
"Nona, bagaimana keadaanmu saat ini?" ucap Lei Tian sambil membalikkan badannya.
"Bagaimana bisa? Aku yang selalu membencimu kini diselamatkan oleh orang yang paling aku benci" ucap Shui Niao sambil menumpahkan air matanya.
Bukannya menjawab pertanyaan Lei Tian, Shui Niao justru merasa menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan sebelumnya.
"Maafkan aku atas kekalahan mu sebelumnya, namun aku tidak pernah meletakkannya di dalam hatiku" ucap Lei Tian dengan santai.
"Terimakasih atas pertolonganmu kali ini, jika tidak ada dirimu entahlah akan seperti apa nasibku" ucap Shui Niao dengan tulus.
"Sebagai sesama murid Sekte Belati Merah sudah seharusnya kita saling tolong menolong, jadi nona Shui tidak usah sungkan" balas Lei Tian.
Shui Niao kemudian meminum sebuah pil penyembuhan yang terdapat di dalam cincin penyimpanannya. Pukulan yang di keluarkan oleh Kang Tao Gwe sebelumnya telah membuat beberapa saraf tubuhnya terganggu, meskipun tidak fatal namun jika dibiarkan maka tubuhnya akan semakin lemah.
"Apa yang kau lakukan selama ini?" tanya Shui Niao kemudian.
Rasa penasarannya semakin besar terhadap pemuda yang kini berada di dekatnya, sebelumnya ia dan Shui Qing telah mencari asal-usul Lei Tian namun tidak terdapat informasi apapun. Hal yang paling kentara hanyalah ia dibawa oleh seorang alumni Sekte dan mendapatkan rekomendasi sebagai murid baru dengan bakat biasa.
"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya berkultivasi saja" ungkap Lei Tian dengan jujur.
"Pantas saja kau menghilang begitu lama" ucap Shui Niao sambil menggigit bibirnya.
"Ha ha ha.. Apakah kau selama ini memikirkanku?" ucap Lei Tian dengan santai.
"Enak saja.. Kamu tidak akan bisa masuk kriteria yang aku pilih" ucap Shui Niao dengan penuh gengsi.
"Aku hanya bercanda, kebetulan aku juga sudah memiliki kontrak pernikahan sejak kecil jadi kamu tidak usah khawatir aku akan mengganggumu" ucap Lei Tian dengan jujur.
Mendengar ucapan Lei Tian barusan entah mengapa perasaan Shui Niao jadi tidak menentu, ada kesedihan yang ia rasakan saat mendengar Lei Tian sudah memiliki tunangan.
__ADS_1
"Apakah kau sudah bertemu dengan tunangan mu?" tanya Shui Niao dengan cepat.
"Hmmph... Mungkin setelah ini aku akan bertemu dengannya. Kebetulan aku juga akan menemui keluarga ayahku di Ibukota" ujar Lei Tian dengan tenang.
"Owh.. Apakah itu di Kota Jianxi?" tanya Shui Niao penuh semangat.
"Bukan, jaraknya cukup jauh dari sini dan mungkin aku akan meninggalkan Sekte dalam waktu yang cukup lama. Sudahlah, aku ingin segera bertemu dengan guruku dan juga kawan-kawanku. Apakah kau sudah lebih baik?" tanya Lei Tian sambil mengubah topik pembicaraan.
Pada saat yang bersamaan Lei Tian sudah bersiap untuk pergi, baginya menolong wanita seperti Shui Niao tidak perlu terlibat lebih jauh. Ia dan dirinya tidak memiliki hubungan pertemanan di masa lalu, hanya sebatas persaingan bakat pada Paviliun murid luar.
"Tunggu... Sepertinya aku tidak bisa berjalan, aku takut jika sesuatu terjadi lagi padaku" ucap Shui Niao yang mencoba mendapatkan simpati dari Lei Tian.
Shui Niao menyentuh kakinya yang kesakitan dan tidak bisa berjalan dengan normal. Pil yang sebelumnya ia minum belum bereaksi dengan baik, ia masih merasakan rasa ngilu di beberapa persendian tubuhnya.
"Apakah seperti ini kelakuan setiap nona besar?" ucap Lei Tian yang mulai sedikit peduli.
