
Atmosfer lingkungan semakin memanas, pagi yang sejuk sudah diawali dengan pertempuran berdarah, membuat orang-orang merasa kengerian.
"Kalian majulah, semakin cepat diselesaikan maka semakin baik bagi kita" ucap Chi Luk Bha kepada sembilan orang Pendekar Tingkat Dewa.
Di pihak lain, Patriark Bho Chah juga tidak kalah gesit dengan memerintahkan lima orang Penatua Sektenya untuk maju. Ia sudah tidak mungkin untuk menahan serangan dari Sekte sesat yang kini sudah berada di depannya.
Kini para pendekar dewa sudah saling berhadapan, mereka bersiap bertarung satu sama lain. Namun keunggulan jumlah petarung, membuat pemandangan menjadi janggal. Apalagi kehadiran Mu Xianji yang sangat dipuji di awal, tidak sesuai dengan harapan banyak orang.
Mu Xianji dan pengawal pribadinya masih berdiri kokoh tidak bergerak maju, hal ini membuat banyak orang kecewa. Bahkan Patriark Bho Chah sempat mengernyitkan dahinya dalam-dalam, ia sendiri bingung kenapa Mu Xianji tidak ikut serta dalam pertempuran melawan pendekar dewa.
Namun tanpa mereka sadari, perhatian Mu Xianji tengah terfokus kepada pendekar langit yang menggunakan pakaian berwarna merah. Benar saja apa yang dikhawatirkan oleh Lei Tian, orang-orang berpakaian merah tersebut bergerak ke arah rombongan anggota Sekte Pedang Emas.
"Hentikan, lawanmu adalah kami" teriak Mu Xianji dengan lantang sambil melompat ke arah lawan.
Beberapa detik kemudian pertempuran diantara dua kubu tersebut akhirnya pecah dengan saling serang menggunakan senjata masing. Meskipun jumlah mereka tidak berimbang, dengan adanya Mu Xianji yang berada di ranah Pendekar Dewa tentunya dapat dengan mudah mengendalikan pertempuran.
"Trank"
"Trank"
"Trank"
Suara benda logam mulai beradu diantara para pendekar kelas menengah tersebut, sementara dari kelompok terendah yakni para murid biasa hanya bisa menyaksikan sambil bersiap siaga.
Patriark Bho Chah dan pihak yang bersamanya kini baru mengerti tentang pengaturan yang sudah dibuat oleh Lei Tian, ada tatapan kagum dari Patriark dan Penatua Sekte Pedang Emas terhadap sosok pemuda yang begitu luar biasa. Bahkan Patriark Bho Chah saja tidak memperhatikan hal seperti ini, ia terlalu fokus dengan perbedaan jumlah pendekar dewa yang menjadi penentuan.
__ADS_1
Lei Tian tersenyum senang, walau bagaimanapun ia memperhatikan keselamatan para murid Sekte Pedang Emas yang didalamnya terdapat Liu Shuai, mantan tunangannya. Permintaan Patriark Liu secara pribadi untuk melindungi Liu Shuai, membuatnya merasa harus berbuat maksimal untuk berjuang kali ini.
"Tidak kusangka kau begitu peduli dengan nyawa orang-orang rendahan seperti itu" ucap Patriark Chi Luk Bha yang menyadari strategi Lei Tian.
Berbarengan dengan hal itu, tatapan mata Chi Luk Bha jatuh kepada seorang murid Sekte Pedang Emas yang berada tidak jauh darinya. Sambil mengeluarkan energi Qi di dalam tinjunya, tubuh Patriark Chi Luk Bha bergerak dengan sangat cepat dan menghantam dada murid senior tersebut dengan ganas.
"Kraak"
Suara tulang patah akibat tinju dari Patriark Chi Luk Bha mengagetkan banyak orang. Dalam sekejap murid tersebut tewas akibat serangan tunggal dari Patriark Chi Luk Bha.
"Kurang ajar" ucap Patriark Bho Chah yang telah kecolongan.
Menyaksikan muridnya mati di depan matanya sama saja mempermainkan Patriark Bho Chah. Detik selanjutnya ia langsung menghampiri Patriark Chi Luk Bha dengan melayangkan sebuah pukulan keras dari udara.
Chi Luk Bha yang sudah mengantisipasi serangan dari Bho Chah, sambil mencibir ia juga mengeluarkan tinjunya untuk menghantam serangan dari Patriark Bho Chah.
Dua kekuatan besar beradu membuat gelombang udara yang kuat bertebaran ke segala arah.
