
Liu Shuai tidak menghiraukan perkataan ayahnya, dengan tenang ia meninggalkan ruang tengah menuju kamar pribadinya. Liu Shuai menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan ia bawa untuk kembali ke Sekte.
Setelah dirasa cukup, Liu Shuai segera kembali menemui ayahnya, dan berkata.
"Ayah, sekarang aku mau kembali ke Sekte. Apa yang menjadi beban dalam pikiran ku kini sudah terlepas" ucap Liu Shuai dengan tenang.
"Ya sudah, jika itu yang terbaik menurut kalian maka kami yang tua hanya bisa mengalah. Namun perlu kau tahu jika suatu saat kamu akan bisa mengerti tentang apa yang pernah ayah utarakan sebelumnya" ucap Patriark Liu yang masih memendam kekesalan.
Pada saat ini Patriark Liu tidak dapat menyalahkan Lei Tian, ia yakin semua ini berawal dari keinginan putrinya yang sejak dulu menolak pertunangan dengan putra Patriark Klan Lei. Sebagai seorang ayah ia tentu mempedulikan masa depan anaknya, namun ia juga berada dalam posisi yang sulit jika dibenturkan dengan perasaan putrinya tersebut.
Setelah berpamitan, Liu Shuai berjalan ke luar rumah, ia melangkah cepat menuju kereta kuda yang akan mengantarnya kembali ke Sekte Pedang Emas. Dalam hatinya ia merasa sangat gembira atas putusnya pertunangan yang baru saja ia terima, membayangkan seorang pemuda lemah seperti Lei Tian membuat dirinya merasa jijik. Namun andai saja ia mengetahui kenyataan sebenarnya, sudah dipastikan ia akan menyesal sepanjang hidupnya.
Di dalam rumah makan, Lei Tian justru tampak lebih tenang dari sebelumnya. Raut bahagia terpancar secara alami dari wajahnya yang memang terlihat tampan. Dengan balutan pakaian berwarna biru muda ditambah dengan senyumnya yang khas membuat daya pikat tersendiri. Bahkan Liu Shuwan yang sedari tadi memperhatikan gelagat Lei Tian, ia sedikit merasa heran.
"Mengapa kamu tidak merasa sedih setelah berakhirnya pertunanganmu" tanya Liu Shuwan.
"Untuk apa dibawa sedih, bukankah itu keinginan Nona Liu Shuai? Dan lagi mana mungkin aku menjalin hubungan di atas dasar keterpaksaan, lebih baik melepasnya dan membuatnya bahagia dengan mewujudkan keinginan dirinya" jawab Lei Tian dengan tenang.
"Lalu bagaimana pertanggungjawaban dirimu terhadap mendiang ayahmu?" tanya Liu Shuwan lagi.
"Justru aku akan merasa malu kepada mendiang ayahku jika sampai menikahi wanita seperti itu" jawab Lei Tian.
"Maksudmu?" tanya Liu Shuwan penasaran.
"Sudahlah, aku tidak mau membahas sesuatu yang tidak penting. Ke depannya aku hanya akan menjaga hubungan baik dengan keluarga Liu kalian" jawab Lei Tian sambil tersenyum.
"Pelayan" ucap Lei Tian memanggil pelayan yang melayani.
__ADS_1
"Berapa semuanya?" tanya Lei Tian sambil mengeluarkan dua tael emas dari dalam cincin penyimpanannya.
"Ini terlalu banyak Tuan" ucap pelayan tersebut yang belum selesai menghitung.
"Ambil sisanya dan terimakasih" kata Lei Tian sambil bangkit dari tempat duduknya.
Liu Shuwan yang menyaksikan hal ini cukup terkejut dengan sikap Lei Tian yang tampak berbeda dengan sebelumnya.
"Apakah kamu masih mau aku temani jalan-jalan di pusat Kota? tanya Liu Shuwan.
"Tentu saja aku mau, kebetulan aku ingin mencari sebilah pedang untuk belajar" ucap Lei Tian dengan senang.
"Baiklah jika begitu, aku akan mengantarmu ke Paviliun Ungu" ucap Liu Shuwan.
"Paviliun Ungu?" tanya Lei Tian sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Apakah kamu tertarik dengan seni beladiri?" tanya Liu Shuwan.
"Ya, tentu saja. Hanya saja aku belum terbiasa dengan pedang, mungkin aku akan butuh masukan darimu" ucap Lei Tian jujur.
