
Pada keesokan paginya, di tengah perbincangan hangat Tetua Zu Sanfeng dengan cucunya dan juga Lei Tian, tampak kekesalan menghiasi wajah Zu Feng di kediamannya. Berdasarkan laporan yang ia terima, bahwasanya Putri Qin Qian datang bersama seorang pemuda yang terlihat sangat akrab, bahkan keduanya terlihat bergandengan tangan sepanjang jalan menuju Paviliun Tetua Zu Sanfeng.
Kabar lainnya juga mengatakan jika mereka kini menginap bersama di kediaman Putri Qin Qian, hal itu tentu saja semakin membakar api kecemburuan di hati Zu Feng.
Dengan perasaan penuh emosi, Zu Feng segera bergegas menuju kediaman Putri Qin Qian. Ia datang bersama puluhan murid inti hanya untuk mengintimidasi seorang pemuda yang dikabarkan hanya berada di ranah Pendekar Pemula tersebut.
Keadaan ini juga menarik perhatian beberapa orang Tetua yang sedang berada di Aula pertemuan. Tanpa rasa malu, empat orang Tetua juga ikut menyertai kedatangan Zu Feng dan kawan-kawannya. Hanya dua orang Tetua yang berada di kubu Zu Sanfeng tidak ikut serta, mereka hanya memantau agar tidak terjadi keributan diantara para Tetua.
"Hai kau pemuda yang bersama Qin Qian, keluar lah" teriak Zu Feng penuh emosi, suaranya yang keras terdengar hingga ke telinga Tetua Zu Sanfeng.
Di dalam kediamannya, Qin Qian mengerutkan dahi dalam-dalam. Ia tidak menduga jika kedatangannya kali ini akan disambut dengan tidak sopan.
"Kakek, bagaimana ini?" tanya Qin Qian kepada kakeknya, ia tidak mau gegabah bertindak.
"Kalian tunggu saja di sini, biar kakek yang menyelesaikan gangguan kecil ini" Zu Sanfeng segera bangkit, ia keluar dengan perasaan kesal.
"Kau kenal dengan orang itu?" pada saat ini suara Lei Tian terdengar di telinga Qin Qian.
"Dia adalah putra Patriark Zu, namanya Zu Feng dan sudah beberapa kali menyampaikan keinginannya untuk melamar diriku" jawab Qin Qian dengan jujur.
"Owh pantas saja seperti itu" ucap Lei Tian dengan santai.
"Apakah kau tidak cemburu?" tanya Qin Qian.
__ADS_1
"Tidak, selama kau tidak menggubrisnya maka aku tidak akan cemburu. Namun beda halnya jika ia sudah keterlaluan maka tidak segan-segan aku akan memenggal kepalanya" jawab Lei Tian dengan tegas.
"Nah, itu baru calon suamiku" ujar Qin Qian sambil mencubit hidung Lei Tian dengan penuh kasih sayang.
Xue Meilin hanya tersenyum ringan, keduanya memang tampak sangat cocok dilihat dari segi apapun juga. Bahkan bisa dikatakan jika Lei Tian lebih unggul, dengan status sebagai Ketua Sekte dan juga Patriark muda Klan Lei dirinya sudah bisa melenggang melewati batasan di wilayah Kekaisaran.
Hanya saja sebenarnya Xue Meilin sedikit penasaran dengan kekuatan yang dimiliki oleh Lei Tian, dengan adanya kekacauan ini ia sedikit berharap jika Lei Tian bisa memberikan pelajaran kepada putra Patriark yang terkenal arogan tersebut.
Sementara itu, Tetua Zu Sanfeng menjadi terkejut dengan kedatangan Zu Feng yang membawa puluhan murid inti, ditambah ia juga merasakan ada empat orang Tetua yang sedang mengarahkan perhatiannya kepada dirinya.
"Gawat.. Kenapa bisa sebesar ini?" gumam Tetua Zu Sanfeng sedikit khawatir, ia tidak bisa membayangkan jika orang-orang Sektenya akan salah menyinggung orang.