Tubuh Patriark Bho Chah dan juga Patriark Chi Luk Bha masingmasing mundur tiga atau empat langkah, kekuatan mereka berada pada tingkat yang sama.
Melihat situasi seperti ini, semua pendekar dewa pun bersiap bertarung memilih lawan masing-masing. Mereka bergerak menyesuaikan keadaan dan memilih lawan berdasarkan feeling mereka dalam mengidentifikasi kekuatan lawan.
"Kalian berempat maju bersama, biarkan aku yang mengantarkan kalian menemui dewa kematian" ucap Lei Tian dengan murka.
"Apakah itu tidak berlebihan?" tanya seorang Penatua dari Sekte Pedang Emas.
__ADS_1
"Penatua tidak mengkhawatirkan diriku, kalian bertarung lah dengan fokus, jika sudah berhasil mengalahkan musuh barulah kalian boleh memikirkan ku" ucap Lei Tian sambil mencabut pedangnya.
Ini adalah dendam pribadi Lei Tian dengan orang-orang Sekte Serigala Hitam, jadi ia pasti akan menyelesaikannya dengan hati-hati dalam memulai sesuatu yang besar.
Detik berikutnya mereka segera bersiap di depan lawan masing-masing, sementara hanya Lei Tian yang kini berhadapan dengan empat orang Pendekar Dewa sekaligus.
"Hai bocah, kau hanya cari mati" ucap salah seorang Tetua Sekte Serigala Hitam dengan nada mengejek.
"Siapapun dari kalian yang berasal dari Sekte Serigala Hitam akan mati dan merasakan penderitaan yang sesungguhnya" ucap Lei Tian dengan sorot mata yang memerah.
Dalam hal ini Lei Tian teringat tentang sejarah keluarganya yang dihancurkan oleh konspirasi orang-orang dari Sekte Serigala Hitam. Baginya membunuh dan membantai orang-orang dari aliran hitam seperti Sekte Serigala Hitam adalah suatu keharusan.
Jauh mata memandang, tampak Liu Shuai menatap Lei Tian yang kini dikelilingi oleh empat orang Pendekar Tingkat tinggi. Ia benar-benar tidak menduga jika pria yang sudah ditetapkan oleh ayahnya adalah sosok yang sangat mengesankan. Tidak ada seorang pun di Sekte Pedang Emas yang mampu menyaingi kekuatannya, bahkan dirinya sudah bisa disejajarkan dengan Penatua senior di Sekte Pedang Emas.
"Apakah dia adalah orang yang sama yang selama ini telah menjadi tunanganku?" ucap Liu Shuai pelan.
Di dalam hatinya segala bentuk penyesalan dan kesombongannya melebur menjadi perasaan yang rumit untuk diungkapkan.
Namun tanpa diduga, tubuh Lei Tian seperti membelah diri dan berubah menjadi empat bentuk tubuh yang sama. Hanya tampak tubuh aslinya yang sedang menggenggam pedang spiritual, benda pusaka yang sedang diburu oleh Sekte Serigala Hitam.
"Teknik Tubuh Ilusi? Ternyata anak itu berasal dari Sekte Belati Merah" gumam Patriark Bho Chah yang mengetahui jurus andalan Patriark Fang Yuan tersebut.
Kendati demikian Patriark Bho Chah tampak sangat terkejut, ia bisa merasakan jika teknik yang digunakan oleh Lei Tian terasa berbeda. Sebelumnya ia pernah melihat dan merasakan jurus yang sama yang digunakan oleh Patriark Fang Yuan. Hanya saja ada perbedaan yang sangat mencolok yaitu tidak adanya pembagian kekuatan.
Patriark Fang Yuan meskipun menggandakan dirinya dalam bentuk tubuh ilusi, ia juga harus membagi kekuatannya dengan porsi yang sama. Namun teknik yang digunakan oleh Lei Tian lebih sempurna, tidak hanya menggandakan tubuhnya, tetapi ia juga mampu mendistribusikan kekuatannya hampir secara merata.
__ADS_1
Tanpa orang lain ketahui, Teknik Lei Tian sendiri menjadi seperti itu dikarenakan bantuan Naga Petir yang selama ini menghamburkan sumberdaya yang Lei Tian serap ke dalam tubuhnya. Pada saat ia menggunakan teknik tubuh ilusi, maka secara otomatis kekuatan Naga Petir di dalam tubuhnya akan mengalir ke beberapa tubuh ilusi.