinggi di tiga tulang lainnya". Ayahnya menjelaskan tentang kualitas tulang lagi.
"Ayah, aku sudah tau akan hal itu. Tapi tetap saja aku harus mempelajari beberapa Teknik atau Jurus lainnya untuk keadaan yang mendesak, jika aku tak memiliki Teknik atau Jurus yang di kuasai maka aku bisa di bilang bukanlah pendekar". Wu Chen berkata dengan menganalisa jika dirinya tak punya Teknik atau Jurus.
"Perkataan mu sangat benar nak, kau sekarang jadi tambah cerdas yah". Ayah nya cuma memuji anaknya dengan senyum ramahnya.
"Aku kan anak ayah sang Pendekar Topeng Surgawi yang melegenda, jadi aku sangat cerdas seperti ayah". Jawab Wu Chen yang bergurau.
~
Di Kota Fangzi, Tak jauh dari Desa Petani.
Terlihat sebuah restoran yang besar dan mewah, restoran tersebut mempunyai 3 lantai berisikan orang yang berbeda.
Lantai pertama hanya untuk orang biasa, lantai kedua untuk pendekar dan lantai ketiga untuk orang penting atau pendekar yang terkenal.
Saat ini di lantai 3 hanya ada beberapa orang yang ada di sana, terlihat memang ada 3 meja yang telah di tempati dari 10 meja yang ada.
Mereka duduk secara terpisah, di salah satu meja yang yang ada di sana terlihat seorang pria sepuh berjenggot yang berusia sekitar 80 tahun, di hadapannya duduk seorang pria paruh baya yang usianya sekitar 40 tahun, mereka sedang membicarakan sesuatu soal Desa Petani.
__ADS_1
"Apa kau yakin, dia ada di sana??". Tanya pria sepuh itu.
"Aku yakin Senior, dia ada di sana. Dia menyembunyikan jati dirinya, seperti julukannya Pendekar Topeng Surgawi". Jawab pria paruh baya yang membahas soal Pendekar Topeng Surgawi.
"Tapi bagaimana kau bisa tau soal dia? Dia kan tak pernah menunjukan identitas nya pada orang lain, apa kau pernah melihat wajahnya?". Tanya pria sepuh itu dengan bingung.
"Anak buah ku selalu mengawasi Desa tersebut, salah satu dari mereka pernah melihat pria bertopeng dengan ciri yang Senior katakan". Jawab pria paruh baya tersebut.
"Begitu ya, kalau begitu awasi Desa itu terus. Jangan sampai kau kehilangannya, kau mengerti??". Kata pria sepuh itu dengan memerintah pria paruh baya di hadapannya.
"Aku mengerti Senior, tapi apa yang akan Senior lakukan nanti??". Tanya pria paruh baya.
"Aku ingin kau menyerangnya, tapi tunggu instruksi dariku!". Jawab pria sepuh.
"Baiklah Senior, mari nikmati hidangannya dulu". Kata pria paruh baya dengan sopan, di jawab dengan pria sepuh itu yang hanya mengangguk dan tersenyum.
'Pendekar Topeng sialan! Kali ini aku akan menghancurkan mu!!'. Batin pria sepuh itu dengan wajah geramnya.
~
**Sampai sini dulu yah, ini adalah novel Author yang pertama. Seperti di sinopsis, novel ini terinspirasi dari karya kak Ron yang berjudul JTI dan LPN.
Selamat membaca yah, semoga seru dan menarik ceritanya. Jangan lupa Like setelah baca, Komen kirim kritik dan sarannya, Vote Koin atau Poin jika bisa, lalu klik bintang 5 untuk mendukung novel ini.
Author akan suka dan lebih bersemangat jika kalian melakukan itu, terima kasih telah berkunjung di novel pertama Author.
~
Follow IG Author yah:
__ADS_1
@bayuoryuukun**