
Lei Tian sudah tidak merasakan apa-apa lagi, tubuhnya yang terluka dengan sangat parah jatuh tepat di depan mulut gua.
"Bruuk"
Tubuh Lei Tian tidak bergerak sama sekali, namun kehadirannya telah membuat seseorang terusik.
"Huh.. Orang mati"
Gumam orang tersebut sambil berdecak menyayangkan, setelah sekian lama ia mengasingkan diri baru sekarang bisa melihat kembali makhluk hidup dari jenis manusia.
Tubuh Lei Tian dibiarkan begitu saja, lelaki sepuh tersebut masih bergeming dan memejamkan matanya kembali dalam posisi berkultivasi. Sebagai seorang kultivator ulung ia dapat merasakan jika di dalam tubuh Lei Tian tidak terdapat fluktuasi Qi maupun vitalitas kehidupan, bahkan ia bisa merasakan tubuh Lei Tian yang terluka parah.
Sementara itu di medan pertempuran utama, setelah menunggu beberapa saat tidak melihat Lei Tian kembali dari arah yang ditunjuk oleh rekan Li Yifei tersebut, kini perasaan semua orang menjadi gelisah. Namun di tengah kecemasan orang-orang, Li Yifei muncul dengan wajah sedih dan sikapnya yang aneh.
"Apa yang terjadi? Bagaimana dengan Lei Tian?"
Pada saat ini suara tanya dari Mu Jiao tidak tertahankan, dengan penuh kecemasan ia menatap Li Yifei penuh penasaran.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, setelah berusaha menyusul Lei Tian aku tidak menemukan dirinya. Yang ada hanyalah mayat beberapa orang dari Kekaisaran Wei"
Pada saat ini Li Yifei sedang gundah gulana, jika berkata berterus terang tanpa bukti yang mendukung sama saja akan menyulitkan dirinya. Secara pribadi ia tidak berhadapan dengan Jenderal Shio Mei yang memiliki kekuatan serta kekuasaan yang luar biasa. Apalagi Li Yifei menilai hal ini juga bisa melibatkan Sekte Teratai Ungu yang menjadi rumahnya, dengan kekuasaannya Jenderal Shio Mei bisa dengan mudah menindas sekte Teratai Ungu.
__ADS_1
"Jadi ia tidak ada?" tanya Mu Jiao dengan ekspresi serius.
Li Yifei hanya mengangguk pelan, ekspresi rumit tergambar di wajah cantiknya.
"Orang itu sudah tiada, kita sudah kehilangan pahlawan muda Akademi Kekaisaran"
Terdengar suara Jenderal Shio Mei memecah keheningan kerumunan pasukan elit.
"Aku sangat menyesal karena kedatangan ku terlambat, dari kejauhan aku melihat tubuh Lei Tian yang sudah tidak berdaya ditendang dengan keras ke arah dasar bukit curam" ungkap Jenderal Shio Mei memberikan keterangan.
"Apa?"
"Betapa malangnya pemuda itu?"
'Sebaiknya kita memeriksanya sekali lagi" ucap Shio Mei kepada anak buahnya tersebut.
"Baik Jenderal" jawab mereka dengan kompak.
Shio Mei segera berjalan menuju tempat pertarungan terakhir Lei Tian, namun sebelum dirinya bergerak ia menatap Li Yifei dengan tatapan dingin.
Li Yifei yang ditatap seperti itu merasa ketakutan hingga ke tulangnya, namun ia berusaha menutupinya agar tidak dicurigai oleh Jenderal Shio Mei.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Jenderal Shio Mei dan anak buahnya tiba di tempat yang dimaksud, bekas pertempuran dan mayat dari petinggi Kekaisaran Wei tersebut menjadi saksi bisu.
Banyak yang tidak menduga jika Lei Tian gugur di medan perang, aksi heroiknya harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Namun hanya Li Yifei seorang yang melihat kejadian sebenarnya, kejadian yang berada di luar perkiraan semua orang.
Melihat adanya jejak pertarungan membuat mereka percaya, apalagi sabetan pedang yang terdapat di tubuh dua orang perwira tinggi berasal dari teknik yang biasa digunakan oleh Jenderal Shio Mei. Hal ini menandakan jika Jenderal Shio Mei datang terlambat dalam menyelamatkan Lei Tian.
