
Setelah sehari semalam beristirahat kini tubuh Lei Tian mulai membaik, selain mengalami regenerasi sel-sel tubuhnya ia juga mulai merasakan kesadarannya. Luka-luka dalamnya mulai sembuh dengan sendirinya, organ-organ yang semula terluka kini sudah terobati dan memiliki denyut kehidupan.
"Argh"
Rintihan Lei Tian terdengar pelan, mulutnya mulai bergerak dan rasa sakit di sekujur tubuhnya mulai dapat ia rasakan. Ada rasa ngilu yang ia rasakan, sensasi kesemutan di kakinya juga ia rasakan akibat energi vitalitas yang masih bekerja di dalam tubuhnya.
Detik berikutnya ia mulai membuka kedua matanya secara perlahan, menyaksikan cahaya temaram pandangan Lei Tian sedikit kabur.
"Dimana aku?" tanya Lei Tian berucap sendiri.
"Oh, kau sudah sadar rupanya" ucap lelaki yang terlihat sepuh.
Meskipun demikian, ia masih bergerak dengan gesit layaknya kultivator muda pada umumnya. Kulitnya juga masih kencang menandakan ia adalah orang yang terlatih. Hanya rambut dan janggutnya yang sudah memutih, memperlihatkan tampilan usianya yang sudah melewati berbagai zaman.
Lei Tian segera melirik ke arah suara yang terdengar berat tersebut, sepintas Lei Tian melihat seorang kakek tua yang sedang berada di sampingnya.
"Terimakasih" ucap Lei Tian dengan pelan.
Ucapannya sangat singkat namun mengandung ketulusan, ia sangat memahami kondisi tubuhnya yang sebelumnya terluka sangat parah dan ia sudah pasrah jika ajal menjemputnya.
__ADS_1
Lelaki sepuh tersebut tidak menyangka jika pemuda didepannya sudah bisa siuman dalam tempo yang singkat, meskipun pemuda tersebut memiliki tulang Naga setidaknya butuh waktu tiga atau empat hari untuk bisa sadar.
Tanpa berkata lagi, lelaki sepuh tersebut segera beralih menuju salah satu sudut Gua, ia membuat ramuan dari beberapa tanaman herbal yang sudah dikumpulkannya.
Sementara Lei Tian yang masih terbaring lemah, tidak dapat merasakan energi Qi nya. Ada semacam pembatas yang ia rasakan yang membatasi energi Qi nya. Perlahan-lahan ia mulai menggerakkan jari jemarinya untuk merespon syaraf serta otot-ototnya untuk terus bergerak.
Sambil mengatur napasnya, ia mulai menyesuaikan keadaannya, mencoba mengendalikan kekuatan tubuhnya agar bisa lebih selaras.
"Aarrgghh"
Pekik Lei Tian sedikit keras, suaranya mulai terdengar pilu di dalam Gua.
Dengan tekad penuh kebencian dan kemarahan ia mencoba bertahan dan meningkatkan kekuatannya untuk bangkit.
"Jangan dipaksakan, tenagamu masih sangat lemah. Tunggu lah beberapa hari lagi agar benar-benar pulih" ucap lelaki sepuh tersebut sambil menyuapi Lei Tian cairan.
"Buka mulutmu, obat ini akan membantu mu untuk cepat pulih" lanjutnya sambil menyuapi Lei Tian secara perlahan.
Lei Tian tidak menolak perlakuan lelaki sepuh tersebut, ia tahu jika saat ini ia sedang diobati. Jika orang tersebut berniat tidak baik, maka sejak awal Lei Tian tidak akan diselamatkan hingga seperti sekarang ini ia berada.
__ADS_1
Rasa pahit dari ramuan yang kini masuk ke dalam tenggorokannya begitu kuat terasa, namun Lei Tian tetap menelannya untuk kebaikan dirinya sendiri. Rasa pahit yang ia rasakan tidak berlangsung lama, setelah ia meminum ramuan tersebut ada sensasi rasa hangat yang ia rasakan.
Rasa hangat tersebut membawa energi yang cukup besar, detik berikutnya menciptakan korelasi dengan energi vitalitas yang dimiliki oleh Lei Tian. Setelah proses tersebut, Lei Tian memejamkan mata kembali, ia menenangkan pikirannya, berusaha bersikap lebih menikmati keadaan yang kini menderanya.
