Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Melahap Buah Apel Hitam


__ADS_3

"Awalnya aku juga berpikir demikian, namun setelah menyaksikan bakatmu menyerap Mustika Bumi saat di bilik perenungan, aku tidak menduga jika kau akan berkembang secepat itu. Oleh karena itu aku ingin segera kau berada di bawah pengawasan ku, setidaknya kau akan aman dan tak akan ada yang berani menyentuhmu di Sekte Belati Merah" ungkap Penatua Song.


"Baik Kakek jika begitu" jawab Lei Tian dengan sopan.


"Namun tidak berarti itu akan dengan percuma, setidaknya kau harus memenangkan pertandingan antar murid luar dahulu untuk mendapatkan perhatianku" ujar Penatua Song Gui sambil membolak-balikkan ikan yang sebentar lagi masak.


"Aku akan memenangkan pertandingan tersebut" ucap Lei Tian dengan yakin.


"Bagus jika begitu.. Aku akan mempersiapkan beberapa pengaturan sebelumnya" ujar Penatua Song dengan santai.


"Lalu bagaimana dengan kedua sahabatku?" tanya Lei Tian kemudian.


Sambil menikmati ikan bakar yang sudah masak, Penatua Song Gui melirik ke arah dua pemuda yang tengah berkultivasi.


"Tidak masalah, hanya saja mereka memiliki status yang berbeda denganmu" jawab Penatua Song Gui yang sedikit bangga dengan Lie Tian.


Biasanya seorang kultivator akan mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain, namun ia tidak melihat hal yang demikian di dalam diri Lei Tian. Pada saat ini, Penatua Song Gui menjadi semakin tertarik pada sosok anak muda yang kini berada di dekatnya itu.


"Terimakasih Kakek" ucap Lei Tian dengan tulus.


Sambil menikmati ikan bakar dengan lahap, Penatua Song Gui mengangguk dengan senang menyikapi sikap Lei Tian.


Sementara Lei Tian hanya mampu menahan keinginan makannya di dalam hati. Meskipun seorang kultivator Pendekar Kaisar sepertinya tidak mengandalkan makanan untuk bertahan hidup, namun ia masih tergolong kultivator usia muda yang belum banyak pengalaman berkultivasi.


"Makanlah buah ini" ucap Penatua Song Gui sambil mengeluarkan beberapa buah apel hitam.


"Terimakasih Kakek" ucap Lei Tian dengan sopan.


"Hmmph.. Nikmat sekali" ucap Lei Tian dengan ekspresi puas.

__ADS_1


"Kakek buah ini enak sekali" ujar Lei Tian sambil mengunyah buah tersebut.


Hanya dalam beberapa waktu saja ia sudah menghabiskan lima buah apel hitam tanpa tersisa. Ia makan dengan begitu santai dan rakusnya, selama ia memakan buah tersebut energi di dalam tubuhnya bertambah kuat dan mengalir mengelilingi pusat energinya.


Penatua Song Gui yang menyaksikan kemampuan Lei Tian dalam mengkonsumsi buah apel hitam sedikit tercengang, buah yang ia keluarkan adalah buah khusus yang biasa dimakan oleh kulvitator Tingkat Dewa sepertinya.


Namun bagi Lei Tian buah tersebut seperti memakan buah biasa saja, andai para kultivator melihat aksi Lei Tian makan buah tersebut maka mereka akan menangis.


Buah Apel hitam sendiri merupakan buah yang sangat langka, buah tersebut hanya tumbuh di pekarangan Pemimpin Sekte serta Penatua Song sendiri karena memerlukan perawatan khusus. Buah tersebut biasa digunakan untuk menunjang kultivasi tertutup dalam jangka waktu yang lama.


"Kamu berlatihlah dengan baik, aku tidak mau kau tampil mengecewakan" ucap Penatua Song Gui dengan senyum puas.


"Baik Kakek" jawab Lei Tian dengan hormat.


Setelah mengatakan hal itu, Penatua Song Gui segera pergi dan menghilang dari pandangan Lei Tian. Sementara Lei Tian sendiri hanya menatap penuh kekaguman, lelaki tua yang sebelumnya mengaku hanya sebagai orang biasa kini mulai menunjukkan kemampuannya.