"Tetua, segera bawa keluar pemuda tersebut, aku tidak akan membuatnya terluka jadi kau tidak perlu cemas" ucap Zu Feng sesaat melihat Tetua Zu Sanfeng keluar menemui dirinya.
"Kau berpikir terlalu jauh, apa yang dilakukan oleh pemuda tersebut dengan merebut Qin Qian dari tanganku adalah sebuah tindakan konyol" ucap Zu Feng dengan congkak.
Zu Feng tahu dengan jelas bagaimana karakter dari Tetua Zu Sanfeng yang bijaksana, ia tidak mudah terpengaruh dengan berbagai situasi yang bersifat provokasi. Namun beda halnya dengan Qin Qian yang tidak terima atas sikap kekurangajaran Zu Feng terhadap kakeknya.
"Gege, kamu tunggulah sebentar biar aku yang mengurus orang tidak tahu malu itu" ucap Qin Qian dengan nada gusar.
"Berhati-hatilah, aku akan memperhatikan mu" ucap Lei Tian, sama seperti kekasihnya sebenarnya ia juga merasa tidak nyaman dengan ucapan dari pemuda yang bernama Zu Feng tersebut.
Qin Qian keluar bersama dengan Xue Meilin, dengan tatapan penuh kekesalan ia berkata.
__ADS_1
"Jaga bicaramu, dan tolong hormati kakekku"
Berbarengan dengan hal itu aura Pendekar Dewa merembes keluar dari tubuh Qin Qian, membuat Zu Feng dan lainnya merasa tertekan dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Ternyata kau menyembunyikan kekuatan mu selama ini, namun sayang mulai hari ini kau akan menjadi wanitaku" ucap Zu Feng yang sudah diliputi oleh nafsu.
Empat orang Tetua yang semula bersembunyi segera maju ke sisi Zu Feng memberikan perlindungan. Dalam sekejap aura yang dikeluarkan oleh Qin Qian dengan mudah dihempaskan.
"Baru saja tingkat awal sudah pamer, jika sebelumnya kau masih putri Kaisar maka aku akan segan, namun sekarang sebaiknya kau menyerah dan menjadi wanita Tuan muda Zu daripada diserahkan kepada Ratu Shio Mei" ucap salah seorang Tetua dengan berterus terang.
"Kau dengar itu, sebaiknya kau menjadi wanitaku daripada menjadi pelindung lelaki lemah seperti pemuda yang kini bersamamu" ucap Zu Feng dengan aura penuh kesombongan.
Dengan kultivasinya yang berada di ranah Pendekar Langit, ia merasa dirinya adalah jenius yang tak tertandingi. Jika bukan karena dirinya adalah penerus Patriark Sekte, maka seharusnya ia adalah bagian dari Akademi Kekaisaran yang berada satu angkatan dengan Lei Tian sebelumnya.
"Ucapan mu terlalu busuk, yang aku lakukan saat ini justru mencegah ia bertindak. Jika bukan karena memandang Kakekku maka sudah kubiarkan kekasihku untuk menghabisi mu" Qin Qian sudah tidak bisa menahan kekesalannya, apa yang dilakukan oleh orang-orang Sekte Perisai Api sudah sangat keterlaluan.
Kata-kata yang baru saja mereka ucapkan adalah bentuk pelecehan terhadap keluarga Kaisar, jika itu terjadi pada masa kekuasaan Kaisar Qin maka sudah dipastikan mereka semua akan dihukum pancung.
Lei Tian jelas merasakan adanya ketidakberesan, dengan kehadiran empat orang Pendekar Tingkat Dewa yang berada di sekitar Qin Qian adalah bentuk ancaman yang tidak bisa ia tolerir lagi.
Dengan santai Lei Tian melangkah keluar, auranya masih sangat tenang dan tidak tampak ketakutan sama sekali. Namun entah mengapa pemandangan seperti ini sangat dinantikan oleh Xue Meilin yang sangat tergila-gila dengan kekuatan kultivator.
Kini di dekatnya berdiri seorang pemuda yang terkenal bengis kepada musuh, ribuan bahkan ratusan ribu nyawa prajurit Kekaisaran Wei telah menjadi gunungan mayat akibat perbuatannya. Oleh karena itu, Xue Meilin benar-benar ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1