
Udara pagi berhembus dengan mesra, daun-daun di halaman kediaman Qin Qian berjatuhan akibat terpaan gelombang energi tidak kasat mata yang telah ditinggalkan oleh sesepuh Zu. Sama seperti yang Lei Tian gunakan, energi para Pendekar Keabadian terasa khas dan unik, pengendaliannya sudah di tingkat dimana menekan energi tanpa fluktuasi.
Semua orang tercengang, sikap leluhur Sekte Perisai Api yang begitu sungkan terhadap Lei Tian menimbulkan pertanyaan besar di hati seluruh orang. Beragam pertanyaan liar muncul di pikiran setiap orang, bahkan ribuan murid Sekte Perisai Api yang mengetahui hal ini tidak bisa berbuat apa-apa.
Peristiwa di pagi hari ini terlalu luar biasa untuk dipahami, kemunculan Lei Tian yang selalu menggemparkan membuat orang-orang hampir gila dibuatnya. Segala ekpektasi terhadap pemuda tersebut selalu runtuh di bawah pandangan kasat mata, apalagi sikap anehnya yang selalu menyembunyikan tingkat kultivasinya membuat orang-orang menjadi lengah.
Dengan dukungan orang seperti ini, bagaimana mungkin di masa depan ada yang berani mengusik Tetua Zu Sanfeng dan juga cucunya yang merupakan putri Kaisar Qin.
Lei Tian berdiri dengan tenang, namun dibalik ketenangannya tersebut membuat semua orang sangat ketakutan. Pada saat ini, tiga orang Tetua Sekte Perisai Api sedang gemetaran, tubuhnya siap berlutut kapan saja.
Selain Zu Sanfeng, mereka adalah tiga orang Tetua yang tersisa, setelah empat orang lainnya tewas tanpa jasad, mereka tidak berani bergerak sedikitpun di hadapan Lei Tian. Mereka juga dengan jelas menyaksikan jika leluhur Sekte sekalipun berpihak kepada seorang pemuda yang kini sedang berdiri tersebut.
"Dari mana cucuku menemukan monster seperti ini?" batin Zu Sanfeng, tatapan matanya penuh kekaguman ke arah Lei Tian.
Xue Meilin menggertakkan giginya, "Usianya masih sangat muda, leluhur Sekte sekalipun bertindak segan terhadapnya"
Qin Qian tersenyum penuh arti, apa yang ia pertaruhkan sebelumnya terhadap pemuda yang masih terlihat tenang tersebut telah melewati ekspektasinya. Pada saat ini, Qin Qian tidak bisa tidak mengagumi pria yang telah menjadi pasangannya, sekaligus pilihan hidupnya tersebut.
"Para Tetua, aku mohon maaf atas kekacauan ini. Namun seperti apa yang aku ucapkan sebelumnya, jangan sampai apa yang sudah terjadi hari ini tersebar. Aku masih memiliki rencana lain, jika aku mengetahui ada yang membocorkan hal ini maka aku jamin orang tersebut takkan bisa bereinkarnasi" Lei Tian berkata penuh penekanan, ia tidak bertele-tele terhadap suatu hal yang ia pandang prinsip.
Sementara bagi para Tetua dan murid-murid yang lainnya, ucapan Lei Tian bukanlah ancaman melainkan sebuah keputusan yang tidak bisa mereka tawar.
Lei Tian memandang ke arah sekitar empat puluh orang murid dalam yang sebelumnya mengikuti Zu Feng untuk mengintimidasi dirinya.
"Apakah di sini ada Aula penegakan kedisiplinan?" tanya Lei Tian kepada Tetua Sekte.
"Ada Tuan, kebetulan saya yang bertanggungjawab" salah seorang Tetua berkata, ia adalah Xie Biun Tetua yang berada dalam kubu yang sama dengan Zu Sanfeng.
__ADS_1
"Berikan hukuman yang setimpal kepada mereka" ucap Lei Tian menunjuk kepada murid dalam.
"Baik Tuan" jawab Xie Biun dengan patuh.
"Untuk urusan Sekte biarlah kakek Zu yang ambil alih, hal ini akan dibicarakan nanti dengan sesepuh Zu Kai" ucap Lei Tian kemudian.
"Baik Tuan" ucap tiga orang Tetua secara bersamaan.
"Baiklah kalian bisa meninggalkan tempat ini" ucap Lei Tian sambil membalikkan badannya menuju ke arah Qin Qian.
