
Setelah mengatakan hal demikian, Lei Tian segera pamit dan undur diri dari hadapan Patriark Liu dan juga beberapa orang lainnya. Lei Tian bergerak mengikuti Mu Xianji ke arah paviliun ungu, dua pengawal yang sebelumnya ditugaskan menjaga kediaman Lei Jun juga akhirnya ikut pulang kembali bersama Mu Xianji.
"Shuwan, bagaimana kau menjelaskan hal ini kepadaku?" ucap Patriark Liu dengan serius.
Melihat adegan barusan jelas saja Patriark Liu keheranan, bagaimana mungkin pemuda yang baru saja menginjakkan kakinya di Kota Chengdu membuat Mu Xianji bersikap hormat.
"Maaf paman, aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini. Semua ini karena permintaan dari Lei Tian sendiri yang tidak mau jati dirinya diketahui oleh banyak orang" jawab Liu Shuwan yang terdesak.
"Lei Tian adalah pemegang Token Akademi Kekaisaran, selain itu ia juga memiliki identitas lain yang lebih mengerikan sehingga membuat Tuan Mu Xianji begitu patuh" ungkap Liu Shuwan dengan hati-hati.
"Apa? Lei Tian adalah pemilik Token Akademi Kekaisaran?" seru Patriark Liu dengan mulut terbuka lebar.
Lei Jun dan Gong Dun juga tidak kalah terkejutnya, identitas pemegang Token Akademi Kekaisaran adalah sosok orang pilihan, setidaknya mereka memiliki kekuatan pendekar langit dan mendapatkan dukungan kuat dari Sekte. Bahkan masih ada rahasia lain yang lebih mengerikan, hal ini membuat Gong Dun sebagai orang terdekatnya bertanya-tanya.
"Rahasia apa itu nona?" tanya Gong Dun yang tidak bisa menahan diri.
"Lei Tian adalah Ketua Sekte Belati Merah, hal itu dibuktikan dengan adanya Belati Merah di tangannya. Bahkan Tuan Mu Xianji sampai berlutut penuh hormat kepada Lei Tian karena hal tersebut" jawab Liu Shuwan dengan bersungguh-sungguh.
"Hah"
Mulut Gong Dun menganga, ia tidak menyangka jika ada peristiwa sebesar ini bisa ia lewati. Memikirkan hal tersebut ia mengingat peristiwa dirinya diberikan belati pribadi Lei Tian, ia juga mengatakan jika dirinya sudah mendapatkan senjata baru pemberian Patriark Fang Yuan.
__ADS_1
"Ini sebuah keajaiban" gumam Gong Dun yang saat ini terdiam seperti patung.
Adapun Patriark Liu, sudah tidak bisa berkata apa-apa. Ia sangat terkejut dengan penuturan yang disampaikan oleh Liu Shuwan. Jika Lei Tian memiliki identitas yang sangat luar biasa, seharusnya putrinya sangat beruntung memiliki calon suami seperti Lei Tian bukan malah menentangnya seperti yang selama ini ia lakukan.
Sejenak Patriark Liu termenung, ia benar-benar bangga kepada sosok Lei Tian yang begitu rendah hati dan mampu menyembunyikan rahasianya dengan sangat dalam. Namun ia juga berpikir dengan jernih, sikap putrinya yang seperti itu pantas saja tidak mendapatkan simpati dari Lei Tian yang memiliki kepribadian luar biasa.
"Aku jadi malu dengan diriku sendiri, Shuai'er memang tidak layak dengan Lei Tian yang memiliki segudang kelebihan dan bakat yang tidak terukur" gumam Patriark Liu dengan tidak berdaya.
Lei Tian dan Mu Xianji yang kini baru tiba di Paviliun Ungu segera menyusun rencana untuk membantu Sekte Pedang Emas, meskipun akan menghadapi kekuatan besar dari Sekte Serigala Hitam, Mu Xianji sudah siap dengan segala resikonya.
"Tuan muda, sebaiknya anda beristirahat sejenak untuk memulihkan kekuatan dan sisanya biar saya yang atur" ucap Mu Xianji dengan hormat.
