
Melihat luka-luka yang dialami oleh pemuda di depannya membuat Mu Xianji mulai menerka-nerka, tatapannya penuh selidik kepada seorang wanita yang tampak lemah.
"Kamu beristirahatlah dan jangan berpikiran yang aneh-aneh, sisanya biar Paviliun Ungu yang mengurusnya" ucap Mu Xianji.
"Baik, terimakasih Tetua" jawab Khu Ching dengan hormat.
"Nona, apakah kau berasal dari Akademi juga?" tanya Mu Xianji, wanita di depannya tidak menggunakan pakaian seperti murid Akademi Kekaisaran pada umumnya.
"Benar, hanya saja hari ini adalah hari terakhir aku berada di Akademi" jawab Li Yifei dengan jujur.
"Apakah kau jenius yang berasal dari Sekte Teratai Ungu?" tanya Mu Xianji, sebagai orang yang mengelola Paviliun Ungu tentu ia mendengar kabar dari Akademi Kekaisaran.
"Benar Tuan, namun sebelumnya apakah boleh kita berbicara empat mata?" Li Yifei ingin berkata jujur dengan Mu Xianji, saat ini hanya Tetua pemilik tempat ini yang bisa ia percaya.
Meskipun belum tahu pasti tentang kebenarannya, Li Yifei yakin jika pemilik tempat ini berkaitan erat dengan orang-orang Sekte Belati Merah.
"Baiklah, kau bisa ikut denganku" ucap Mu Xianji, kemudian ia melangkah keluar ruangan tempat dimana Khu Ching sedang dirawat oleh anak buahnya.
Di Paviliun Ungu juga terdapat seorang tabib yang mengerti ilmu pengobatan, bahkan tabib ini juga yang biasa diandalkan oleh Mu Xianji dalam menilai bahan-bahan herbal langka dan berkualitas tinggi. Sebagai penilai, tabib ini memiliki kedudukan yang penting di Paviliun Ungu yang sangat disegani oleh Mu Xianji.
__ADS_1
"Silahkan duduk nona, sepertinya telah terjadi hal serius padamu" ucap Mu Xianji ketika tiba di ruang pribadinya.
"Betul Tuan" jawab Li Yifei.
"Semua ini berkaitan dengan diriku yang selama beberapa tahun tidak bisa berkembang dalam berkultivasi, bahkan dalam tempo terakhir aku sudah kehilangan kontrol energi Qi dan sepertinya kerusakan Dantian di dalam tubuhku sepertinya sudah parah" Li Yifei berkata dengan serius, ia mengatakan hal yang memang benar dirasakannya.
"Lalu?" tanya Mu Xianji yang mulai tertarik.
"Awalnya aku mengira karena gangguan pikiran atas kesalahanku menutupi kematian Lei Tian, namun setelah peristiwa penyergapan hari ini aku baru sadar jika aku sebenarnya telah diracuni oleh orang yang berasal dari Sekteku sendiri" lanjut Li Yifei menjelaskan keadaannya.
"Sebentar, tadi kau bilang tentang kematian Tuan Muda?" tanya Mu Xianji sambil mengernyitkan kedua alis matanya.
Melihat reaksi Tuan Mu Xianji yang begitu menghormati Lei Tian membuat Li Yifei terkejut, pasalnya Lei Tian bukanlah orang yang sama seperti Mu Jiao yang berada dalam satu keluarga yang sama. Namun memikirkan perkataan Khu Ching yang memanggil Lei Tian sebagai Ketua, membuat Li Yifei semakin tertarik terhadap jatidiri sosok pemuda yang membuatnya memikirkan selama dua tahun terakhir.
Mendengar perkataan dari Li Yifei, ekspresi Mu Xianji terlihat sangat marah. Bahkan jari tangannya terlihat mengepal, aura membunuhnya pun merembes keluar membuat Li Yifei tertekan.