"Sebaiknya aku memanfaatkan waktu untuk berlatih" ucap Lei Tian pelan.


Pada jarak tertentu ia masih melihat kedua sahabatnya yang masih tenggelam dalam kultivasi, udara yang sejuk serta lingkungan yang sepi membuat keduanya benar-benar terlarut dalam situasi khusus tersebut.


Lei Tian juga yakin jika kedua sahabatnya akan mampu naik tingkat dalam waktu yang tidak lama lagi. Selama ini mereka terkendala sumberdaya sehingga mempengaruhi tingkat kultivasi mereka yang berjalan lambat.


Hal ini juga yang membuat Lei Tian merasa marah atas perbuatan Tao Ming dan kelompoknya, oleh karena itu ia juga ingin menjadikan pertandingan antar murid luar untuk menjadi ajang untuk memberi pelajaran kepada mereka.


Menurut Lei Tian murid bergelar teratas seharusnya adalah orang-orang yang bisa menunjukkan prestasi dan bukan orang yang kuat karena menindas yang lemah, apalagi mengambil keuntungan dari mereka.


Setelah berpikir sejenak Lei Tian kemudian mulai berlatih, ia kini sedang memfokuskan penggabungan teknik Tubuh Ilusi dengan teknik tinju pukulan api.


"Aku akan menjadikan teknik tubuh ilusi sebagai dasar untuk setiap gerakan serangan cepat" gumam Lei Tian.

__ADS_1


Lei Tian kemudian mencari tempat untuk duduk sila dan memejamkan mata. Sambil berkultivasi ia juga memasuki lautan kesadarannya untuk melihat Naga Petir yang kini juga sedang terdiam dan hanya memancarkan cahaya keunguan yang berkedip.


Namun semakin lama ia berada di lautan kesadarannya, ia bisa melihat cahaya berkedip di tubuh Naga Petir menimbulkan efek bayangan semu dan berpendar sebelum akhirnya menyatu dengan tubuh aslinya.


"Kenapa sangat mirip dengan konsep tubuh ilusi dalam membagi Qi?" gumam Lei Tian sambil menarik dirinya dari lautan kesadarannya.


Mengetahui jika dirinya sedang mendapatkan wawasan, Lei Tian kembali menenangkan dirinya dalam berkultivasi hingga hari berganti menjadi keesokan harinya.


Sementara itu di Paviliun murid luar, berita tentang keikutsertaan Lei Tian dan juga kakak beradik Nona Shui tersebar dengan cepat. Dengan keberadaan Shui Qing dan Shui Niao membuat para peserta yang mendaftar menjadi menyusut. Mereka semua jelas sudah bisa menebak jika hasil pertandingan akan dimenangkan oleh dua orang yang merupakan kakak beradik tersebut.


Di kediamannya tampak Shui Qing sedang berbincang dengan kakaknya.


"Kakak, kurasa kau akan menemukan lawan yang menarik" ucap Shui Qing ketika baru tiba di kediamannya.


"Maksud kamu?" tanya Shui Niao sambil mengerucutkan dahi dalam-dalam.


"Anak baru itu lagi, tadi aku bertemu dengannya saat mendaftarkan diri di Aula misi" ujar Shui Qing.


"Lalu?" tanya Shui Niao.


"Aku sempat berbincang sebentar, saat aku mengeluarkan aura kekuatan yang aku miliki ia sama sekali tidak terpengaruh. Padahal jelas kekuatannya hanya di tingkat praja" ucap Shui Qing mengadu.


"Apakah kau tidak salah?" tanya Shui Niao yang mulai tertarik.


"Ya benar, aku rasa ia memiliki pusaka khusus yang bisa menahan aura penindasan" ujar Shui Qing.


"Mungkin saja begitu, meskipun demikian aku akan tetap memberikannya pelajaran. Sebaiknya kita berlatih, jangan sampai membuat kesalahan di saat pertandingan antar murid luar. Setidaknya kita masih bisa mendapatkan hadiah sumberdaya untuk menambah bekal saat di Paviliun murid dalam" ujar Shui Niao kepada adiknya tersebut.


"Baik kakak" jawab Shui Qing dengan santai sambil menuju kamar pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2