"Baiklah, aku akan memulihkan diri dulu" ucap Lei Tian dengan tenang.
"Semoga ini bisa membantu" gumam Lei Tian di dalam hatinya.
Sekitar lima jam berkultivasi, kekuatannya sudah kembali pulih. Meskipun tidak mengalami terobosan, ia merasakan kekuatannya cukup stabil. Dengan kelebihan yang dimilikinya berupa tulang Naga dan juga pedang spiritual ia cukup yakin untuk menghadapi orang-orang dari Sekte Serigala Emas.
Lei Tian kemudian mengeluarkan belati merah dari dalam cincin penyimpanannya, ia tidak menahan diri lagi dalam situasi darurat seperti ini. Dengan beberapa tetes darah, belati merah tersebut langsung patuh tanpa menimbulkan reaksi berlebihan dan mengakui Lei Tian sebagai pemilik barunya.
Sementara itu, Zhao Yusi yang kini berada di Kota Mianyang juga sudah mendengar berita kekacauan di Kota Chengdu. Sebagai putri serta murid dari Shio Mei, ia memiliki akses informasi yang luas. Apalagi selama dua tahun terakhir ia dengan serius menyelidiki keberadaan Lei Tian, marga Lei yang terkenal di Kota Chengdu membuat Zhao Yusi memfokuskan pencariannya di Kota tersebut.
__ADS_1
"Nona, sepertinya keributan dua Sekte besar disebabkan oleh pemuda yang selama ini kita cari" ucap seorang pelayan wanita.
"Apakah benar itu adalah Lei Tian?" tanya Zhao Yusi dengan penuh kerinduan.
"Iya benar, menurut informasi dari orang kita yang berada di Paviliun Ungu kehadiran Lei Tian begitu mencolok dan mendapatkan perhatian secara khusus dari pemilik Paviliun Ungu" ungkap pelayan wanita tersebut.
"Baik kalau begitu aku harus ke Kota Chengdu untuk menemuinya" ucap Zhao Yusi dengan penuh semangat.
"Tapi itu sangat berbahaya nona, bahkan akan terjadi pertumpahan darah akibat pertarungan pendekar tingkat Dewa" ucap pelayan tersebut memperingati.
"Aku sudah menunggu orang itu begitu lama, ini adalah kesempatan ku untuk bertemu dengan dirinya" jawab Zhao Yusi.
"Aku khawatir guru akan marah, apalagi semenjak kepergiannya ke perbatasan ia sudah mengatakan agar nona tidak meninggalkan kediaman" ucap pelayan tersebut.
"Aku sudah cukup bosan, aku hanya ingin melihat dan membantu orang itu, kuharap kau bisa mengerti" ucap Zhao Yusi dengan nada memaksa.
"Baiklah nona, aku akan menemanimu" jawab pelayan pribadi Zhao Yusi dengan tak berdaya.
Zhao Yusi yang kini sudah menjadi kultivator di ranah Pendekar Tingkat Kaisar, sangat mengejutkan banyak orang. Bakatnya sangat luar biasa dan tekadnya juga sangat keras. Hal itu tentu ia lakukan demi Lei Tian yang sudah ia cintai sejak berada di desa Gunung Batu, setelah hari dimana ia diselamatkan, dirinya merasa Lei Tian adalah seseorang yang benar-benar layak ia cintai.
Dengan ditemani oleh pelayan pribadinya yang berada di ranah Pendekar Langit, Zhao Yusi akhirnya berangkat menuju Kota Chengdu dengan menggunakan kereta kuda Akademi Kekaisaran.
__ADS_1
"Tunggu aku, aku sudah lama ingin sekali bertemu dengan dirimu" gumam Zhao Yusi dengan wajah penuh kerinduan.
Zhao Yusi berlatih keras dan melewati batasannya sebagai gadis biasa untuk menjadi kultivator wanita seperti ibunya. Namun rasa cintanya pada Lei Tian telah membuatnya seperti orang yang terobsesi pada bayangan lelaki yang pernah ia permalukan saat di tepi sungai.