Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Berasal Dari Sekte Yang Sama


__ADS_3

"Rupanya senjata itu sudah ada yang memiliki, cepat hubungi para Tetua" ucap seorang lelaki paruh baya kepada temannya.


"Baik" jawab temannya dengan cepat dan segera beranjak pergi.


Mereka adalah orang yang sama yang sebelumnya memperhatikan Liu Shuwan dan juga Lei Tian saat pertama kali tiba di Paviliun Ungu. Mereka adalah bagian dari Sekte Serigala Hitam yang sedang berburu senjata karena kondisi peperangan antara Sekte Serigala Hitam dengan Sekte Pedang Emas tidak bisa dihindarkan lagi.


Menyadari keadaan yang semakin sulit, Lei Tian segera menggunakan teknik tubuh ilusi untuk membagi beberapa kekuatan guna menekan energi pedang yang semakin lama semakin liar. Jika dibiarkan maka bisa dipastikan Paviliun Ungu akan hancur berkeping-keping akibat ledakan energi yang tidak bisa dikendalikan.


"Woosh"


"Woosh"


"Woosh"


Berikutnya tubuh Lei Tian menjadi tiga bentuk serupa, dua diantaranya langsung bergerak dengan cepat bergerak menyentuh pedang yang berada di genggaman tangan tubuh asli Lei Tian.


Dengan bantuan dua tubuh ilusi, kini energi di tubuh utama Lei Tian berputar dengan sangat cepat hingga merangsang pergerakan energi vitalitas yang terdapat pada tanda yang ditinggalkan saat dirinya disambar petir di desa Gunung Batu beberapa tahun silam.


Dengan adanya dorongan yang kuat dari tiga tubuh Lei Tian, energi pedang perlahan ditekan ke titik terendah hingga suhu ruangan mulai stabil dan getaran yang ditimbulkan pedang menjadi hening seperti sediakala.


"Bukankah itu teknik tubuh ilusi Patriark Sekte Belati Merah" ucap Mu Xianji yang tidak dapat menahan keterkejutannya.


Ia mengetahuinya karena di masa lalunya ia juga bagian dari Sekte tersebut, hanya saja kini ia sudah menjalani kehidupan berbisnis melanjutkan usaha keluarganya.


"Apa? Jadi Lei Tian adalah murid Sekte Belati Merah" ucap Liu Shuwan pelan.


Namun dalam hatinya sulit percaya begitu saja, jika hanya seorang murid bagaimana mungkin bisa memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Bahkan di Kota Chengdu saja sudah bisa disejajarkan dengan para Tetua dari Sekte Pedang Emas.


"Ternyata ia telah mengelabui sepupuku dengan begitu sempurna, pantas saja ia mengatakan jika Liu Shuai tidak memenuhi syarat untuk menjadi istrinya di masa depan" gumam Liu Shuwan di dalam hatinya.

__ADS_1


Lei Tian yang sudah bisa mengendalikan kekuatan pedang sepenuhnya, kini bisa menarik napas dengan lega.


"Huh..."


Suara dengus napas panjang Lei Tian terdengar hingga terdengar beberapa meter. Di dahinya tampak butiran keringat dingin yang tidak ia sembunyikan.


"Selamat Tuan muda, anda sangat luar biasa" ucap Mu Xianji sambil melangkah maju.


"Maaf telah membuat kekacauan" ucap Lei Tian dengan tulus.


"Tidak apa-apa Tuan muda, malah saya senang jika pedang tersebut kini sudah ada yang memilikinya. Jika terlalu lama di tempat ini juga saya justru khawatir akan mengundang pihak yang berniat tidak baik" ucap Mu Xianji.


Liu Shuwan yang mulai pulih dari keterkejutannya kini menatap ke arah Lei Tian dengan sejuta kekaguman. Andai dirinya memiliki kesempatan yang sama dengan sepupunya, ia takkan berbuat ceroboh melepaskan lelaki yang memiliki masa depan tidak terbatas tersebut.


"Tuan muda, apakah anda berasal dari Sekte Belati Merah di Provinsi Jianxi?" tanya Mu Xianji dengan penasaran.


"Betul, saya Lei Tian berasal dari sana" jawab Lei Tian yang tidak menyembunyikan identitasnya.


