Legenda Pendekar Abadi

Legenda Pendekar Abadi
Kemunculan Lei Tian


__ADS_3

Malam pun berlalu terasa begitu lambat, terutama orang-orang yang berada di Sekte Pedang Emas yang saat ini tengah berjaga dari ancaman penyerangan. Bagi mereka malam berlalu seperti menghitung waktu mundur, seolah kematian siap menjemput mereka kapan saja. Meskipun belum tentu kalah, namun melihat jumlah pendekar ahli di pihak musuh membuat para murid merasa frustasi.


Keesokan paginya saat matahari belum menampakkan sinarnya, sosok Lei Tian dan Mu Xianji sudah bergerak menuju Sekte Pedang Emas yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari Paviliun Ungu. Mereka berdua ditemani oleh tujuh orang Pendekar Tingkat Langit bergerak dengan senyap, dalam perjalanan mereka juga sudah melihat ribuan orang dengan seragam hitam bergerak menuju arah yang sama.


"Tuan muda, sepertinya kita belum terlambat" ucap Mu Xianji kepada Lei Tian.


"Sepertinya demikian, tetapi kita tetap harus waspada dan memantau pergerakan mereka" sahut Lei Tian sambil menyaksikan iring-iringan kelompok murid Serigala Hitam.


"Tuan Mu, siapa yang mengenakan seragam merah darah itu?" tanya Lei Tian penasaran.


"Mereka berasal dari Sekte Gagak Iblis, sekutu dari Sekte Serigala Hitam" jawab Mu Xianji dengan lugas.


"Owh menarik.. Sepertinya akan terjadi pertumpahan darah yang luar biasa. Aku sudah tidak sabar menghancurkan mereka para Sekte sesat" ujar Lei Tian dengan tetap tenang.


"Tuan muda, apakah kita akan langsung bergerak atau menunggu pertarungan terbuka dimulai" tanya Mu Xianji.


"Sebaiknya kita bersiap saja, biarkan para petinggi Sekte Pedang Emas yang melakukan negosiasi. Jika terjadi pertempuran maka kita akan membantu pihak Sekte Pedang Emas, jangan sampai memakan korban jiwa dari pihak Sekte Pedang Emas" ujar Lei Tian sambil memegang dagunya.


"Baiklah Tuan muda, sementara aku akan memantau" jawab Mu Xianji dengan hormat.


Kedatangan ribuan murid Sekte Serigala Hitam dan juga sekutunya telah membuat seluruh warga Kota Chengdu ketakutan. Berita tentang penyerangan Sekte Pedang Emas oleh Sekte Serigala Hitam kini bukanlah kabar burung, dengan mata kepala mereka sendiri melihat kehadiran kekuatan Sekte sesat yang begitu dominan.


Di pagi hari yang semestinya dihiasi suara kicauan burung, kini digantikan oleh pekikan dan yel-yel penuh semangat terdengar menggema di jalan utama Kota Chengdu. Dalam beberapa kesempatan tidak sedikit bangunan dan fasilitas umum yang dirusak oleh orang-orang Sekte Serigala Hitam.


Setibanya di depan gerbang Sekte Pedang Emas, mereka berbaris rapi mengelilingi beberapa bagian wilayah Sekte Pedang Emas. Dari dalam Sekte sendiri, ribuan murid Sekte Pedang Emas tidak kalah bersemangatnya menyambut kedatangan orang-orang dari Sekte sesat tersebut.

__ADS_1


Dari pihak Sekte Pedang Emas berdiri seorang Ketua yang berada di ranah Dewa Semesta dan lima orang Penatua yang berada di ranah Pendekar Dewa. Sebagai Sekte besar, enam orang Pendekar Tingkat Dewa merupakan kekuatan yang sangat menakutkan.


Kendati demikian, Sekte Serigala Hitam tidak kalah mencengangkan, Patriark Chi Luk Bha yang berada di ranah Pendekar Dewa Semesta juga membawa sepuluh orang Tetua utama yang memiliki sepuluh orang Pendekar Dewa. Bahkan dengan bantuan Sekte Gagak Iblis, kekuatan lapis kedua mereka terdiri atas sepuluh orang Pendekar Tingkat Langit dan meratanya beberapa pendekar kelas menengah.


Ketua Sekte Pedang Emas yang bernama Bho Chah, memicingkan matanya saat melihat barisan kekuatan yang tidak seimbang. Dalam hatinya ia mulai merasakan rasa putus asa jika pertempuran ini tetap berlangsung.