Di hadapan Qin Qian, wajah Lei Tian kembali tersenyum hangat. Tatapan dinginnya berubah menjadi tatapan penuh kasih sayang, di bawah pengaruh rasa cinta yang dimilikinya ternyata Qin Qian adalah penawar dari keganasan sikap Lei Tian sebelumnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Lei Tian kepada Qin Qian.
"Sepertinya aku butuh jalan-jalan" ucap Qin Qian dengan asal.
Kakek Zu Sanfeng hanya menghela napas dengan pelan, melihat cucunya begitu akrab dengan Lei Tian membuat dirinya sangat senang. Semula ia sangat khawatir dengan keselamatan cucu tercintanya tersebut, namun dengan keberadaan Lei Tian di sisinya tak perlu lagi ada kekhawatiran.
"Tian'er, bagaimana sekarang?" tanya Zu Sanfeng yang sudah mengubah panggilannya terhadap Lei Tian.
"Kakek adalah Patriark, segala sesuatunya sekarang menjadi urusan kakek" ujar Lei Tian dengan santai.
Zu Sanfeng terdiam, ia tidak menyangka jika dirinya akan ditunjuk sebagai Ketua Sekte Perisai Api. Hal yang menjadi beban pikirannya saat ini adalah terkait keberadaan para Tetua yang mengepalai beberapa urusan. Tanpa mereka juga bisa dikatakan dapat melemahkan Sekte, komposisi pendekar tingkat dewa sangat sulit dipenuhi.
Melihat kakek Zu Sanfeng yang terdiam, membuat Lei Tian sedikit heran. Seharusnya kakek Zu Sanfeng senang dengan hadiah pertemuan yang ia berikan.
"Apa yang kakek pikirkan?" tanya Lei Tian dengan sopan.
__ADS_1
"Sepertinya Sekte kekurangan para Tetua" ucap Zu Sanfeng ragu-ragu.
Lei Tian terdiam, sejenak ia juga menyadari jika keberadaan para Tetua sangat dibutuhkan oleh Sekte besar. Memikirkan hal tersebut, Lei Tian teringat akan kitab pemberian kakek Akong. Jika tidak salah terdapat teknik untuk meningkatkan kekuatan tenaga dalam.
"Untuk hal itu berikan aku waktu satu atau dua hari, sambil menunggu kakek bisa siapkan beberapa talenta yang sekiranya cocok untuk mengisi posisi tersebut" Lei Tian berkata dengan serius, ia juga penasaran dengan ilmu pengobatan yang seperti Akong miliki.
"Baik.. Baik jika begitu tidak masalah" jawab Zu Sanfeng sambil tersenyum cerah.
Setelah berkata seperti itu Zu Sanfeng segera bergegas membuat pengaturan, ia dan para Tetua yang tersisa harus bisa mengoptimalkan kondisi Sekte yang hampir saja luluh lantah.
Qin Qian yang sedari tadi terdiam semakin kagum dengan tindakan responsif dari Lei Tian, tidak hanya bisa menghancurkan musuhnya tetapi ia juga dapat menciptakan peluang pertumbuhan untuk orang lain.
"Sepertinya kakek sangat menyukaimu" ucap Qin Qian sambil mencondongkan tubuhnya dengan mesra.
"Mungkin karena aku sedikit tampan, jadi kakek tidak keberatan dengan kedekatan kita" jawab Lei Tian mengalihkan perhatian.
"Huh... Dari mana tampannya?" ucap Qin Qian sambil mendengus kesal.
Mulanya ia ingin memuji kekasihnya, namun Lei Tian malah mengalihkan topik pembicaraan. Tetapi dalam hatinya ia juga kagum dengan kebersahajaan yang dimiliki oleh pria yang akan menjadi suaminya tersebut.
"Apakah Gege Tian ingin jalan-jalan melihat-lihat Sekte?" tanya Qin Qian, sebelumnya ia sendiri juga ingin jalan-jalan.
"Tentu saja, tapi sebelumnya aku ingin bersamamu" ucap Lei Tian sambil tersenyum nakal.
Segera setelah mengatakan hal tersebut, Lei Tian menarik tangan Qin Qian ke dalam kediamannya. Sepertinya ada hasrat yang perlu ia tuntaskan, ada candu yang tertunda di bagian tubuhnya yang hanya bisa mereka selesaikan berdua di dalam kamar.
Xue Meilin hanya tersenyum menahan tawa, gairah anak muda di depannya benar-benar membuatnya ingin kembali ke saat di mana ia pernah muda dulu.
__ADS_1
"Tuan muda dan Tuan Putri benar-benar pasangan sempurna, anak-anak mereka pasti cantik dan tampan" gumam Xue Meilin sambil tersenyum bahagia.