Namun mendengar kata Akademi Kekaisaran membuat Liu Shuwan lagi-lagi hampir muntah darah. Siapapun tahu tentang Akademi Kekaisaran di pusat Ibukota, bahkan Kaisar Qin Lau sendiri yang memilih mereka untuk menjadi bagian Akademi tersebut. Kini Liu Shuwan mengerti mengapa Tuan Mu Xianji begitu menghormati Lei Tian sebelumnya.


"Ngomong-ngomong saya sedikit tertarik dengan nama Tuan Mu, jika saya boleh tahu apa hubungannya dengan Penatua Mu Chen?" tanya Lei Tian yang menyadari adanya kesamaan marga.


"Mu Chen adalah kakak kandung saya" ucap Mu Xianji dengan jujur.


"Owh pantas saja nama depan Tuan sama" ujar Lei Tian.


"Iya benar, ternyata kita adalah orang sendiri. Saya juga berasal dari Sekte Belati Merah, hanya saja demi meneruskan usaha keluarga saya harus mengalah dan menjalankan kegiatan ini sebagai bagian dari jalan hidup" ucap Mu Xianji.


"Ngomong-ngomong mohon maaf jika saya merasa lancang, bukankah cincin yang dikenakan Tuan muda milik kakak saya?" ucap Mu Xianji dengan hati-hati.

__ADS_1


"Owh ini ya.."


Tangan Lei Tian terangkat dan menunjukkan cincin penyimpanannya sambil berkata.


"Sebelumnya telah terjadi kesalahpahaman antara saya dengan Penatua Mu Chen hingga terjadi perkelahian, akibat dari peristiwa tersebut juga Penatua Mu Chen memberikan cincin penyimpanannya sebagai kompensasi"


"Apa?" ucap Mu Xianji dengan sangat terkejut.


Ia jelas mengenal karakter kakaknya yang keras kepala, apalagi dengan kekuatan yang ia miliki seharusnya ia bukanlah orang yang mudah dikalahkan. Melihat kembali ke arah Lei Tian, ada ekspresi rumit di dalam hati Mu Xianji.


"Tuan Mu, berapa harga pedang ini?" tanya Lei Tian yang belum menyelesaikan transaksinya.


"I.. Itu tidak usah Tuan muda" jawab Mu Xianji dengan tergagap.


"Bagaimana bisa begitu, ini adalah bisnis jangan sampai Tuan merugi" ucap Lei Tian sambil mengeluarkan ribuan batu roh dari dalam cincin penyimpanannya.


Meskipun ia juga memiliki banyak emas batangan, namun ia cenderung memilih batu roh yang kini sudah tidak terlalu berefek baginya yang sudah berada di ranah Pendekar Dewa.


Melihat ribuan batu roh yang dikeluarkan oleh Lei Tian, lagi-lagi keterkejutan menerpa dirinya. Pemandangan tersebut sangat diminati oleh para kultivator, Liu Shuwan tidak dapat membayangkan jika dirinya memiliki sumberdaya seperti itu.


"Tuan muda, ini terlalu berlebihan" jawab Mu Xianji dengan ekspresi terkejut.


Meskipun Pedang yang berada di tangan Lei Tian adalah barang berkualitas tinggi, namun ia mendapatkannya dengan harga yang tidak terlalu mahal dari seorang pemburu harta karun di makam kuno.


"Terima saja Tuan, benda seperti ini juga tidak berpengaruh banyak terhadap diriku" ucap Lei Tian dengan enteng.


Liu Shuwan yang mendengarnya benar-benar tampak seperti domba dungu, ia tidak mengerti jika benda yang sangat dibutuhkan oleh seorang kultivator dianggap remeh begitu saja. Bahkan di Kota Chengdu keberadaan batu roh sangat tinggi nilainya melebihi harga emas.


"Oh iya Tuan, bisakah anda membantu saya memeriksa sebuah senjata. Saya menerima sebuah belati dari Patriark Sekte sebagai hadiah perjalanan saya ke Ibukota, namun saya belum sempat memeriksanya" ucap Lei Tian dengan polos.

__ADS_1


Dari dalam cincin penyimpanannya Lei Tian mengeluarkan belati merah pemberian Patriark Fang Yuan sebelumnya, dengan santainya Lei Tian memegang belati tersebut yang hendak diberikan kepada Mu Xianji untuk diidentifikasi.


__ADS_2