Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Menaklukkan Senjata Spiritual


__ADS_3

Di tengah perjalanan menuju lantai tiga, Liu Shuwan memberanikan diri bertanya kepada Lei Tian, ia bersiap memanggil Patriark Liu untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Meskipun keluarga Liu bukanlah apa-apa di mata pemilik Paviliun Ungu namun setidaknya bisa menyelamatkan Lei Tian dari kondisi sulit.


"Apakah kamu yakin dengan hal ini?" tanya Liu Shuwan dengan nada khawatir.


"Tentu saja. Apakah aku terlihat seperti seorang pembual?" tanya Lei Tian masih dengan ekspresi yang tidak berubah.


"A.. Aku percaya padamu" jawab Liu Shuwan sambil mengangguk percaya.


Ketenangan serta kepercayaan diri yang tinggi dari Lei Tian benar-benar membuat Liu Shuwan heran setengah mati. Sudah menjadi rahasia umum jika pemilik Paviliun Ungu adalah orang yang tidak mudah dihadapi.


Di dalam sebuah ruangan khusus di lantai tiga, Lei Tian dipertemukan dengan pemilik Paviliun Ungu yang bernama Mu Xianji.


"Tuan, ada seorang pemuda yang ingin membeli pedang koleksi terbaik dari tempat kita" ucap seorang penjaga yang mengantar Lei Tian.


Mu Xianji mendongakkan kepalanya memandang ke arah Lei Tian dengan serius. Pemuda yang ia rasakan tidak memiliki basis kultivasi namun memiliki kepercayaan diri yang tenang, sebagai orang yang sudah sering mengalami berbagai kondisi tentu dirinya cukup mengerti apa yang ia hadapi saat ini.


"Hmmph.. Apa yang membuat mu memiliki keyakinan untuk memiliki senjata terbaik Paviliun Ungu anak muda" tanya Mu Xianji secara terbuka kepada Lei Tian.


"Apakah benda ini cukup untuk berarti di mata Tuan?" ucap Lei Tian sambil menunjukkan Token Akademi Kekaisaran.


Melihat benda yang tidak asing, Mu Xianji langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Lei Tian dengan hormat. Sebagai pemilik Paviliun Ungu ia adalah orang yang berpengetahuan luas, jadi ia tentu mengenali identitas pemuda yang kini menjadi pelanggannya tersebut.


"Salam hormat Tuan muda, saya Mu Xianji mohon maaf atas ketidaksopanan saya sebelumnya" ucap Mu Xianji dengan hormat.


Penjaga Paviliun Ungu dan Liu Shuwan yang melihat kejadian ini terperanjat, mereka terkejut bukan main. Apalagi melihat perubahan sikap Tuan Mu Xianji yang begitu menghormati Lei Tian dengan Token yang dimilikinya.

__ADS_1


"Identitas apa sebenarnya yang dimiliki oleh Lei Tian?" tanya Liu Shuwan di dalam benaknya.


Meskipun itu Klan Lei, tentu belum cukup untuk membuat pemilik tempat ini sampai harus berbuat demikian, Liu Shuwan tampak seperti orang bodoh pada saat ini.


"Apakah Tuan Mu Xianji memiliki sebuah pedang yang paling bagus? tanya Lei Tian.


"Tentu, tentu saja ada Tuan muda" ucap Mu Xianji dengan hormat.


Selanjutnya Mu Xianji menuju ruangan khusus di lantai tiga, tanpa segan ia kemudian menunjukkan koleksi terbaik Paviliun Ungu.


Lei Tian memperhatikan beberapa jenis pedang yang membuatnya tertarik, sesuai namanya memang kualitas barang di ruangan ini berbeda dengan tempat sebelumnya.


"Diantara ini semua, mana yang terbaik" tanya Lei Tian yang memang tidak mengerti jenis senjata.


"Pedang ini sangat langka, dibuat oleh seorang ahli pedang di zamannya. Pedang ini masuk dalam pusaka spiritual kelas tinggi, hanya saja belum teruji karekteristik bawaan dari senjata ini. Pemilik sebelumnya mendapatkan benda ini dari sebuah makam kuno saat ia berburu harta karun, namun selama berada di sini belum ada yang berhasil memiliki pedang ini. Bisa dikatakan senjata ini sedang mencari tuannya, jika Tuan muda berjodoh maka saya akan memberikan harga khusus" ucap Mu Xianji dengan serius sambil menyerahkan pedang yang sangat bagus.