Ditambah mereka semua mengetahui kondisi terakhir Lei Tian yang sudah mulai kelelahan akibat pertempuran besar yang ia lalui sebelumnya. Mu Jiao dan anggota pasukan elit lainnya hanya bisa menatap jurang dan perbukitan yang terjal, membayangkan tubuh Lei Tian yang tewas di tempat ini membuatnya merasa pilu. Walau baru sebentar mereka berkenalan, namun kesan tentang Lei Tian dan semangat bertempurnya sangat membekas, dia adalah satu-satunya jenius dari Sekte Belati Merah yang kini telah tiada.
Hanya pedang spiritual yang tersisa, di sekitar lokasi pertarungan mereka menemukan pedang yang sebelumnya digunakan oleh Lei Tian tergeletak tak bertuan. Hal ini tentu mengkonfirmasi berita kematian Lei Tian menjadi semakin meyakinkan, terutama Mu Jiao yang dengan tanggap mengamankan senjata yang menjadi milik juniornya tersebut.
Kabar gugurnya Lei Tian pertama kali dihembuskan oleh Jenderal Shio Mei, bersama dengan anggota pasukan elit Akademi Kekaisaran sebagai saksi, ia mendatangi kembali tempat tewasnya tiga orang perwira tinggi kekaisaran Wei. Lei Tian dikabarkan dikeroyok dan dibunuh oleh ketiga perwira tinggi yang memiliki kekuatan tingkat dewa tersebut.
Kabar duka yang begitu menyedihkan ini membuat seluruh orang menundukkan kepala, dibandingkan dengan hasil kemenangan yang gemilang berita ini membuat orang-orang merasakan kesedihan yang mendalam. Kemenangan ini lebih layak ditujukan kepada Lei Tian, namun kematian dirinya membuat kemenangan yang seharusnya dirayakan berubah menjadi peringatan kematian.
Dibalik perasaan duka, hanya Jenderal Shio Mei yang terkesan cuek. Kepuraannya beberapa saat yang lalu ia tunjukkan semata-mata untuk menutupi boroknya. Shio Mei yakin dengan seiring waktu, sosok Lei Tian akan dilupakan oleh semua orang.
Apa yang terjadi hari ini hanyalah luapan emosi saja, sehebat apapun orang mengagumi sosok pemuda yang baru muncul tersebut tetap saja mereka tidak memiliki hubungan kejiwaan yang dekat.
Hal yang perlu dilakukan oleh Shio Mei adalah fokus ke jalan utamanya, pencapaiannya selama ini harus ia wujudkan dengan keberhasilan mewujudkan cita-citanya. Setelah kegagalan membungkam kekuatan Sekte Pedang Emas yang nyatanya adalah tempat ia dibesarkan, kini ia harus memiliki strategi lain.
Sudah menjadi rahasia umum jika Sektenya tersebut adalah pendukung utama Kekaisaran Qin, setelah Sekte Serigala Hitam musnah maka keberadaan Sekte Pedang Emas menjadi semakin kokoh. Rencana yang sudah ia jalani dengan Fei Hung gagal gara-gara kehadiran Lei Tian. Mulanya Fei Hung bertugas mengadu domba kedua Sekte, sementara Shio Mei berperan dalam menahan pasukan Kekaisaran untuk membantu konflik di kota Chengdu.
__ADS_1
Dengan alasan peperangan di perbatasan, Jenderal Shio Mei membawa seluruh kekuatan utama bergeser ke Gerbang Timur, hal ini sesuai dengan rencana Fei Hung juga yang sudah mengatur kondisi di kekaisaran Wei. Dengan posisinya sebagai mata-mata kepercayaan kekaisaran Wei, ia sering mengirim berita provokasi agar Kaisar Wei Sheng bertindak reaktif terhadap keadaan di perbatasan.
Isu sumberdaya di Provinsi Jianxu hanyalah bumbu yang digulirkan oleh Shio Mei dan juga Fei Hung. Keduanya sudah melakukan kesepakatan khusus untuk melakukan rencana yang sudah mereka sepakati untuk menguasai wilayah Kekaisaran masing-masing.