"Sudahlah cepat naik ke punggung ku" tanpa banyak bertanya Lei Tian menawarkan punggungnya.
"Apakah ini tidak berlebihan?" ucap Shui Niao yang kini berubah menjadi ragu.
Di masa lalu tidak ada lelaki yang berani menggodanya, apalagi sampai sedekat ini.
"Ya sudah, lebih baik kau berjalan saja dan tidak perlu berkeluh kesah di belakangku" ujar Lei Tian dengan santai dan berlalu pergi.
"Tunggu.." ucap Shui Niao memanggil Lei Tian yang sudah membalikkan badannya.
Ada rasa penyesalan dengan sikapnya barusan, ia tidak menyangka jika Lei Tian memang tulus mau menolongnya bukan karena ingin memanfaatkan keadaan.
Namun Lei Tian tidak menghiraukan suara dari Shui Niao, ia tetap berjalan dengan santai menuju arah paviliun murid dalam. Sementara tubuh Kang Tao Gwe dibiarkan tak sadarkan diri, meski tidak meninggal namun sudah dipastikan jika ia akan kehilangan basis kultivasinya.
__ADS_1
"Bisakah kau lebih lembut terhadap wanita?" tanya Shui Niao yang kini berjalan tertatih.
"Sejak kapan nona besar sepertimu menjadi manja? Bukankah kau itu orang yang dingin dan kejam?" tanya Lei Tian sambil membalikkan badan.
"Ka.. Kamu" ucap Shui Niao dengan geram.
"Sudahlah, ayo kita segera lanjutkan perjalanan. Aku terlalu malas meladeni wanita manja seperti mu" ucap Lei Tian.
"Apa? Aku manja?" ucap Shui Niao dengan tidak percaya.
Namun seperti sebelumnya, Lei Tian tidak menghiraukan sama sekali setiap keluhan yang disampaikan oleh Shui Niao. Sebagai seorang kultivator, Lei Tian tidak mau terjebak dengan masalah kehidupan yang berbau dengan percintaan.
Ia masih ingin mengejar cita-cita dan harapan ayahnya, Klan Lei yang menurutnya harus segera ia sambangi dan luruskan apa yang selama ini telah dirampas.
Tidak lama kemudian, Lei Tian dan Shui Niao akhirnya tiba di dekat pelataran murid dalam. Meskipun Shui Niao terlihat kepayahan, Lei Tian hanya tersenyum dan berkata.
"Apa yang seharusnya kulakukan sudah kulakukan, di masa depan ku harap kita tidak saling mengungkit apa yang telah terjadi. Berhati-hatilah dan jaga dirimu"
Setelah mengatakan hal tersebut tubuh Lei Tian kemudian memudar menjadi beberapa bayangan semu. Setelah selesai berkultivasi Lei Tian merasa teknik yang ia pelajari pun terus meningkat, ia juga sengaja memperlihatkan tekniknya kepada Shui Niao.
Selain Lei Tian, Shui Niao juga mempelajari teknik tubuh ilusi. Ia berharap Shui Niao sedikit mendapatkan pencerahan, ia juga ingin menunjukkan jika teknik tubuh ilusi bisa mengalami transformasi kekuatan yang mengerikan.
"Aku selalu berpikir jika aku adalah orang yang jenius, namun dihadapkan dengan dirinya aku hanyalah orang bodoh yang sedang membanggakan sesuatu yang tidak bisa aku kuasai" gumam Shui Niao sesaat kepergian Lei Tian.
Sementara itu, Kang Tao Gwe yang mulai sadar dari pingsannya masih merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia mencoba mengingat beberapa kejadian sebelumnya dan mencoba memperhatikan sekitarnya, ia mencari sosok Lei Tian yang kini sudah tiada.
"Aku harus melaporkan hal ini kepada guru, anak itu pasti dihukum berat" gumam Kang Tao Gwe.
Dengan usaha yang sangat keras, Kang Tao Gwe mencoba bangkit dan berusaha berjalan meskipun beberapa kali terhuyung dan terjatuh. Ia ingin segera melaporkan peristiwa yang ia alami agar Lei Tian benar-benar dihukum dengan perbuatan-perbuatan yang setimpal yaitu dimusnahkan juga kultivasinya.
__ADS_1