Lei Tian memegang dengan lembut, menyentuh beberapa bagian pedang dan mencium aroma pedang yang berbau logam secara khas. Pada saat ini perasaan Lei Tian mulai timbul rasa ketertarikan yang dalam terhadap pedang yang berada di tangannya.


Entah mengapa tiba-tiba intuisinya menggerakkan tangannya untuk meneteskan darah ke atas pedang yang kini berada di genggamannya. Detik berikutnya beberapa tetes darah Lei Tian mengalir dan terserap begitu saja ke dalam pedang, membuat Mu Xianji terperangah.


Ia menyadari jika metode yang dilakukan oleh Lei Tian adalah bentuk pengakuan Tuan kepada benda yang akan ia jadikan sebagai barang spiritual, benda yang memiliki jiwa dan kesadaran spiritual yang tinggi.


"Ngung.."


Tiba-tiba suara berdengung muncul dari pedang yang berada di tangan Lei Tian, getaran pedang bergerak mulai kencang dan membuat Lei Tian memegangnya dengan erat.

__ADS_1


Semakin lama getaran tersebut makin kencang dan membuat bangunan Paviliun Ungu ikut merasakan getaran.


"Luar biasa" ucap Mu Xianji penuh kekaguman.


Sementara Liu Shuwan sedikit tidak mengerti, namun melihat pusat getaran ada di pedang yang digenggam oleh Lei Tian ia merasakan hawa ketakutan yang mendalam.


Menyadari adanya getaran yang kuat, Lei Tian segera mengalirkan Qi nya ke dalam pedang dan menciptakan tabrakan dua energi yang membuat suhu ruang naik menjadi ekstrim.


Pakaian Lei Tian berkibar tanpa tiupan angin, aura Pendekar tingkat dewa merembes tanpa bisa ia tutupi lagi.


Mu Xianji mundur beberapa langkah, ia tidak menduga jika kekuatan pemuda yang berada di depannya sudah melebihi ekspektasinya.


"Mundur" ucap Mu Xianji kepada pengawalnya dan juga Liu Shuwan.


Lei Tian yang kini sedang berusaha mengendalikan energi internal pedang yang ditangannya, tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya. Ia tengah fokus mengalirkan tenaga Qi yang besar untuk menekan energi pedang yang ikut masuk ke dalam tubuhnya.


"Senjata jenis apa ini?" batin Lei Tian yang baru pertama kali menghadapi situasi seperti ini.


Selama beberapa saat pergolakan energi di dalam tubuhnya telah mencapai titik maksimal, suhu ruang berubah menjadi sangat panas membuat Liu Shuwan ketakutan. Sebagai kultivator yang masih berada di tingkat Pendekar Raja ia tentu merasakan kepanikan yang luar biasa.


Sementara penjaga Paviliun yang sebelumnya berkata kasar pada Lei Tian tidak dapat berkata-kata, punggungnya sudah basah akibat keringat dingin dan rasa ketakutan yang luar biasa. Meskipun ia berada di tahap pendekar Langit, tetapi ia tidak bisa melawan pemuda tersebut sama sekali. Perbedaan kekuatannya sangat jauh, ia tidak mungkin bisa menyelisihi perbedaan tersebut.


Sementara Mu Xianji yang memiliki kekuatan pendekar dewa juga sedikit kebingungan, sebelumnya ia juga sempat melakukan metode yang sama untuk menaklukkan pedang tersebut namun tidak terjadi reaksi seperti yang kini ia rasakan. Di depannya jelas terlihat sosok pemuda yang sebelumnya sangat tenang kini mulai terlihat perubahan ekspresi di wajahnya.


Di lantai satu dan lantai dua semua pengunjung terpaksa diungsikan keluar Paviliun, mereka juga merasakan getaran yang sama hingga berpikiran jika bangunan akan runtuh.

__ADS_1


__ADS_2