"Baiklah, mari kita jalan lurus saja" ujar Liu Shuwan sambil menunjukkan arah.
Selama beberapa saat berjalan di keramaian kota Chengdu, Lei Tian ditemani oleh Liu Shuwan. Sebagai sepupu dari Liu Shuai, ia menggantikan dirinya untuk menemani Lei Tian. Meski mulanya Lei Tian sedikit tersinggung, namun melihat sikap Liu Shuwan yang ceria dan sopan membuat Lei Tian merasa nyaman berteman dengan sepupu Liu Shuai tersebut.
Tidak lama kemudian mereka tiba di tempat yang mereka tuju, sebuah bangunan menyerupai Paviliun mewah menyambut mereka dengan terbuka. Setelah menunjukan identitasnya sebagai Keluarga Liu, Liu Shuwan bersama Lei Tian segera memasuki bangunan yang terdiri dari tiga lantai tersebut.
Lei Tian memasuki lantai pertama yang berisi aneka senjata, koleksi pedang merupakan jenis senjata yang paling banyak dimiliki oleh Paviliun Ungu. Liu Shuwan sedikit heran dengan sikap Lei Tian yang sangat tertarik dengan senjata, hal ini didasarkan atas basis kultivasi Lei Tian yang tidak tampak sama sekali.
__ADS_1
"Sepertinya pemuda tersebut menyimpan rahasia yang tidak sederhana" gumam Liu Shuwan yang mulai penasaran.
Setelah berkeliling selama beberapa saat, Lei Tian tidak mendapatkan senjata yang ia inginkan. Meskipun banyak koleksi yang bagus, namun hatinya belum menemukan yang cocok.
"Shuwan, apakah masih ada tempat lain yang memiliki koleksi lebih lengkap dan berkualitas tinggi?" tanya Lei Tian kepada Liu Shuwan.
"Tentu, mari ikut aku" ucap Liu Shuwan sambil melangkah menuju lantai dua.
Tanpa Liu Shuwan sadari beberapa orang pengunjung tampak sedang memperhatikannya, namun hal ini juga tidak lepas dari kesadaran Lei Tian yang merasakan niat tidak baik dari beberapa orang yang juga ditujukan kepadanya.
Di lantai dua koleksi pedang terbaik milik Paviliun Ungu terlihat tersusun lebih rapi, beberapa orang pendekar ahli juga terlihat berjaga di beberapa sudut ruangan. Lei Tian memeriksa beberapa koleksi pedang yang kini berada seperti dalam sebuah etalase, pedang-pedang tersebut terlihat begitu gagah dan terkesan elegan.
"Tuan, bisakah anda tunjukkan koleksi terbaik milik Paviliun Ungu?" ucap Lei Tian kepada seorang penjaga.
Penjaga yang merasakan tidak adanya fluktuasi Qi di dalam tubuh Lei Tian memandang dengan serius, lalu berkata.
"Apakah kau tidak sedang bercanda?" tanya penjaga tersebut dengan serius.
Liu Shuwan yang yang mendengar ucapan Lei Tian juga ikut terkejut, ia tidak menduga seorang pemuda biasa sepertinya akan menanyakan koleksi terbaik yang dimiliki oleh Paviliun Ungu.
"Saya serius dengan apa yang saya ucapkan, namun jika tempat ini tidak menyediakannya maka saya akan kembali pulang" ucap Lei Tian dengan nada sedikit meremehkan Paviliun Ungu.
"Aku suka dengan gaya bicaramu anak muda, kuharap kemampuanmu akan bisa kau buktikan. Jika tidak maka aku tidak segan-segan akan mematahkan kedua tanganmu" ucap penjaga tersebut sambil melangkah ke ruangan khusus.
Lei Tian berjalan dengan santai di belakang penjaga tersebut, ia ingin mendapatkan pedang dengan kualitas terbaik untuk ia gunakan saat menuju perbatasan Kekaisaran Qin, peperangan yang akan ia jelang merupakan pembuktian dari seleksi Akademi Kekaisaran yang sudah ia terima sebelumnya.
Liu Shuwan kini ketakutan, ia benar-benar tidak menduga jika Lei Tian bertindak bodoh dengan menyinggung penjaga Paviliun Ungu. Dengan uang yang dimilikinya tentu ia takkan sanggup membantu Lei Tian jika dirinya ingin membeli barang yang menjadi koleksi terbaik Paviliun Ungu.
__ADS_1