Seperti peperangan pada umumnya, para petinggi Sekte yang mewakili kekuatan dan kekuasaan segera maju ke depan. Patriark Sekte Serigala Hitam, Chi Luk Bha dan sepuluh orang Tetua utama berdiri dengan tatapan dingin.


Kini kedua belah pihak tengah berdiri di antara dua sisi yang berbeda. Di depan Gerbang Sekte Pedang Emas terdapat sebuah tanah lapang yang ukurannya cukup luas, lokasi ini akan dijadikan medan pertempuran untuk menahan Sekte sesat agar tidak bisa masuk ke Sekte Pedang Emas.


"Hari ini kami akan membumihanguskan Sekte kalian, keberadaan kalian hanya menghambat perkembangan kekuatan kami untuk menguasai Ibukota Sichuan" ucap Patriark Chi Luk Bha.


Sementara dari pihak Sekte Pedang Emas, Patriark Bho Chah maju dengan aura Pendekar Dewa Semesta yang penuh penekanan, sementara lima orang Penatua berdiri di belakangnya.


"Itu hanya dalam mimpimu saja" ucap Patriark Bho Chah.


Wajah Bho Chah berubah menjadi jelek mendengar ucapan Chi Luk Bha, meskipun peluang menangnya tipis namun Patriark Bho Chah akan bertarung hingga napas terakhir.


Lei Tian yang mengamati dari jarak aman mulai terusik dengan ketegangan yang terpantik begitu saja. Khawatir terjadi serbuan dari pihak murid-murid, Lei Tian mulai memfokuskan perhatiannya ke beberapa titik.


"Tuan Mu, kamu dan anak buahmu cukup urus orang-orang dari Sekte Gagak Iblis yang memakai seragam merah. Jika sudah selesai, kau hanya perlu mencegah serangan terbuka dari para murid Sekte sesat tersebut" ucap Lei Tian mulai memberi arahan.


"Baik Tuan muda, lalu apakah ini tidak berbahaya bagimu?" tanya Mu Xianji dengan nada khawatir.


"Tuan Mu tidak perlu mengkhawatirkan diriku, aku masih bisa bertahan dalam menghadapi para Tetua dari Sekte Serigala Hitam. Sementara pertarungan utama akan terjadi diantara dua pimpinan Sekte tersebut" jawab Lei Tian dengan tentang.

__ADS_1


"Berhati-hatilah Tuan muda" ucap Mu Xianji sambil melompat dengan lincah ke barisan Patriark Bho Chah.


Tujuh orang Pendekar Tingkat Langit ikut mendampingi Mu Xianji dengan pedang tergantung di pinggang, mereka terlihat seperti pengawal profesional yang bersiap untuk berperang.


"Owh Tuan Mu Xianji, aku sangat berterimakasih atas kehadiranmu" ucap Patriark Bho Chah dengan ekspresi terkejut bercampur senang.


Sementara di barisan murid Sekte Pedang Emas merasa sangat gembira dengan adanya bantuan dari pihak lain. Beberapa orang banyak yang mengenal Mu Xianji dengan pakaian khasnya yang merupakan identitas Paviliun Ungu.


"Akhirnya masih ada yang peduli dengan keselamatan kami" gumam Liu Shuai yang kebetulan berada di barisan depan.


Sebagai murid Sekte ia memiliki tugas sebagai kelompok formasi serangan berpedang, sebelumnya ia berdiri dengan rasa was-was. Namun dengan kedatangan pemilik Paviliun Ungu tersebut secercah harapan kembali muncul.


"Jangan sungkan Patriark, kami sudah pasti hadir. Apalagi Tuan muda kami sudah memberikan pengaturan" jawab Mu Xianji sambil tersenyum ringan.


"Siapa Tuan muda kalian" tanya Patriark Bho Chah dengan nada heran.


Detik selanjutnya giliran Lei Tian yang tiba dengan pedang spiritual yang menggantung di punggung. Pemuda tanpa fluktuasi Qi tersebut hadir di tengah-tengah tokoh penting, lalu berjalan dengan santai mendekati Mu Xianji.


"Siapa pemuda itu?"


"Apakah ia bagian dari Paviliun Ungu?"


"Apa yang dilakukan oleh pemuda tersebut?"


Berbagai pertanyaan muncul di benak banyak orang, bahkan para Penatua Sekte Pedang Emas mengerutkan keningnya melihat pemandangan yang tidak biasa ini.

__ADS_1


Dari banyaknya kebingungan yang menghantui perasaan orang-orang, hanya Liu Shuai yang saat ini terbelalak tidak percaya. Pemuda yang kemarin masih menjadi tunangannya kini berdiri diantara tokoh yang tidak bisa ia dekati dengan mudah.


__ADS_2