Waktu pun berlalu, satu minggu setelah peristiwa peperangan besar di perbatasan Kekaisaran Qin, Klan Lei dan Sekte Belati Merah adalah dua pihak yang sangat dirugikan. Kesedihan juga melanda Zhao Yusi yang sangat terpukul atas berita tersebut, ia yang berada di Akademi Kekaisaran mendengar langsung berita tersebut dari ibunya.
Beberapa hari yang lalu bahkan Zhao Yusi mendatangi Klan Lei bersama dengan beberapa orang murid Sekte Belati Merah, Lin Bao, Khu Ching dan Xiao Han bersama-sama mengunjungi Klan Lei menyampaikan berita tersebut. Meskipun kabar duka telah dibawa terlebih dahulu oleh Gong Dun, namun mereka juga tetap mengabarkan secara pribadi atas izin dari Akademi Kekaisaran.
Shio Mei yang menyadari putrinya mengenal Lei Tian sedikit terkejut, ia tidak mengira jika Lei Tian yang sudah ia bunuh begitu dicintai oleh putrinya tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur, apa yang ia rencanakan harus tetap ia jalankan meskipun harus mengorbankan perasaan putrinya tersebut.
Di kekaisaran Wei sendiri pergerakan Fei Hung sudah pada puncaknya, pemberontakan di Kekaisaran Wei akhirnya pecah. Mosi tidak percaya atas kepemimpinan Kaisar Wei Sheng dimanfaatkan dengan baik oleh Fei Hung.
Selain mendapatkan dukungan dari para pejabat, Fei Hung juga memiliki latar belakang yang tidak sederhana. Salah satu leluhurnya juga merupakan sesepuh pelindung Kekaisaran Wei, jadi tidak sulit bagi Fei Hung dan dan kelompoknya untuk menggulingkan Kaisar Wei hanya satu minggu setelah peperangan besar melawan Kekaisaran Qin.
Hanya saja Shio Mei tidak seperti Fei Hung yang begitu lancar menjalankan rencananya, ia masih butuh rencana tambahan untuk menggulingkan Kaisar Qin Lau yang kini sedang dalam masa jumawa akibat prestasi kemenangan besar atas Kekaisaran Wei. Hal ini juga mengangkat nama Jenderal Shio Mei sebagai pemegang penghargaan tertinggi sekaligus memantapkan namanya sebagai panglima perang wanita yang disegani.
Sementara itu di Sekte Belati Merah kabar kematian Lei Tian begitu menyayat hati, terutama bagi Shui Niao yang selama ini sudah menunggu kepulangan dirinya. Sama halnya seperti Liu Shuwan dan Zhao Yusi, ia merasakan kesedihan mendalam dan rasa kehilangan. Demi mengenang Lei Tian, mereka bertiga berbarengan mengenakan pita berwarna hitam di lengan kirinya, hal ini sebagai tanda berduka mendalam terhadap seorang pria yang sama-sama mereka cintai.
Hanya Patriark Fang Yuan dan Penatua Song Gui yang tidak percaya begitu saja atas berita yang beredar luas di Kekaisaran Qin tersebut, sebelum melihat sendiri jasad Lei Tian mereka menolak keras untuk percaya. Meskipun kedatangan Mu Jiao dan beberapa rekannya membawa pedang spiritual yang digunakan oleh Lei Tian, hal itu tidak mengubah keyakinan Patriark Sekte Fang Yuan.
__ADS_1
Menurut Penatua Song Gui, ia merasakan jika Lei Tian masih hidup. Ia sudah berulang kali dikejutkan dengan Lei Tian, bahkan prestasinya dalam menghancurkan Sekte Serigala Hitam serta pasukan Kekaisaran Wei telah membuat dirinya tidak dapat berkata apa-apa. Kemampuan muridnya tersebut jelas sudah melampaui dirinya, bahkan Patriark Fang Yuan saja yang mendengar tentang penggunaan teknik tubuh ilusi Lei Tian saat di medan pertempuran menjadi diam terpaku, hal tersebut sudah dapat mengkonfirmasi jika Lei Tian bukanlah sosok sederhana yang bisa dianggap meninggal begitu saja.