"Kurang ajar.. Pantas saja Kekaisaran Qin tidak melakukan aksi balas dendam, padahal menaklukkan Kekaisaran Wei sangat mudah di saat mereka sudah kehilangan orang-orang terbaiknya" Mu Xianji terlihat marah, memikirkan kekejaman Shio Mei yang ternyata dalang dari semua kekacauan.
"Tunggu, jangan bilang jika wanita laknat itu menyingkirkan tuan muda karena ingin menduduki kekuasaan seperti saat ini?" ucap Mu Xianji dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
__ADS_1
"Sepertinya memang demikian, apalagi hal ini terlihat sudah direncanakan sejak lama" ujar Li Yifei yang tidak menutupi hal yang ia ketahui.
"Ha ha ha ... Shio Mei konyol, bodoh.. Dasar wanita laknat" Mu Xianji tertawa lepas, di tengah kekesalan dan kebenciannya tentu Mu Xianji paham apa yang akan terjadi.
Berdasarkan informasi yang baru saja ia dapatkan dari Tetua Mu Chen, pedang spiritual milik Lei Tian sudah meninggalkan Sekte. Benda spiritual tersebut sudah kembali kepada pemiliknya, dalam hal ini adalah Lei Tian dan sekaligus membuktikan jika Lei Tian memang masih hidup. Hanya saja dimana ia berada tidak ada yang mengetahuinya, bahkan rahasia ini juga hanya diketahui para petinggi Sekte Belati Merah.
Li Yifei keheranan dengan sikap tuan Mu Xianji yang tertawa begitu keras, ekspresi rumitnya sulit ditebak oleh Li Yifei pada saat ini.
"Kau sudah benar nona, dengan berkata seperti ini maka kami akan sangat menghargai kejujuran mu. Meski kau sudah ditelantarkan oleh Sekte mu, percayalah sekarang kau berada pada perahu yang tepat. Kelak tuan muda akan mengenalmu dan membalas semua pengorbanan mu hingga apa yang telah terjadi hari ini" ucap Mu Xianji dengan sungguh-sungguh.
Li Yifei menjadi bingung dengan ucapan tuan Mu Xianji, istilah Tuan muda jika merujuk kepada Lei Tian berarti bukankah pemuda tersebut masih hidup?
Meskipun ia kehilangan kultivasinya namun ia tidak kehilangan daya kritisnya, sebagai jenius ia terkenal karena bakar dan kemampuannya dalam memahami suatu hal lebih baik dari orang lain.
"Tuan, apakah itu berarti saudara Lei Tian masih hidup" ucap Li Yifei dengan hati-hati.
"Ha ha ha... Menarik, kau tetaplah murid jenius. Memang bodoh Sekte Teratai Ungu yang telah membuang mu" ucap Mu Xianji sambil tersenyum lebar, lalu ia menatap Li Yifei dengan serius.
"Sepertinya demikian, tuan muda adalah Ketua Sekte Belati Merah yang sesungguhnya. Pasti ia memiliki rahasia dan kemampuan yang berada di luar nalar, hanya saja kami masih menunggu kepulangan tuan muda" ucap Mu Xianji kepada Li Yifei, untuk menarik bakat jenius seperti dirinya maka Mu Xianji terpaksa membocorkan rahasia besar.
__ADS_1
"Namun kuharap kau bisa menjaga rahasia ini, kebiasaan tuan muda adalah ia tidak pernah mau dirinya diekspos kecuali jika waktunya sudah tepat" tambah Mu Xianji, namun kali ini ada sedikit penekanan.
"Tentu saja aku akan menjaga rahasia ini, aku juga berharap saudara Lei Tian bisa membereskan semua kekacauan yang telah ditimbulkan oleh wanita yang merupakan ular kepala dua tersebut" ucap Li Yifei dengan senyum cerah, jika benar Lei Tian masih hidup maka kedatangannya ke tempat ini adalah suatu petunjuk yang sangat luar biasa.